Prolog Dari Ibnu Abbas r.a, berkata: bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: ” Para wanita penghuni surga setelah Maryam adalah Fatimah binti Muhammad, Siti Khadijah binti Khuwailid, dan Siti Asiah istri Fir’aun.” (H.R Ahmad) Bersabda Rasulullah SAW: “Wahai Khadijah, ini malaikat Jibril telah datang dan menyuruhku untuk menyampaikan salam
JudulBuku : Download Koleksi The Greatest Women Karya Sibel Eraslan. Sibel Eraslan merupakan penulis asal Turki yang pandai menuliskan sejarah dalam kemasan yang asik untuk dibaca. Series novelnya yang terkenal dan menjadi best seller adalah mengenai 4 wanita penghuni Surga yaitu Fatimah, Khadijah, Asiyah dan Maryam.
Padatahun 1977, Dr. Gary Miller, seorang pendeta/Misionaris dan dosen matematika dan logika di Universitas Toronto, bermaksud berbuat sesuatu untuk agama Kristen dengan cara mengekspos sejarah dan kesalahan ilmiah di dalam Al-Quran sedemikian rupa agar dapat bermanfaat baginya dan bagi sesama pengkhotbah lainnya dalam upaya mereka menyeru umat Islam untuk beralih
Strategipembelajaran dimensi dakwah dalam novel Maryam Bunda Suci Sang Nabi karya Sibel Eraslan dirancang sebagai bahan pembelajaran untuk peserta didik tingkat Madrasah Aliyah kelas XII semester genap dengan Kompetensi Dasar 3.3 menganalisis teks novel baik secara lisan maupun tulisan. Kata kunci: dimensi dakwah, novel, strategi pembelajaran.
Khadijahmempunyai kedudukan yang istimewa di hati Rasulullah. daripada istri-istri beliau yang lain dan meskipun sesudah meninggal. dunia Khadijah dicemburui oleh Aisyah r.a. Perkawinan antara Khadijah dengan Rasulullah SAW membawa ke akhir. hayatnya, pada masa itu Khadijah sudah berusia 65 tahun sedangkan.
ProsesParthenogenese sendiri bermakna, membesarnya bayi dalam kandungan sang ibu di luar hukum alam manusia. Telur (ovum) dari ibunya tidak memerlukan bertemu dengan spermatozoa bapak untuk membentuk suatu embrio yang kemudian menjadi bayi (Sumber : BUNDA MARIA versus MARYAM).
menyindirumat Islam yang senang memuji dan menyanjung Rasulullah Saw. dengan sebutan “Abdun-Nabi” (hamba Nabi) yang mengesankan bahwa para penyanjung Rasulullah Saw. benar-benar telah menyembah beliau alias melakukan syirik (lihat Tafsir Seper Sepuluh Dari Al-Qur’an Al-Karim, hal. 95, buku ajaran Wahabi yang dibagikan Cuma-Cuma).
bermain Rasulullah SAW pun telah memberikan contoh dalam hal illi, Bunda. Diriwayatkan, pada suatu hari Nabi memimpin sembahyang herjemaah. Waktu itu datanglah llasan dan llusain, cucu-cuCt1 beliau. Sewaktu Rasulullah kedángsuiud, keduanya menaiki punggung heliau, (Ian Nabi memperpnnjnng sujud sampai keduá cucu terSebut turun dari punggung.
MARYAM- BUNDA SUCI SANG NABI di Tokopedia ∙ Promo Pengguna Baru ∙ Cicilan 0% ∙ Kurir Instan.
RajutUkhuwah Bersama Menuju Surga. Buletin bulanan Edisi 12, April 2013. - م2013 أبريل- 12 العدد. Menunggu Si Buah Hati. Yang tak kunjung datang Menjadi ayah juara Memahami ngidam pada ibu hamil Tips menjaga kesehatan ibu hamil. Kehamilan adalah sebuah keajaiban. Di sana banyak terdapat tanda-tanda kekuasaan
Surah2,228). Berhadapan dengan wanita, seorang pria memiliki kekuasaan dan tanggungjawab lebih: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebahagian dari harta mereka.” (Surah 4,34).
Danadakalanya Kristen Zaman Sekarang tidak menyadari agama terjadi pertumpahan darah. Kristen yang dipeluk sudah tidak lagi asli. Sebelum menyatakan dirinya sebagai seorang Rasul, Paulus tanpa menyadari sedikitpun adalah sebagai penganut Dengan mengetahui hukum-hukum agama Tuhan Bapa Torat yang sudah tidak lagi asli.
SuratMaryam dan keutamaannya. Foto: iStock. Surat Maryam merupakan surat ke-19 dalam Al Qur'an. Surat yang terdiri dari 98 ayat ini termasuk golongan surat-surat Makkiyah sebab diturunkan pada periode Makkah, sebelum Nabi Muhammad hijrah ke Madinah. Di kalangan masyarakat Islam di Indonesia, Surat Maryam sering dibaca oleh muslimah yang lagi
Saatayahanda Muhammad yang mulia ini Wafat dalam usia 20 tahun (riwayat lain – 17 tahun), sang bintang kita ini sedang berada dalam kandungan ibunya, beberapa tahun kemudian Bunda Sang bintang menyusul suaminya dan dimakamkan di Abwa juga. Muhammad dibawa pulang oleh Ummu Aiman dan diasuh oleh kakeknya, belum lagi hilang duka setelah
SejarahHidup Nabi Muhammad ~ Husain Haekal ; Titik Hening ~ J. Sudrijanta ; Capita Selecta 2 ~ M. Natsir (Download) Capita Selecta 1 Maryam "Bunda Suci Sang Nabi" ~ Sibel Eraslan ; Perempuan yang Menggetarkan Surga ~ Haris Priyatna ; Hati yang Bertasbih ~ Garina Adelia Harta Pusaka Cinta
THejHHP. Tuhan. Bahkan, ia sendiri telah membenahi pakaian dan perbekalan yang telah disiapkan untuknya. Maryam juga meletakkan pita pengikat rambutnya ke dalam kantong perbekalannya, meski kemudian diambil kembali. “Aku tidak mungkin bisa mengikat rambutku sendiri dengan pita ini. Biarlah pita ini untukmu saja, Merzangus.” Sambil tersenyum, Maryam mengulurkan pita pengikat rambut itu. Merzangus pun tak kuasa menahan tangis. Ia pun menunduk untuk mendekap Maryam erat-erat selama beberapa saat. Setelah agak lama, Merzangus akhirnya sadar. “Tunggu. Biar aku rias rambutmu dengan pita ini.” Merzangus menyisiri dan membelai rambut Maryam yang hitam, panjang, berkilau, serta menyemerbakkan wangi mawar sambil melantunkan puji-pujian. -o0o- Hari itu adalah malam pertama bagi Maryam tinggal seorang diri di Baitul Maqdis. Tidak ada orang yang tahu kedatangannya selain Nabi Zakaria dan beberapa rahib. Meski tak diberi informasi, Mosye akhirnya mengetahui pula. Entah dapat bocoran dari mana. Setelah menempatkan Maryam yang masih kecil di dalam Baitul Maqdis dalam suatu ruangan di sebelah selatan, Nabi Zakaria pun meninggalkannya untuk kembali ke rumah. Sayang, semua orang tidak tahu saat Mosye bersama dengan para rahib pendukungnya telah menyusun serangkaian rencana jahat untuk menghalang-halangi Maryam menetap di Baitul Maqdis. 142Sementara itu, kedua singa dan ketiga ular milik pawang dari Magribi yang bernama Muhsin Ibni Siraj telah disita. Alasannya, pertunjukan itu tanpa izin. Dengan perintah Mosye, singa dan ular itu dimasukkan ke dalam gudang kosong di dalam Baitul Maqdis bersama gerobak dan kerangkengnya. Pada malam itu, tiga orang tak dikenal masuk ke dalam gudang tempat singa dan ular-ular itu disimpan. Mereka akan menjalankan rencana jahat kepada Maryam dengan melepaskan singa dan ular itu ke dalam kamarnya. Sebuah rencana pembunuhan yang begitu keji di hari pertama kedatangan Maryam di Baitul Maqdis. Setelah menyusupkan singa dan ular lewat pintu rahasia yang sedikit terbuka, ketiga pelaku kejahatan itu dengan cepat meninggalkan tempat. Padahal, malam itu Maryam tidak sendirian. Ia bersama dengan Zat yang mencipta dan senantiasa melindunginya. Dia tidak lain adalah Allah yang selalu menyertainya. Allah pula yang telah membuat Maryam diterima dengan baik oleh semua orang. Atas perlindungan-Nya, singa dan ular itu bukan ancaman bagi Maryam. Mereka justru sebuah hadiah yang akan menjadi teman dekat bagi putri Imran itu. Benarlah, begitu melihat keberadaan hewan-hewan itu, Maryam langsung mendekati dan berbicara dengan mereka. “Apa kabar wahai singa! Selamat datang wahai ular sahabatku!” demikian sambut Maryam kepada mereka. 143Mendapati sambutan yang begitu hangat, kedua singa itu langsung berjalan mendekati Maryam. Singa-singa itu pun langsung bersimpuh di depan Maryam. Dengan izin Allah, keduanya mulai bercerita kepada Maryam tentang apa yang selama ini mereka rasakan. Mereka mencintai Ibni Siraj, namun sangat pedih dengan perintah melakukan berbagai adegan untuk dipertontonkan di depan orang. Keduanya selalu menanti-nantikan hari saat diberikan waktu untuk membalas perlakuan orang-orang yang mengejeknya saat rantai dilepas dari lehernya. Saat mendengarkan cerita ini, Maryam membelai kedua punggung mereka dengan tangannya yang begitu lembut penuh perhatian. Sementara itu, ketiga ular juga mendapat giliran untuk bercerita. Mereka rupanya sangat rindu dengan induknya. Mereka juga merasakan betapa sulit hidup dalam habitat dan iklim yang sangat berbeda. Belum lagi rasa bosan dan jenuh dengan keramaian manusia. Para ular itu juga bercerita tentang kisah pedih saat mereka masih kecil. Gigi taring mereka dicabut guru Ibni Siraj yang bernama Mahrengiz. Sebenarnya, ketiga ular itu bukan seperti yang disangka atau sudah tidak lagi berbisa. Jika mau, ketiga ular itu masih memiliki rahasia yang lebih berbahaya daripada bisa. Sekali cambuk dengan ujung ekornya, seseorang bisa langsung tewas. Ketiga ular itu menuturkan hal ini kepada Maryam dengan penuh kebanggaan dan rasa hormat. Maryam pun tersenyum manis dan menutup bibirnya dengan jari telunjuk. “Janganlah bersedih, wahai sahabatku! Sungguh, Allah adalah Pelindung bagi kita semua,” kata Maryam “Engkau juga jangan pernah khawatir. Kami tidak akan pernah melukaimu, wahai wanita kecil yang mulia!” kata mereka. 144“Meski kami dimasukkan ke dalam ruangan ini untuk menjebakmu, ketahuilah bahwa kami adalah makhluk yang taat kepada perintah Allah.” Mereka semua akhirnya tertidur.... Saat waktu subuh hampir tiba, Nabi Zakaria yang pertama kali membuka pintu Batul Maqdis tentu saja kaget. Maryam tampak sedang tidur lelap di antara singa dan ular. Bahkan, mereka sama sekali tidak mendengar suara keterkejutan Nabi Zakaria. Seolah-olah Allah menginginkan orang-orang menyaksikannya. Nabi Zakaria pun mengumpulkan semua petugas dan orang-orang yang menentangnya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sambil mengangkat tongkat kayunya, Zakaria berteriak keras meminta pertanggungjawaban dari mereka. “Perbuatan macam apa ini wahai para rahib Masjid al- Aqsa yang suci? Bagaimana mungkin Anda sekalian tega melepaskan singa dan ular-ular berbisa kepada seorang anak yang telah diamanahkan kepada masjid suci ini di malam pertamanya!? Perbuatan macam apa ini, wahai para saudaraku? Maryam adalah anak yang lahir dari garis keturunan kalian juga. Ia adalah kerabat kalian sendiri. Apalagi, dia yatim piatu. Seperti inikah kalian memperlakukan seorang yang telah diamanahkan? Untuk itu, sebagai walinya, aku menginginkan segera digelar penyelidikan dan persidangan! Sejak kapan Masjid al-Aqsa telah menjadi tempat pertumpahan darah? Kalau tidak, aku akan mengambil kembali anak ini sehingga kalian tidak akan bisa menjelaskan tindak kriminal ini kepada siapa pun. Kalian pun tidak akan keluar menemui warga. Aku peringatkan kalian semua!” 145Lidah para petugas seolah-olah terkunci. Mereka hanya mampu mengatakan, “Hewan-hewan ini.... Hewan-hewan ini milik seorang pawang dari Magribi yang kami tahan kemarin siang.” Mereka pun segera menjemput Ibni Siraj untuk dibawa ke samping hewan peliharaannya. Setelah susah payah menaikkan kedua singanya yang masih tidur lelap ke atas kereta, Ibni Siraj merangkak memohon ampun dari para rahib. Ia juga bersumpah bahwa kejadian ini di luar tanggung jawabnya. Nabi Zakaria lalu menyela pembicaraan mereka. “Bukankah kedua tangan orang ini dirantai saat datang? Dikunci? Baru saja kalian yang membuka kuncinya. Sekarang, kalian menyalahkannya. Yang sebenarnya terjadi adalah kalian telah memitnah orang yang tidak bersalah!” Setelah diseret dengan paksa keluar masjid, Ibni Siraj diperingatkan untuk segera meninggalkan kota pada pagi hari itu juga. Setelah kejadian itu, Nabi Zakaria segera mengambil langkah mengamankan Maryam dengan lebih ketat. Tentu saja Maryam tidak mungkin kembali ke rumahnya. Zakaria tidak mungkin bisa melakukannya. Maryam adalah seorang yang telah dikurbankan. Demi menunaikan janji yang telah diucapkan orangtuanya, satu-satunya cara yang dapat dilakukan Nabi Zakaria adalah melakukan langkah pengamanan dengan lebih serius. Nabi Zakaria kemudian membangun mihrab setinggi tujuh tingkat tataran tangga dengan tujuh lapis pintu di sebelah timur Baitul Maqdis. Ia dibantu keponakannya yang bernama Yusuf. Zakaria bahkan ikut membantu mengangkat batu 146untuk fondasi. Selain Yusuf, semua orang yang mencintai Nabi Zakaria juga ikut membantu. Bahkan, di antara para rahib ada yang menghampirinya untuk membersihkan perasaan bersalah terhadap Maryam. Ketika kejadian ini sampai ke telinga al-Isya dan Merzangus, keduanya marah, meradang sejadi-jadinya. Bahkan, Nabi Zakaria harus susah-payah menenangkan keduanya. Al- Isya menangis tanpa bisa berhenti, sementara Merzangus segera mengasah pedang Zahter. Tak sabar Merzangus ingin segera memberi pelajaran kepada orang-orang yang telah berbuat jahat kepada Maryam. Lebih-lebih, saat waktu sudah menjelang tengah malam, tiba-tiba seseorang datang mengetuk pintu. Merzangus dan al-Isya pun semakin tidak bisa menenangkan diri. Dengan membawa lentera yang menyala remang-remang, Nabi Zakaria mendekat ke arah pintu seraya berseru, “ Siapa itu?” Saat itulah terdengar suara lirih dari balik pintu. “Saya, Muhsin Ibni Siraj... Muhsin Trablusi.” Nabi Zakaria belum sempat menjawab apa-apa ketika Merzangus langsung membuka pintu dengan keras sambil mengacungkan kepalan tangan ke arah wajah Ibni Siraj. “Semoga salam dan keselamatan dari Allah tercurah untuk Anda! Mohon perkenankan saya dapat menyampaikan beberapa patah kata?” kata Ibni Siraj sembari menganggukkan kepala untuk memberi salam kepada orang yang ada di dalam rumah. Udara sedingin salju. Bukankah orang ini yang baru saja telah menyebabkan Maryam dalam bahaya pembunuhan? Anehnya, dia bisa berucap salam dengan nama Allah? 147“Orang asing!” kata Nabi Zakaria. “Bukankah pagi tadi singa dan ularmu sudah hampir saja membahayakan putri kami, Maryam?” “Tuan, mohon beri saya sedikit waktu untuk menerangkan yang sebenarnya.” Al-Isya dan Merzangus tidak mengizinkan Ibni Siraj masuk ke dalam rumah. Mereka hanya mengizinkannya duduk di atas matras di pekarangan depan rumah. Setelah duduk berdua dengan Nabi Zakaria, Ibni Siraj pun merendahkan bicaranya Ia bercerita bahwa dirinya adalah putra mahkota Kerajaan Siraj yang telah diluluhlantakkan Romawi. Dia adalah pemeluk agama Hanif yang tidak menyekutukan Allah. Seorang yang tahu dan beriman pada kekuatan dan perintah Sang Pencipta. Beberapa waktu sebelum tanah kelahirannya dihancurkan Romawi, ayahnya yang saat itu menjadi raja telah mengirimkan Ibni Siraj kepada seorang guru bernama Abu Mehrengiz yang hidup di tengah-tengah hutan. Dengan cara seperti itulah ia dapat selamat dari pembantaian. Saat hidup di hutan, sang guru telah berpesan tentang kedatangan seorang nabi dan rasul di dataran al-Quds. Ketika kembali ke kampung halaman, Ibni Siraj menyaksikan semua keluarga dan penduduk kerajaan sudah tidak ada. Mereka dibantai secara massal. Itulah yang membuatnya mengembara ke penjuru dunia bersama dengan hewan-hewan yang telah didik sang guru sebagai warisan untuknya. Abu Mahrengiz memiliki garis keturunan dari ayahnya yang sampai kepada Nabi Sulaiman. Dia juga seorang ahli ilmu dan sangat luas pengalamannya. 148“Hewan-hewan ini telah dididik dengan baik,” kata Ibni Siraj. “Guruku berkata untuk memerhatikan singa dan ular-ular ini. Hewan-hewan ini akan membantuku menemukan cahaya dari Allah. Jika hewan-hewan itu menurut dan mau minum dari tangan seseorang, ketahuilah bahwa nur dari sisi Allah telah ada pada dirinya. Ketika menyaksikan mereka tidur berdampingan dengan wanita kecil itu dengan begitu tenang, saya langsung memahami yang dikatakan guru saya. Seseorang itu adalah putri kecil Anda. Tuan, mohon maafkan diri saya ini. Saya baru saja masuk al-Quds kemarin siang dan mereka langsung menangkap diri ini. Semua hewan piaraan saya juga disita. Setelah itu, saya sama sekali tidak tahu. Saya juga sama sekali tidak tahu siapa yang telah menaruhnya di sana. Namun, bagaimana mungkin hewan-hewan yang semestinya buas itu bisa berdampingan dengan putri Anda dengan begitu jinak. Sepertinya, keadaan ini membenarkan apa yang dikatakan guru saya. Seorang nabi yang akan datang ada pada Maryam putri Anda. Harap Anda mengetahui hal ini. Izinkan diri saya untuk tinggal di kota ini hanya sampai besok pagi. Saya tidak ingin pergi jauh dari tanda yang telah diturunkan ini. Saya akan pergi menuju kota Jalilah. Dari sana, saya akan melanjutkan perjalanan ke Mesir. Saya datang ke sini untuk memohon maaf kepada Anda sekeluarga. Saya pun 149ingin meninggalkan kudaku, Suwat. Kuda ini sangat terlatih. Jika suatu hari Anda sekalian harus meninggalkan kota al- Quds, semoga Suwat dapat mengantar Anda ke tempat saya berada. Tuan, semoga salam dan keselamatan dari Allah senantiasa tercurah untuk Anda!” Pembicaraan yang terjadi dengan suara lirih itu tidak dapat didengar Merzangus dan al-Isya dari dalam. Namun, Nabi Zakaria memberi isyarat untuk menyuguhkan segelas susu. Dengan berat hati, mereka pun menyiapkannya. Setelah meminum air susu yang dihidangkan, Ibni Siraj beranjak meninggalkan rumah. Sesaat sebelumnya, ia mengeluarkan sebuah kipas bulu burung merak dari dalam bajunya. Dengan suara tenang, ia menoleh ke arah Merzangus dan berkata kepadanya dalam bahasa Arab. “Aku tidak akan pernah melupakan Anda, wahai Tuan Putri,” katanya kemudian pergi. Mendengar perkataan itu, Merzangus hanya dapat berkata, “Dasar orang tidak tahu diri!” -o0o- 15017. Penerman yng Bak Maryam kini tinggal di mihrab yang dibuatkan Nabi Zakaria untuknya. Setiap membuka Baitul Maqdis pada waktu pagi dan menutupnya di waktu malam, ia mendapati Maryam sudah selesai menghafalkan semua pelajaran yang diajarkan kepadanya. Bahkan, Maryam juga telah hafal beberapa doa yang belum pernah diajarkannya sekali pun. Pada hal seperti ini, Nabi Zakaria mendapati Maryam selalu berteman dengan para malaikat. Tuhan telah menjadikan Maryam diterima. Ia telah mendidiknya layaknya sebulir biji yang baik. Dan ia juga telah menugaskan Zakaria untuk mendidiknya… Seakan menjawab kekhawatiran Hanna, Allah berirman “Aku telah menciptakannya sebagai seorang perempuan” untuk menguatkan pendiriannya, membuka jalan kepadanya. Dia pula yang telah menjaga dan menghindarkannya dari segala bahaya. Dengan kelahirannya, hati manusia menjadi lembut. Bahkan, orang-orang yang memusuhi orangtuanya pun berlomba untuk mengabdi kepadanya. 151Dialah anak yatim sekaligus piatu. Hanya bibinya yang mengulurkan tangan bantuan untuk mengasuhnya. Memang demikianlah seyogianya, hal yang dititahkan untuk kemuliannya. Orang-orang yang dahulunya memusuhi keluarganya, bahkan sampai tingkat merencanakan pembunuhan, telah berbalik begitu simpati kepadanya. Mereka ingin mengasihi, ingin menjadi orangtua asuhnya. Allah telah menitahkannya sebagai bayi yang diterima semua orang karena memang dia adalah seorang yang dipilih Allah, sosok yang diterima. Meski setiap orang berlomba-lomba untuk mengasuh dan membantunya, sejatinya Maryam tetap seorang yatim piatu. Allah adalah pelindung setiap yatim dan piatu sehingga Allah pula yang menjadi pelindung Maryam. Tidak dimungkiri bahwa Dialah Zat yang Maha Memiliki, Maha Melindungi. Zat yang paling kuat dan paling baik dalam memberi perlindungan. Demikianlah, Maryam telah bersimpuh di haribaan Allah. Demikianlah, Allah telah menjadi Zat Tunggal yang menjadi pelipur laranya. Zat yang melindungi, membimbing, membesarkan, dengan menyematkan keteguhan untuk menyongsong hari depan. Secara hakikat, Maryam bukan dalam perlindungan siapa-siapa. Allah sendiri yang mendidik dan merawat seperti sepucuk tunas saat kedua orangtuanya telah tiada. Sebagaimana tumbuhan yang akan kuat menancap ke dalam tanah, Maryam juga kuat menancap kepada Tuhannya dalam tauhid. 152Maryam pun tumbuh dalam pilihan Tuhannya, bangkit dalam pendidikan hidayah dari-Nya. Dialah tunas yang begitu mulia, bunga yang tiada duanya; yang butuh perawatan dan pemeliharaan yang hanya bisa dilakukan dengan Tangan-Nya. Sebagaimana tumbuh-tumbuhan menduduki rantai pertama dalam penciptaan, awal dalam menjadi dasar bagi beraneka ragam penciptaan, Maryam juga menjadi “landasan” pertama yang akan menjadi pijakan bagi “Firman Allah”. Saat telah tiba waktunya, ia akan memekar menjadi bunga, kemudian berbuah, seraya teguh menjadi sebatang pohon yang setia memikul buahnya. Sementara itu, Merzangus selalu berkata demikian untuk Maryam. “Dia begitu penyabar, teguh. Seorang yang lahir sebatang kara, demikian pula saat tumbuh dewasa.” Karena itulah para malaikat menjadi teman setianya. Dan hanya Allah semata tempat mencurahkan kesendirian dan kepedihan hati yang melukainya. Ia adalah pohon yang kokoh tinggi menjulang lagi banyak buahnya. Seorang nabi Allah, Zakaria, yang menjadi perawat kebunnya. Tukang kebun yang membimbing, merawat, dan juga menopangnya. -o0o- 15318. Ksah irab Mihrab yang dibangun Nabi Zakaria bersama dengan kemenakannya, Yusuf sang tukang kayu, memiliki tujuh pintu dan tujuh kunci. Di dalam mihrab berlapis tujuh pintu tujuh kunci inilah Maryam menghadap Allah seorang diri. Ada tujuh nama pintu. Pintu pertama al-Aman Dia adalah pintu awal, waktu subuh... Waktu fajar belum terbit... Saat bintang Venus belum tenggelam... Ketika burung-burung sebentar lagi akan bangun... Masa ketika semua orang lelap dalam tidur dan lekat dengan tempat tidurnya... Nabi Zakaria pun membuka ketujuh pintu dengan khusyuk berdoa. Pintu-pintu inilah gerbang utama Baitul Maqdis... Segepok kunci di tangannya. Lafaz basmalah pada lidahnya. Dengan asma Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, Nabi Zakaria membuka semua pintu satu demi 154satu. Inilah bukti kehati-hatiannya. Ia laksana tukang kebun yang sedang merawat tanaman bunga-bunganya. Setelah membuka pintu dengan bacaan basmalah, Zakaria tertegun memandangi arah asrama yang terletak di sebelah timur mihrab, tempat para santri bertempat tinggal. Suara para santri pun terdengar. Sebelum terbit fajar, sebagian santri telah mulai kembali ke asrama. Mereka adalah santri juru tulis dari segala usia. Sebagian mereka telah lelap dalam tidur. Namun, bagaimana halnya dengan Nabi Zakaria? Ia tak pernah tidur. Malam-malamnya lebih terang daripada siang hari. Nabi Zakaria sendiri dalam keheningan malam. Saat orang-orang yang berhati jahat sudah lelap, Nabi Zakaria melewatkan waktu seorang diri. Meskipun ada juga beberapa orang yang benar-benar telah ditempa jiwanya, yaitu yang setia pada ajaran tauhid, jumlah mereka sangat sedikit dibanding jumlah orang-orang jahat. Suara mereka yang baik ini pun terdengar begitu lemah dalam hiruk-pikuk kerusuhan dunia yang sedang melanda. Di luar semua orang ini, ada lebih dari empat ribu santri Nabi Zakaria. Dan di antara mereka ada seorang Maryam. Seorang yang tidak mungkin dibandingkan dengan keempat ribu santri yang telah dikurbankan di jalan Allah, baik dalam ilmu, akhlak, maupun ketakwaan, meskipun mereka semua juga berjuang dengan sekuat tenaga dan pikiran untuk menjadi yang terbaik dalam mengabdi di jalan Allah. Pada pagi menjelang fajar ini kebanyakan dari mereka sedang tidur. Nabi Zakaria, dengan jiwa seorang ayah, berjalan dengan penuh hati-hati. Ia melepaskan terompah kayunya agar tidak menimbulkan suara yang dapat mengganggu para santri itu. Ia akan berjalan pelan sampai tiba di pelataran masjid bagian dalam. Begitulah seorang Zakaria. Ia adalah 155ayah bagi semua orang. Sosok yang dengan lembut hati tidak ingin mengganggu tidur para santrinya karena waktu subuh masih beberapa saat. Apalagi, mereka baru saja menyelesaikan pelajaran yang sangat berat. Di pelataran bagian dalam masjid yang berbentuk segi empat itu ada sembilan puluh sembilan kamar kecil yang melingkari masjid di sebelah barat dan selatan. Di sinilah tempat para santri bertempat tinggal dan menimba ilmu. Sementera itu, di sebelah utara masjid terdapat ruang khusus tempat para guru agung memberikan pelajaran. Sementara itu, aula berkubah suci tempat menyimpan benda-benda peninggalan suci berada di sebelah timur. Wanita sama sekali dilarang memasukinya. Di tempat inilah benda-benda suci, seperti tempat pena, tempat tinta, kaligrai, pena yang terbuat dari berbagai jenis kayu peninggalan Nabi Sulaiman, Daud, Uzair, dan Danial, disimpan. Di sebelah timur laut terdapat perpustakaan besar yang diberi nama “Mutiara dan Marjan”. Masih terdapat ruangan-ruangan kecil di sebelah timur yang bergandengan dengan Kubah Suci, yaitu tempat ujian para haiz yang dibuka saat ujian berlangsung. Ruang ini sangat kecil dan hanya muat satu orang. Tanpa penerangan tanpa jendela. Jumlahnya mencapai empat puluh. Para santri ditempa dalam keadaan gelap dan dilarang menyalakan lentera. Siang hari hanya ditemani cahaya yang remang-remang, sementara di malam hari gelap gulita. Di atas ruang ujian yang mirip dengan bungker inilah seorang santri terpilih, seperti Maryam, tinggal selama empat puluh hari dalam satu tahun untuk menjalani ujian. 156Terdapat pula sebuah mihrab dengan ketinggian tujuh tataran tangga batu marmer. Di situlah Maryam tinggal. Selain Nabi Zakaria, tidak ada orang pun yang boleh membuka pintu mihrab. Namun, ketika Nabi Zakaria sudah begitu lemah karena usia, Yusuf sang tukang kayu sering menyertainya untuk membawa keranjang tempat makanan, pakaian, dan perlengkapan lain. Setiap masuk subuh, Nabi Zakaria selalu membuka pintu berlapis tujuh itu. Saat sore sebelum matahari tenggelam, ia kembali menguncinya dengan tujuh lapis pintu tujuh macam kunci. Dengan membaca basmalah, Nabi Zakaria membuka kunci yang pertama. “Tuhanku, semoga Engkau berkenan melimpahkan keamanan kepada kami. Lapangkanlah hati kami. Tanamkanlah rasa aman di dalam hati kami. Limpahkanlah kepadaku kemampuan dengan jerih payahku untuk melindungi anak yatim yang telah diamanahkan ini. Sungguh, ia adalah mutiara yang selalu memanjatkan zikir dalam rumah cangkangnya. Tuhanku! Engkau adalah Zat Yang Maha Mendengar lagi Mengetahui. Limpahkanlah keamanan kepada kami!” Hati Nabi Zakaria terasa pedih saat berada di depan pintu pertama ini. Ia mengingat dua sahabatnya yang telah pergi ke alam baka dengan hanya selang beberapa hari Hanna dan Imran. Kedua orangtua Maryam yang selama hidup telah menunjukkan kesetiaan yang begitu besar dalam memperjuangkan kebaikan. Dan Maryam adalah berita baik dari langit yang selalu mereka perjuangkan sampai akhir hayatnya. Maryam adalah kenangan, tanda bagi kedua 157orangtuanya, serta cahaya dan nur yang membelah kegelapan malam. Ia juga tanda bahwa kelak akan turun seorang nabi bernama Isa sang Kalamullah. Laksana sungai yang menjadi tanda bahwa lautan ada. Ya, Maryam adalah penantian harapan yang menegangkan. Penantian kebaikan yang senantiasa harus dijaga sedemikian rupa. Harus dilindungi. Lebih-lebih, ia adalah yatim. Seorang yang telah diamanahkan. Begitu terlintas soal amanah, saat itulah tubuh Zakaria yang semakin ringkih karena lanjut usia seolah-olah kian membungkuk karena berat beban amanah yang menindihnya. “Ya Tuhanku!” seru Nabi Zakaria. “Limpahkanlah rasa aman kepada kami sehingga diri ini bisa membesarkannya. Hindarkanlah diriku dari perbuatan mengkhianati, menerjang amanah ini. Berikan kekuatan pada tubuhku yang semakin ringkih. Anugerahkanlah penglihatan kepada kedua mataku yang sudah tidak mampu melihat lagi. Berilah pendengaran pada telingaku yang sudah mulai tuli ini. Curahkanlah kekuatan dan ketangkasan pada kedua tangan ini sehingga mampu bergerak cepat demi keamanan Maryam. Beri aku kesempatan untuk dapat membesarkannya di tempat yang paling aman di Rumah Suci ini sebagai tempat yang paling aman di dunia!” Pintu pertama dibuka Nabi Zakaria dengan doa keamanan. Hal ini menunjukkan bahwa Maryam adalah seorang safiyyah. Orang suci. Inilah nama Maryam pada pintu yang pertama, safiyyah... Dengan benteng pintu pertama, kehidupan Maryam terjaga dalam kesucian. Ia adalah lambang kesucian itu di balik pintu pertama ini. Sosok paling suci di antara semua kaum wanita. 158Seseorang yang telah dikurbankan. Sebagaimana semua kurban, Maryam juga merupakan media untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dengan kesucian, kebersihan, serta perjuangan segenap jiwa dan raganya, Maryam merupakan penunjuk jalan dalam menggapai kasih sayang Allah. Maryam adalah murni dan suci. Semurni tetesan hujan, jernih tanpa imbuhan apa-apa... Yang hanya berlindung kepada Allah dari kejahatan setan yang telah diusir. Yang telah tumbuh dewasa di balik pintu pertama sebagai lambang seorang suci laksana sekuntum bunga yang penuh berkah. Yang terjaga dari segala ancaman yang bisa merusak kesucian dan kemurniannya. Seperti perhiasan mulia yang mengharuskan dijaga dan dilindungi. Perhiasan murni, sebagai karunia dari Allah... Maryam memang telah dipersiapkan. Bunda suci dan mulia yang kelak akan mengandung bayi seorang Isa. Bagaikan tempat penyimpanan yang bersih dan suci. Amanah ini tidak akan diberikan kepada jiwa yang dihinggapi rasa waswas, apalagi pengkhianatan. Begitulah, Maryam adalah yang terpelihara. Yang terjaga. Yang terlindungi... Di balik pintu pertama yang membentengi keamanannya, ia adalah yang terjaga kesuciannya... Pintu pertama menggambarkan bahwa Maryam adalah seorang manusia dari bumi yang mencapai alam malaikat di dalam mihrab. Sifat tanah yang ada pada Nabi Isa, genetik sebagai “putra dari bumi”, adalah warisan Maryam pada dimensi ini. Seandainya tidak ada dimensi tanah yang datang dari Maryam, kelahirannya yang sedemikian luar biasa tanpa 159seorang ayah akan menjadikan Isa sebagai seseorang di alam malakut. Hal itu mungkin akan mengaburkan misi dan dimensinya sebagai utusan bagi umat manusia. Padahal, Nabi Isa bukan seorang malaikat, melainkan manusia yang diutus bagi umatnya. Dalam hal ini, Maryamlah yang mengaitkannya dengan dimensi manusia. Demikianlah pintu pertama. Di depannya telah bertemu unsur-unsur keamanan, kesucian, dan tanah... Pintu kedua Keteguhan Nabi Zakaria kemudian membuka kembali pintu kedua dengan membaca basmalah. Saat itulah ia kembali teringat usianya. “Terlebih untuk mengasuh seorang anak perempuan,” katanya pada diri sendiri. Anak perempuan yang begitu lembut, yatim lagi piatu.... “Tuhanku! Berilah kepadaku usia yang panjang dan kekuatan yang cukup untuk merawat Maryam yang telah dikurbankan di jalan-Mu.” Setelah berdoa yang begitu memelas, terlintas akan hakikat air sebagai makhluk yang paling lembut dan lemah. “Tuhanku! Engkaulah yang telah memberi kekuatan pada air yang begitu lembut dan lemah untuk dapat membentuk sebuah batu. Berikanlah kepada Maryam kekuatan kesabaran dalam menyeru ke jalan-Mu, kekuatan dalam menghadapi kekerasan orang-orang yang hatinya telah membatu,” demikian doa Nabi Zakaria dalam suara lembut. “Berilah kepadanya kekuatan untuk tetap bertahan atas segala kesulitan yang akan menimpanya.” 160Menjadi orang yang dikurbankan berarti menjadi orang terpilih. Terpilih untuk melewati ujian. Ia rela dari awal untuk menghadapi segala bentuk ujian, bahkan yang paling susah sekali pun “Oleh karena itu, berikanlah perisai ketahanan kepada Maryam. Sungguh, Engkau adalah Zat yang memiliki diri kami!” Nabi Zakaria adalah seorang ahli zikir. Seorang zakir. Ahli mengingat dan mengingatkan. Nabi yang selalu berkorban, yang setiap waktunya berlalu penuh dengan panjatan doa. Siang dan malam, ia berbicara dengan Tuhannya dalam tangisan. Kembali nabi Zakaria memandangi alat pemintal bulu domba yang ada di dalam keranjang. Saat itu musim memotong bulu-bulu domba di Palestina. Dan Maryam sangat suka bermain dengan domba. Bahkan, saat kunjungannya yang terakhir, ia bertanya kepada Nabi Zakaria, “Apakah domba- dombanya masih suka lari-larian? Apakah mereka masih suka malas-malasan kalau dimasukkan ke kandang? Sungguh, aku sangat rindu bermain dengan mereka.” Saat itulah Nabi Zakaria tidak kuasa menahan tangis sehingga pada kunjungannya ke mihrab kali ini ia membawakan alat pemintal bulu domba. Bagi penduduk Palestina, seni memintal bulu domba adalah keahlian yang telah mereka dapatkan sejak lahir. Memintal benang dan membuat rajutan adalah pekerjaan yang telah diwariskan turun-temurun dari masa ke masa. Karena itu, setiap kali datang musim memotong bulu domba, seluruh wilayah Palestina akan dipenuhi suasana hari raya. Mencuci 161bulu-bulu domba di sungai Jordan serta mengurai dan menghaluskannya sebelum dipintal menjadi benang adalah aktivitas yang akan selalu diikuti semua wanita Palestina. Suatu waktu, ketika semua orang mendapat jatah mengerjakan bulu-bulu domba berwarna putih bersih, Maryam justru mendapatkan bulu-bulu domba dengan warna berbeda, abu-abu... Nabi Zakaria membawakan bulu-bulu domba berwarna abu-abu kehitaman yang sudah dibersihkan al-Isya kepada Maryam. Pada masa itu, seorang wanita mendapatkan jatah mengurai bulu-bulu domba berwarna keabu-abuan dipercaya akan melajang hingga akhir hayat. Tak heran semua wanita, baik yang sudah mencapai usia menikah maupun belum, beramai-ramai menunggu hasil undian pengerjaan jatah bulu-bulu domba. Mereka penasaran dengan warna yang akan didapatkan. Ada di antara mereka yang mendapati bulu- bulu domba berwarna putih bersih, ada juga yang mendapati berwarna abu-abu, dan bahkan merah api. Dengan perasaan gembira tanpa sedikit pun bersedih, Maryam mulai memintal bulu-bulu domba yang berwarna abu-abu. Ia mengurai bulu-bulu domba itu dengan sabar hingga menjadi benang. Begitu sabar Maryam mengurai benang- benang itu hingga menjadi sedemikian lembut. Semua orang pun heran dengan hasil benang pintalan Maryam. Mereka menyebutnya dengan “Riste-i Maryam”. Karena kelembutan dan kekuatannya, Maryam membuatnya untuk para darwis. Begitulah, Riste-i Maryam adalah kain paling lembut dan sederhana di dunia... 162Pintu kedua yang tidak lain adalah pintu keteguhan ini telah menunjukkan makna bulu-bulu domba yang telah menjadi jatah Maryam. Bulu-bulu domba berwarna abu-abu yang tidak lain adalah isyarat keperawanannya. Nama Maryam di balik pintu ini adalah “bakire”, yang berarti perawan. Di balik pintu ini Maryam adalah seorang yang tidak pernah tersentuh, tidak pernah pula terlukai. Ibarat pohon berbunga yang tumbuh berkembang di dalam mihrab, Maryam bukan seseorang yang baru mencoba belajar menapaki kehidupan. Ya, ia tidak pernah dalam tahapan mencoba atau diarahkan untuk mencoba... Sebab, ia bukan sebagaimana layaknya manusia yang menapaki kehidupan dengan proses mencoba, salah, dan baru mendapati kebenaran. Kata orang atau kata riwayat’ bukanlah kata-kata Maryam. Tidak satu pun desas-desus atau berita burung pernah meninggalkan bekas dalam pendengarannya. Dengan perisai maksum, Maryam telah dilindungi dari segala perbuatan nafsu dan dorongan batinnya sendiri. Sebagai seorang putri terpilih dari keluarganya, Maryam juga terpilih untuk kelak melahirkan seorang nabi pilihan. Karena itulah ia telah disaring dari saringan Rabbani, yang menjadikannya sebagai seorang yang tiada duanya, tiada padanannya... Dalam hal ini, pintu yang kedua tentu saja bernama “keteguhan”. Pintu yang tangguh, teguh, dan kuat melindungi serta menjaga Maryam dengan penuh kekuatan agar tetap perawan dari segala getaran dunia... 163Sementara itu, air dari dunia keemasan akan menjadikan pintu kedua semakin kokoh. Saat keteguhan dan keperawanan berjumpa dengan air di balik kokoh pintu kedua ini. Bukan tanpa makna pengaitan Nabi Zakaria dalam doanya dengan mengambil permisalan dari air. Air adalah awal kehidupan. Saat Maryam mengandung dengan tiupan ruh oleh malaikat, permisalan air pula yang digambarkan oleh Maryam pada kisah kehidupan setelahnya. Maryam ibarat khayalan yang tampak dalam permukaan air... Begitu pula dengan putranya. Ia tak lain adalah air khayalan yang Maryam lihat dalam mimpinya. Maryam ibarat bayangan di atas permukaan air sungai. Bayangan yang rela menetap di dalam air. Bayangan yang mengambang bagaikan kapal yang ikhlas mengangkut Isa. Dan memang, tetesan air mata berupa air pula. Dan ia adalah sahabat paling dekat Maryam. Bukankah air mata adalah sahabat berbagi rahasia Maryam? Siapa lagi selain air mata yang akan setia menyimpan rahasia mengenai beban yang dipikulnya, berita ditiupkan ruh kepadanya, amanah yang dikandungnya? Dia adalah pintu kokoh yang memikul beban sebagaimana kekuatannya air yang akan memikul Nabi Isa. Pintu kedua ini adalah tempat bertemu keteguhan, keperawanan, dan air.... Pintu ketiga Tempat Berlindung Diri Sejenak Nabi Zakaria menarik napas lega setelah membuka kedua pintu yang pertama dalam hati yang begitu sesak. Kembali ia akan membuka pintu ketiga dengan mengucap 164basmalah. Saat itulah, dengan anugerah Ilahi, dalam seketika hilang segala kekhawatiran yang sebelumnya menyelimuti perasaannya. Lenyap sudah semuanya dalam keluasan hati, dalam kedalaman pemahaman dan ketenangan, sehingga pintu ketiga ini sebagai kedudukan imkan dan mumkin, peluang dan kemungkinan. Bukankah penciptaan tidak lain adalah sebuah peluang dan kemungkinan? Imkan, selain merupakan peluang bagi perkembangbiakan, mengandung syarat bagi keberdetakan jantung kehidupan. Saat imkan memungkinkan sebuah kehidupan, dengan sendirinya makan tempat akan menyertainya. Demikianlah, kematian maupun kehidupan akan selalu terkait dengan tempat. Bahkan, meski ruh yang dipahami tidak mengenal “tempat”, saat diterangkan ia akan selalu dikaitkan dengan sebuah tempat. Ia dijelaskan dengan keterkaitannya pada badan, mimpi, khayalan, kubur, dan akhirat. Tempat adalah penghubung antara langit dan bumi. Dengan kata lain, ia adalah jembatan sejati, yang menuntun kita berdiri kokoh di atas air, batu, dan api. Dalam makna khusus, ia adalah badan. Saat manusia pertama diturunkan ke bumi, untuk sedikit menenangkan keterkejutan dan ketakutan, manusia menjadikanmakansebagai yang merasakan masa lalu dan masa yang akan datang berada dalam kegelapan yang begitu kelam itu telah diarahkan dalam sebuah garis koordinat tempat diturunkannya ke bumi untuk pertama kali. Makan adalah sosok yang sudah kita kenal, yang sudah kita ketahui. Yang sudah dekat dan selalu menjadi tempat bagi kita 165untuk berbagi. Tempat berteduh yang dapat dijadikan pelipur hati saat kesatuan berpecah, berpencar dalam serpihan- serpihan... Makan adalah seorang yang menyertai, yang menjadi sahabat, yang menjadi teman perjalanan. Makanat adalah jalinan lingkaran. Ia adalah mihrab yang merupakan jalinan lingkaran nisbi yang menjadi pegangan Maryam dalam kehidupannya sebagai seorang yatim lagi piatu. Tidak ada lagi tempat di dunia ini yang dapat menjadi pegangan bagi Maryam. Ia pun tidak ingin berpegangan pada dunia, yang tidak ingin menapaki dunia, yang berlari darinya untuk menyendiri. Di balik pintu ini, Maryam kasat mata. Ibarat udara, ia mudah terbang, mudah berlepas diri... Dalam pintu makanat ini, nama Maryam adalah seorang masumiyah; Dan nama dirinya adalah masumah. Agar angan dapat menerawang dan menangkap pemahaman dua dimensi paradoks antara makanat dan masumiyah dalam satu rangkaian, dalam pintu yang ketiga ini dimensi dunia yang mewakilinya adalah hawa, udara... Masumiyah yang tidak terikat dengan tempat hanya mungkin menempati media udara. Udara adalah materi paling mencakup tempat seluas-luasnya. Mulai dari benda padat, cair, hingga gas yang runtut semakin meluas secara bertahap mencakup makan dan imkan. Volume yang meluas akan semakin lembut, lentur. Semakin lentur, semakin mungkin mencakup seisi ruangan. Semakin mampu melingkupi, menyelimuti. Saat benda padat berubah menjadi gas, ia akan semakin meluas hingga terbang. Ia pun akan mampu merangkul dan mendekap seluruh isi ruangan. 166Maryam mampu mencakup, mendekap dirinya dan sekitarnya. Dan memang, Maryam yang berada di dalam mihrab, yang terisolasi dari kehidupan dunia, yang telah menapaki kedudukan ahli doa, seolah-olah telah menjadi ringan dan dengan mudah menyusup, menyelinap. Mihrab pun berlepas dari mengikatnya sehingga Maryam menapaki kemampuan untuk menyusup, menyelinap, terbang, dan membubung tinggi. Ia menyelinap dan berlepas diri seraya terbang dari jerat kekhawatiran, risau, dan penyangkalan. Dirinya seakan-akan telah menyublim, bahkan berubah menjadi cahaya sehingga ia menjadi sedemikian ringan, lembut, dan mampu bergerak bebas mengisi seluruh ruangan. Karena itulah pintu ketiga ini memberi isyarat Maryam sebagai seorang yang “mampu berlepas diri”. Berlepas diri dari jerat segala bentuk kejelekan dari dalam diri, nafsu yang menjadi perintang dan perangkap baginya. Maryam pun tetap terjaga dalam kemaksumannya. Bagi Maryam, udara yang dihirupnya adalah doa. Kata dan suaranya tiada lain adalah doa, taat, dan beribadah. Kedudukan yang terlepas dari titik koordinat ini, dari semua jeratan dan kebiasaan ini, telah mengantarkan Maryam mencapai kondisi baru dari yang baru. Tempat luar biasa dalam keterjagaannya ini khusus bagi Maryam. Ia bukanlah kunci atau tempat yang dibuat Nabi Zakaria maupun yang tersedia dalam Baitul Maqdis. Ia adalah mihrab yang telah dianugerahkan Allah sebagai karunia. Ia ibarat kepompong dari cahaya yang menyelimuti Maryam. Tempat untuk menempa serta mempersiapkan diri untuk kelak mengandung dan menjadi ibu sang Kalamullah. Demikian 167pintu ketiga ini yang juga bermakna tempat mengasingkan diri. Aroma titik yang mempertemukan antara makanat dan masumiyah dalam pintu yang ketiga adalah dari unsur asli. Aroma yang disukai Rasulullah , yang menjaga kemaksuman mihrab, yang meningkatkan ke posisi “heran” dan “terpesona”. Inilah udara nurani yang dihirup Maryam. Tempat Maryam menyatu dengan udara, pintu Makanat... Pintu keempat Ketabahan Saat mencapai pintu yang keempat, Nabi Zakaria merasakan dirinya semakin ringan, semakin kuat. Kedua tangan dan bahunya terasa lebih kuat. Ketika sampai ke pintu yang keempat ini, ia merasakan pedih kelemahan dan kepapaannya oleh usia yang telah lanjut, terlebih saat merenungi amanah di balik ketujuh pintunya. Kini, entah dari mana ia merasakan kebugaran kembali? Pintu keempat adalah pintu paling berat. Ia terbuat dari besi hadiah para pedagang asal Syam kepada Baitul Maqdis. Saking beratnya, empat ekor sapi yang menarik gerobak saat membawanya merasa kewalahan. Karena itulah ia diberi nama Hadid yang memiliki bentuk yang sangat kokoh... Ia tepat berada di tengah-tengah ketujuh pintu. Meski bebannya sangat berat, setiap kali Nabi Zakaria hendak membukanya, entah mengapa selalu saja terkuak keteguhan dan keringanan hati. Seolah-olah kelemahan karena usia yang telah lanjut hilang dalam seketika. Jadilah seorang Nabi Zakaria kembali muda. Dalam seketika, kekhawatiran soal usia atau siapa yang akan mendapat amanah menjaga 168Maryam sepeninggalnya—apalagi para rahib di Baitul Maqdis terus terpecah dalam kubu-kubu politik-telah menjadi begitu ringan bagaikan melepas sehelai kain yang dikenakannya... Sebuah pintu terbuat dari besi yang di dalamnya terdapat kekuatan tekad sekuat besi. Terdapat keteguhan sekukuh kekokohannya. Di depan pintu tengah ini terbesit kekuatan tekad bahwa yang terpenting adalah menapaki jalan dengan penuh perjuangan. Zat Yang Maha Memiliki Jalan, yang telah menitahkan ujian dalam perjalanan hidup yang berat, tentu telah memiliki rencana, baik di masa lalu, masa kini, maupun masa yang akan datang. Yang penting adalah menjalani dan terus menjalani dengan penuh kesabaran, keyakinan, dan harapan yang tiada pernah patah. Demikianlah pintu keempat. Ia laksana perahu keteguhan yang akan mengarungi lautan. Sementara itu, bagi Maryam, pintu ini adalah tanda akan sikap malunya. Karena itulah pintu tengah ini bernama Mahjubah’. Namun, tentu saja tidak sia-sia jika pintu ini diberi nama Hadid. Besi sebagai elemen yang paling kuat, sebagaimana telah disebutkan di dalam Alquran, tidak lain adalah senjata dan benteng yang paling kuat di masa itu. Ia kokoh, berat, dan tidak mungkin ditembus. Dari sisi yang lain, besi hanya bisa dilebur dengan panas api sehingga, dalam sisi dunia unsur, pintu keempat ini erat kaitannya dengan api. Panas api yang membakar besi bukan untuk melenyapkannya. Ia justru membentuk, menyusun kembali. 169Penempaan kembali untuk rela dengan ujian besar yang ditanggungnya demi mengasah diri dari ketumpulannya. Jadi, setelah dibakar dan ditempa, besi akan bangkit dalam bentuk sebilah pedang yang kuat lagi tajam... Bukankah keteguhan akan membuahkan kebangkitan dan kemuliaan yang demikian? Keteguhan dengan kekuatan untuk menghadang, menembus kesulitan, bahkan bencana sekalipun sama persis keadaannya dengan kepompong ulat sutra. Saat tiba ulat keluar dari kepompong dalam sikap malu, ia sudah menunjukkan bentuk baru sebagai seekor kupu-kupu yang indah lagi lembut. Demikian pula mengasingkan diri bagi seorang darwis. Sebagaimana pejalan suluk yang penuh dengan cobaan berat, ujian berat yang ditempuh Maryam juga akan menyempurnakan kekuatan keteguhannya. Begitulah Maryam. Satu demi satu ujian berat telah dilaluinya dengan sikap penuh malu, sehingga mengantarkannya ke posisi mulia. Dialah Maryam. Ahli hijab pemalu... Bagi Maryam, hijab berarti menginjak usia dewasa. Saat Maryam menapaki usia dewasa, ketika itu pula ia akan menurunkan hijabnya. Ia akan berbicara di balik tirai hijabnya. Namun, tirai bukanlah penghalang. Sebaliknya, tirai adalah pintu. 170Mungkin ia adalah alam barzakh. Tangga menuju ke pintu. Jarak. Isyarat. Bagi Maryam, hijab adalah jarak yang terpangkas antara dirinya dan Tuhan. Dan juga penunjuk jalan bagi setiap orang yang akan meniti jalan setelahnya. Demikianlah Maryam. Di depan pintu keteguhan ia tumbuh dalam akal, ruh, dan badannya menuju masa kesiapan menjadi seorang ibu... Dan... dia pula yang akan mengarungi jalan penuh ujian lautan api... Pintu kelima Selamat Ini adalah pintu paling tipis dari pintu-pintu yang lainnya. Jika dilihat dari penampakan luar, terlihat bukan sebuah pintu karena begitu transparan. Dengan sedikit dorongan dan atau sedikit empasan angin, pintu ini seolah-olah akan segera tersingkap dan terbuka. Sebenarnya, penampakan seperti ini menipu. Meski terlihat mudah dibuka dan ringkih, kuncinya telah dibuat khusus oleh seorang ahli dari Hayfa. Kunci buatannya itu seakan-akan sebuah teka-teki. Lubang kuncinya terbuat dari perak, sementara anak kuncinya dari emas. Saat kunci diputar ke arah timur dua kali, kunci itu tidak akan bisa ditarik. Baru setelah dimasukkan lagi kunci ke dua dengan mendorongnya ke arah utara kemudian ke barat, kunci yang pertama baru dapat digerakkan. Setelah didorong kembali ke depan, kedua kunci itu dapat ditarik ke luar secara bersamaan. Saat itulah, bersamaan dengan pintu 171terbuka, terdengar bunyi gesekan serpihan-serpihan intan yang dipasang di dalam lubang kunci. Bunyi inilah yang didengar Maryam seperti suara burung-burung beterbangan menyambut kedatangan Nabi Zakaria yang dinantikannya penuh dengan kerinduan dan kasih sayang seperti ayah kandungnya sendiri. “Duhai Paman! Seakan-akan burung-burung hudhud beterbangan. Burung-burung itu terbang untuk memberi kabar kepadaku akan kedatangan Paman,” kata Maryam saat setiap pintu mulai terbuka. Dari segi bentuk, pintu kelima yang indah dan tipis itu mungkin adalah wujud dari perasaan takjub dan kebahagiaan karena keselamatan telah dicapai. Nabi Zakaria pun memberi nama pintu ini dengan “Pintu Balqis”. Balqis adalah seorang ratu yang mendapat keselamatan setelah taat kepada Nabi Sulaiman. Dan memang, keduanya adalah hamba Allah yang taat kepada janji yang telah mereka berikan. Demikianlah, pintu ini adalah pintu keselamatan, baik bagi Maryam maupun masyarakat al-Quds. Di depan pintu ini manusia akan merasa segar, lapang dadanya. Sementara itu, wujud Maryam dalam pintu “keselamatan” ini adalah “seorang yang taat” sehingga nama pintu ini baginya adalah “riayat”, ketaatan. Pintu yang membuat Maryam sebagai seorang hamba yang menapaki derajat ketaatan, yang mendekatkan diri kepada-Nya. Berarti pula seorang yang telah mencapai rahasia keselamatan. Sepanjang taat kepada Tuhannya, kedamaian dan kelapangan akan dilimpahkan kepadanya. Dalamalamkosmos,padanannamadariintisaripembahasan ini adalah “falak”. Peredaran planet-planet dalam garis orbitnya merupakan salah satu kisah dari pintu kelima ini. 172Dalam tataran pintu kelima ini, Maryam adalah seorang hamba yang telah mencapai kematangan ruhani dalam terikat dengan Tuhannya. Ini seperti planet-planet di angkasa menjaga ikatan dan ketaatan pada garis orbit dan gravitasinya. Di depan pintu ini, kosmos terjaga keseimbangan, keharmonisan, keserasian, dan kedamaiannya. Perasaan telah mencapai keselamatan pertama-tama tumbuh dari dalam jati diri individu sehingga ia akan menggema membentuk lapisan-lapisan, lalu meluas sampai ke tengah-tengah masyarakat. Setelah itu, jagat raya akan terhubung dengan ikatan rantai saling “menghormati” dan “berlemah-lembut”. Di balik pintu ini, Maryam adalah seorang hamba yang dengan penuh kesungguhan mengikat diri kepada Tuhannya dalam posisi ketaatan. Pintu keenam Perlindungan Pintu ini terbuat dari batang pohon pinus yang terlihat begitu sederhana. Tidak ada gembok dan juga lubang kunci. Setiap orang yang melihatnya dari luar akan berpikir pintu ini tidak mungkin dapat dibuka. Ya, pintu ini tanpa bandul pengetuk, tanpa kunci, tanpa pegangan... Ia datar, tanpa gembok dan lubang kunci... Seolah-olah jalan terhenti di depan pintu itu. Seakan-akan Maryam yang berada di balik pintu itu tidak akan menyaksikan 173lagi cahaya matahari di siang hari. Ia seperti lenyap dalam sebuah dongeng, sebuah kisah. Dan ia kembali untuk sama sekali tidak pernah hidup. Begitu rapi dan rapat pintu ini menutupi. Dahaga Maryam di balik pintu yang tak berlidah ini. Ini adalah dalil dari “kesamaran” seorang Maryam. Ia ibarat kilau percikan epifanik di balik pintu ini. Dan Maryam adalah yang tak terlihat meski terlihat, yang menutup diri untuk tidak terlihat meski terlihat laksana matahari... Tirai rahasia dalam kehidupannya bahkan tidak dengan sempurna tersingkap oleh mereka yang pada tingkat yakin mengenalnya. Misi kesabaran dan keberanian selalu akan memberikan alasan pada keabsurdan akhlak ahli akhir zaman, yang wajahnya pun belum pernah terlihat. Orang- orang di dekatnya tidak dalam tataran sempurna mampu mengenalnya, sedangkan mereka yang berada jauh darinya tidak akan melihat meski mengetahuinya... Paradoks dari ketidakterlihatan Maryam dalam kondisi terlihat, atau terlihat dalam ketidakterlihatan, tidak lain adalah kelanggengannya. Di balik pintu perlindungan ini, Maryam membisikkan rahasia pencapaian keabadian dari dunia fana. Meski demikian, jejak dan gambaran dalam kehidupannya yang hakiki akan senantiasa berlanjut sepanjang masa. Pintu keenam ibarat seorang penjaga yang begitu tangguh dan kuat. Ia rela berkorban demi tidak membagi rahasia. Begitulah perlindungan dalam pintu ini. Sebagai pintu perlindungan, hanya sejengkal batas antara ada dan tiada, antara kisah dan kehidupan nyata, antara riwayat dan hakikat. 174Ya, kini di depan pintu perlindungan ini Nabi Zakaria berada dalam pengabdian mengemban amanah seorang Maryam yang yatim-piatu dan telah dikurbankan. Meski demikian, ruhnya senantiasa berada dalam kesadaran, bahkan senapas dalam panjatan doa Nabi Adam yang dititahkan menjadi manusia dan nabi pertama... Pintu ini juga merupakan kenangan. Saat kenangan dan ingatan datang sampai ke depan pintu perlindungan ini, hal seperti inilah yang selalu terjadi. Kedua tangannya tertengadah ke udara seraya bermunajat dalam uraian doa penuh linangan air mata sebagaimana doa-doa yang telah diucapkan para nabi terdahulu. Begitulah Nabi Zakaria berzikir panjang mengingat Tuhannya. Hal yang sama terjadi pada Maryam. Saat berada di balik pintu ini, ia memanjatkan doa dengan mengenang silsilah para nabi satu demi satu. Doa yang dipanjatkan Maryam dengan mengenang Nabi Adam adalah demikian “Tuhanku! Aku memohon agar Engkau berkenan menghidupkan hati ini dengan nur makrifat yang abadi. Ya Allah, ya Allah, ya arharmarrahimin! Hamba memohon dengan limpahan anugerah dan rahmat-Mu untuk menyelamatkan agama hamba dari segala bentuk kekurangan dan kerusakan, agar Engkau menjaga iman hamba sampai terhembus napas terakhir, agar diri hamba Engkau hindarkan dari kejahatan orang-orang zalim yang tidak memiliki belas kasihan, agar Engkau melimpahkan rezeki kepada diri ini yang senantiasa berusaha setia menjadi hamba-Mu, baik di dunia maupun di alam akhirat nanti. Sungguh, Engkau adalah Zat Yang Mahakuasa atas segalanya. Hanya Engkau Zat yang mampu mengabulkan doa sehingga kabulkanlah doa hamba!” 175Kemudian, Maryam menyampaikan salam kepada Nabi Nuh seraya bermunajat kepada Allah dengan munajatnya “Tuhanku Yang Maha Pengasih lagi Penyayang! Engkaulah Zat yang tiada pernah membutuhkan siapa-siapa, yang menjadi curahan semua pujian, Yang Mahaindah, tiada padanan dalam segala titah dan penciptaannya. Hamba bersaksi bahwa Engkaulah Tuhan yang terhindar dari segala sifat kurang!” Kemudian Maryam mengenang Nabi Ibrahim dengan berucap salam kepadanya seraya berzikir kepada Allah “Tuhan Yang Mahaagung lagi Perkasa, yang jauh lebih dekat daripada kedekatan ciptaan kepada-Nya. Tuhan yang telah menyelamatkan Nabi Nuh ke pantai keselamatan, yang telah menerima dan mengampuni pertobatan Nabi Adam, yang keagungannya dipuja gelap malam dan terang siang. Aku bersaksi bahwa Engkau Maha terhindar dari segala bentuk kekurangan, baik yang mungkin maupun yang tidak mungkin terlintas dalam pikiran.” Dalam rangkaian salam dan kenangan kepada para nabi terdahulu, Maryam juga mengucapkan salam kepada Nabi Ismail sambil berdoa dengan doa yang telah dipanjatkannya “Tuhanku! Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi, bahkan dalam celah hati yang paling rahasia sekali pun. Engkaulah Yang Maha Rauf dan Rahim. Tidak ada satu hal pun di langit dan bumi yang tersembunyi bagi-Mu. Engkaulah Mahasuci! Maha Terhindar dari segala kekurangan!” Kemudian Maryam bertasbih kepada Allah dengan bacaan tasbih Nabi Ishak “Tuhanku! Engkaulah yang menghilangkan segala kekhawatiran, yang menciptakan jalan keluar bagi kesulitan dan kepedihan setiap hamba, yang senantiasa menjawab 176doa setiap hamba yang berada dalam kesulitan. Hanya Engkau Yang Maha Rahman dan Rahim, baik saat di dunia ini maupun kelak di hari akhirat. Penghambaanku semata- mata hanya terikat kepadamu. Hanya kepada-Mu pula diriku menambatkan harapan terkabulnya permintaanku. Guyurlah diriku hingga basah kuyup dengan limpahan rahmat yang akan Engkau curahkan dari sisi-Mu sehingga diriku tidak akan pernah jatuh menjadi pengemis belas kasih kepada yang selain dari diri-Mu.” Di balik pintu keenam ini pula Maryam bertasbih dengan bacaan tasbih Nabi Ayub. “Ya Allah! Tuhan yang menjadikan rasa takut dan gemetar dalam nafsu. Engkaulah Yang Mahaagung, Mahatinggi kemuliaan-Mu... Zat yang menjadi tujuan segala puji dan sanjungan... Yang menggenggam segala makhluk dengan ilmu dan rahmat-Mu. Yang Maha Tidak Berbatas. Yang tidak mungkin pernah butuh kepada siapa pun. Yang menghindarkan bala dan bencana kepada setiap hamba yang Engkau cintai! Aku menyucikan-Mu dari segala kekurangan dan kejelekan.” Kemudian, Maryam memanjatkan tasbih dengan lantunan tasbih Nabi Saleh. “Duhai Sultan para sultan yang tiada padanan bagi- Mu. Yang Mahamutlak memiliki kemuliaan. Yang Maha Mengetahui segala yang telah dan akan terjadi. Yang Maha Memiliki dan tidak ada satu hal pun yang tersembunyi bagi-Mu! Engkaulah Yang Mahasuci, Yang Maha Terhindar selamanya dari segala kejelekan dan kekurangan!” Kemudian, Maryam memanjatkan doa sebagaimana yang telah dipanjatkan Nabi Yunus saat berada dalam perut ikan 177“Tuhanku! Engkaulah Yang Mahasuci dari segala kelemahan, kekurangan, kebutuhan, dan keharusan! Engkaulah satu-satunya Zat Yang Maha Memberi Hukum. Yang Maha Mencipta makhluk-Nya dengan tanpa kekurangan. Yang Mahakuasa dan kuat atas segalanya. Yang menjadi tujuan segala puji dan sanjungan. Engkau Maha Mengetahui semua hakikat karena Engkaulah Hakikat Utama. Yang Maha Mempersempit dan juga Maha Melapangkan sesuai dengan kehendak-Mu. Engkau pula yang menganugerahi amal kebaikan kepada hamba-hamba-Mu!” Kemudian, Maryam mencurahkan isi hatinya dengan munajat Nabi Yakup “Tuhanku yang menjadi tumpuan harapanku. Janganlah Engkau biarkan diriku jatuh dalam keadaan putus asa. Duhai Allah! Engkau berlari membantu setiap hamba yang memohon bantuan. Ulurkan tangan-Mu kepada hambamu ini yang papa dan tidak memiliki siapa-siapa! Tuhanku yang tidak akan pernah menampik hamba-Mu yang dengan penuh pertobatan mendekatkan diri kepada-Mu. Kabulkanlah pertobatan hamba ini yang tidak memiliki satu pun pintu selain dari pintu-Mu! Maryam kembali berdoa dengan ucapan yang telah dipanjatkan Nabi Yusuf kepada Allah “Tuhanku! Engkaulah yang Maha Menjawab setiap jerit permohonan, yang membantu setiap hamba yang butuh pertolongan, yang menghilangkan kesedihan yang diderita setiap Engkau Maha Melihat dan Mengetahui keadaan diriku ini yang tampak jelas dalam penglihatan-Mu. Tunjukilah jalan keluar kepadaku dan berikanlah kekuatan untuk mengikutinya!” 178Akhirnya, Maryam menyelesaikan munajatnya dengan doa Nabi Musa “Tuhanku yang sama sekali tidak pernah berbuat kezaliman di jagat raya ini, yang dengan kemuliaan-Nya semakin lebih dekat dari kedekatan makhluk itu sendiri, yang dengan kedekatan itu menjadikan Engkau Mahamulia, Zat yang takhta-Mu tiada berbatas, yang tak berbatas pula dalam kekayaan-Mu. Engkaulah Tuhanku, Zat Yang Mahasuci dan terhindar dari segala kekurangan. Duhai Allah! La haula wala quwwata illa billahil aliyyil adzim. Jika ada Zat yang memiliki perbendaharaan tak terbatas sebagai tempat aku memohon, itu tidak lain adalah diri-Mu. Segala puji dan syukur hanyalah untuk-Mu. Dan aku pun memuji-Mu, mengutarakan segala kebutuhanku. Duhai Allah! Jadikanlah kebaikan para musuh terlihat di antara dua mata dan kejahatannya terinjak di bawah kaki. Duhai Allah. Hanyalah dengan bantuan-Mu diriku dapat menangkal kejahatan para musuh yang jahat. Untuk itulah diriku memohon bantuan dari sisi keagungan-Mu; berlindung dalam kodrat dan kekuasaan-Mu. Tuhanku! Dengan keagungan-Mu Engkau telah menitahkan alam Arsy menjadi seimbang. Tiada seorang hamba pun yang mampu menandingi kemampuan-Mu, tidak mungkin. Engkaulah Yang Mahaagung dalam kemuliaan. 179Tiada Tuhan selain diri-Mu! Engkaulah Yang Maha Mengetahui segalanya. Dan Muhammad adalah utusan-Mu. Dialah Allah Yang Maha Halim dan Karim. Pemilik Arsy. Hanya kepada-Nya segala puji dan syukur semua makhluk senantiasa dipanjatkan, karena Dialah Tuhan seluruh alam.” Pintu keenam yang merupakan perlindungan juga merupakan pintu zikir, pintu tempat mengingat dan mencurahkan segala isi hati. Dia ibarat stalaktit yang memanjang ke angkasa. Saat pintu ini terbuka, hal itu tidak lain berarti terbukanya ruh yang khusyuk, hati yang berserah meluapkan isinya. Saat cinta telah merekah di dalam hati, ia tentu ingin mengungkapkan isinya. Seperti buih susu yang berubah menjadi krim, yang ingin menunjukkan wujud asli dari apa yang ada di dalamnya, yang ingin memuji, mengigau menyebut nama kekasihnya… Inilah hal yang terjadi di pintu keenam. Nabi Zakaria pun meluapkan cinta yang begitu besar kepada Allah sehingga air mata mengalir dari wajahnya, membanjiri semua tempat di depan pintu ini. Sampai-sampai, linangan air mata itu bergerak membuka pintu… Pintu ini akan terbuka karena hal yang terjadi dari perlindungan, zikir, dan doa-doa… Pintu keenam tak lain menggambarkan keluasan Maryam. Seorang yang memiliki dimensi lain, alam yang lain, warna yang lain, dan juga bahasa lisan yang lain. 180Seorang yang berzikir kepada Tuhannya dengan bahasa dari berbagai tingkatan alam, seperti tumbuh-tumbuhan dan hewan. Di balik pintu inilah Maryam berzikir kepada Tuhannya dengan semua bahasa. Laksana pelangi di angkasa. Terpancar darinya bahasa setiap lisan makhluk dalam zikrullah… “Jika engkau ingin menyaksikan hakikat yang tinggi ini secara lebih dekat, hampirilah lautan yang berombak angin topan. Tanyakan kepada perut bumi yang mengguncangkan isinya. Tanyakan apa maksud perkataannya. Tentu engkau akan mendengarnya melantukan lafaz Ya Jalil, Ya Aziz, Ya Jabbar’. Kemudian, tanyakan pada makhluk-makhluk kecil yang berada di dasar lautan dan di hamparan daratan yang mendapati rahmat dan kasih sayang-Nya. Apa kata kalian?’ Engkau pun pasti akan mendengar jawaban dari mereka Ya Jamil, Ya Rahim’. Dan dengarkanlah langit! Bagaimana ia akan mengatakan Ya Jalilu Zuljamal’. Tanyakan pula kepada bumi yang juga akan menjawah Ya Jamilu Zuljamal’. Demikian pula dengan hewan-hewan yang akan berucap Ya Rahman, Ya Razzak, Ya Rahim, Ya Karim, Ya Latif, Ya Atuf, Ya Musawwir, Ya Munawwir, Ya Muhsin, Ya Muzayyin.” Sementara itu, di balik pintu ini Maryam yang berzikir dengan lidah semua makhluk berada dalam kedudukan “berserah diri” sehingga nama pintu yang sesuai baginya adalah as-Salimah, yang berarti seseorang yang telah berserah diri, yang mencapai posisi salim. Yang ruhnya telah mencapai kedamaian dan kelapangan. Begitulah seorang Maryam di balik pintu ini. Pintu keenam yang menjadi tempat untuk menguak jati diri dan kelebihan Maryam ini telah menunjukkan bahwa wanita itu adalah seorang yang terpilih; yang dilindungi, dijaga, dan diasuh dengan penuh perhatian. 181Pintu ini pada waktu yang sama juga menggambarkan benteng yang kokoh dan luar biasa. Benteng yang disebut hasn-i hasin, yang merupakan perlindungan berlapis. Hasin berarti yang tidak akan mungkin ditembus atau dicapai karena begitu kokoh dan tangguh, sementara hasn-i hasin berarti benteng perlindungan yang kokoh. Kata masun yang berarti melindungi, membentengi, berasal dari suku kata yang sama. Namun, benteng itu bagi Maryam bukan datang dari diri sendiri. Ia hadir dari Tuhannya Yang Maha Melindungi. Begitulah Maryam menjadi seorang yang terlindungi dari segala nafsu amarah, kejahatan setan dan manusia, serta musuh yang selalu menebar itnah dan perangkap. Tuhannya telah mengabulkan doa perlidungannya. Doa, ibadah, dan pendekatan diri kepada Allah adalah kedudukan pintu keenam. Dengan ketaatan, ibadah, dan doa, Allah telah menjadi tempat berserah diri. Allah juga menjadi wakil, sahabat, dan penolong bagi Maryam. Bahkan, Allah telah menjadi sebaik-baik pelindung. Yang melindungi Maryam dari sifat-sifat tercela, seperti kesombongan, keangkuhan, riya, ujub, nifak, dan juga dari segala kejelekan dan marabahaya. Allah telah mengambil Maryam dalam perlindungan-Nya dengan penghambaannya yang sempurna dan kedekatannya kepada Tuhannya. 182Maryam laksana gugusan pelangi di angkasa yang memancarkan warna-warna panjatan doa dan zikir sehingga mencapai kedamaian dan perlindungan. Pintu yang ketujuh Rahasia Pintu rahasia adalah tirai yang menyelimuti Maryam meskipun pintu ini yang membuka dirinya kepada kita. Dalam pintu ini, nama yang tercantum bagi Maryam adalah “sirriyat” sehingga di balik pintu ini Maryam adalah seorang yang mendapati nama “sirriyah”. Namun, mengenai hal ini kita tidak mampu menulis banyak. Karena tirai tertutup dan terpisah. Karena di balik pintu ini Maryam telah mencapai kesempurnaan. Ia telah mencapai kedudukan rahasia. Posisi yang berada di atas semua nama. Karena ia adalah rahasia dari rahasia, yang setiap pena pun seolah-olah tumpul untuk menuliskannya. Patah, tercerai-berai... Bahkan, ia hanya mampu ditenangkan dengan lafaz La ilaha illa-llah, Muhammad Rasulullah’. -o0o- 18319. Mlht Malakt Hari berganti minggu, bulan, dan tahun. Musim pun bergerak. Kini, Maryam telah berusia enam belas. Ia memang seorang remaja. Namun, dalam hal ketaatan dan kesabaran, Maryam telah menjadi seorang azizah yang menjadi kekasih masyarakat. Sementara itu, Merzangus telah menginjak usia tiga puluh. Ia tetap tidak menikah demi mengabdikan diri membantu keluarga Zakaria . Al-Isya masih belum dikaruniai anak meski usianya lima puluh tahun lebih, sementara suaminya, Zakaria , berusia sekitar delapan puluh tahun. Suatu hari, di sela-sela makan malam, Zakaria bercerita tentang seorang pemuda berpakaian serbaputih yang ia lihat pada suatu malam. “Aku sama sekali belum pernah melihatnya di antara para ahli tulis dan santri pembina. Sungguh sempurna perawakannya. Tubuhnya agak tinggi. Pundaknya lebar. Panjang dan hitam rambutnya, basah mengilap. Pakaiannya sutra serba putih sehingga terlihat menyala dalam kegelapan 184malam. Baunya harum semerbak. Saking harumnya, aku mengenalinya pertama-tama dari bau itu. Begitu tercium, aku selalu mendapatinya dari kejauhan pasti sedang sedang berdoa atau salat. Namun, begitu aku mulai berjalan cepat mendekatinya, entah mengapa terjadi sesuatu sehingga ia pun menghilang dari pandanganku. Aku sendiri tidak tahu apakah kejadian itu adalah ilusi atau karena pikiranku terganggu oleh faktor usia yang telah lanjut....” Saat mengulurkan segelas berisi penuh air putih, al-Isya berkata sambil tersenyum, “Mungkin dia malaikat.” Mereka pun tidak lagi memperbincangkan masalah ini. Kini, mereka sudah tidak lagi seperti dahulu yang begitu khawatir dengan keselamatan Maryam. Apalagi, para sesepuh Baitul Maqdis dan masyarakat begitu mencintai Maryam. Seisi kota al-Quds telah jatuh hati kepadanya. Apalagi, empat ribu haiz dan santri tidak mampu menyaingi kualitas Maryam. Jika Merzangus dan al-Isya tidak dihitung, di al-Quds tidak lagi ada wanita yang bisa membaca dan menulis selain Maryam. Maryam pun telah menjadi santri yang sangat pintar dalam menulis hattat. Meski tidaklah mungkin bisa dibandingkan dengan para santri lain, karyanya yang sangat indah itu tidak bisa dipertunjukkan di Sahra Suci lantaran dirinya seorang wanita. Karya Maryam hanya boleh ditunjukkan di kelas santri yang masih kecil sebagai contoh bagi mereka. Lain dengan santri hattat pada umumnya, pena hattat milik Maryam berwarna merah tua. Pena ini adalah pemberian khusus Nabi Zakaria. Pena ini tidak pernah dicampur dengan pena-pena yang lain ketika semua pena harus kembali dikumpulkan menjelang malam. Pena Maryam secara khusus disimpan di tempat khusus yang terbuat dari kayu besi. 185Pernah, suatu hari pena milik Maryam hilang. Mosye lalu dengan sengaja mengambil kesempatan itu dengan meminta Maryam menulis hattat dengan pena yang lain. Maryam memang tidak pernah menulis dengan pena lain. Inilah yang dimanfaatkan Mosye untuk menguji kesangsiannya pada kemampuan Maryam. “Kalau benar dia seorang yang memiliki bakat lebih dari yang lain, silakan menulis di depan umum. Kita akan lihat hasilnya,” kata Mosye kepada semua orang. Terjadilah kembali peristiwa yang sangat luar biasa. Setiap kali Maryam mengambil pena yang tersedia, pena itu selalu pecah dan terbelah menjadi dua. Mosye pun sangat senang. Ia tertawa terbahak-bahak di depan umum. “Bagaimana mungkin dirinya seorang hattat. Lihat saja, setiap pena yang dipegangnya patah, terbelah menjadi dua. Mungkinkah tangannya terlalu berat seperti besi?” demikian Mosye mengejek Maryam di depan umum. Pada hari itu, Maryam terus mengambil pena satu demi satu sampai tidak tersisa lagi pena yang tidak patah. Orang-orang pun terus menertawakannya, mengejek dan menggunjingnya. Sepanjang hari itu, tumpukan pena yang patah seolah-olah telah menggunung. Ustaz Efraimzad lalu datang membantu Maryam. “Cukup! Cukuplah. Berhentilah menulis Anakku. Aku yakin ada hikmah di balik kejadian ini. Tidak mungkin setiap 186pena yang diambilnya akan patah seperti ini. Kira-kira apakah sebabnya?” “Semenjak kecil saya selalu berdoa kepada Allah, wahai Ustaz Efraimzad, agar Allah tidak pernah memperkenankan tanganku menyentuh barang haram,” kata Maryam lirih. Mendengar kata-kata itu Mosye langsung berdiri seraya berbicara dengan suara keras. “Jadi, maksudmu adalah seorang wanita haram untuk membaca dan menulis. Itukah yang engkau maksudkan Maryam?” Maryam hanya tertunduk. “Bukan, yang haram bukan membaca dan menulis bagi wanita. Yang haram adalah hak orang-orang yang telah bekerja dengan jerih payah dan keringat tapi belum juga dibayar.” “Apa! Coba dengarkan yang dikatakan anak ini! Anak kecil ini ternyata ingin memberi nasihat dan pelajaran kepada kita. Di sini adalah Baitul Maqdis wahai wanita kecil. Jagalah sopan santun! Sekarang katakan, keringat siapa yang selama ini hak- haknya belum dibayar? Semua itu tidak lain cerita bual belaka. Ah, para wanita! Mereka hanya pembuat gosip. Ketahuilah bahwa wajah setiap wanita seperti dirimu ini selalu diperalat oleh setan.” “Saya tidak menyalahkan siapa-siapa, Tuan. Saya hanya menyampaikan apa yang saya dapati sebagai anak kecil.” “Cukup dan diam! Berhentilah menyalahkan orang lain. Sekarang akui saja kalau tulisan pada papan kaligrai yang dipajang di kelas-kelas itu bukan engkau yang tulis. Jika benar engkau bisa menulis hattat, pastilah semua ini tidak akan terjadi. Namun, pada hari ini semuanya telah terbukti. Engkau sama sekali tidak bisa menulis. Untuk menutupi 187ketidakmampuanmu, engkau dengan sengaja mematahkan semua penanya. Ya sudahlah, sekarang biar saya tunjukkan bagaimana cara menulis hattat dengan baik.” Di antara gemuruh tertawa, ada tujuh pembina yang sudah siap sedia bersimpuh untuk memerhatikan bagaimana cara menulis hattat dengan baik. Mereka juga sudah menyiapkan kain putih di atas sebuah meja untuk ditulis. Sayang, tidak ada satu pena pun yang tersisa. “Ternyata Maryam tidak menyisakan satu pena yang tidak patah, Ustaz Efraimzad. Mohon Anda perintahkan beberapa petugas untuk segera membeli pena yang baru. Lihat, semua orang sudah menunggu untuk menyaksikan bagaimana menulis yang benar.” Ustaz Efraimzad segera memanggil beberapa orang untuk segera membeli pena dari toko yang biasanya memasok pena untuk Baitul Maqdis. Namun, beberapa orang yang dipanggilnya itu justru hanya berdiam diri. Mereka tidak langsung berlari untuk segera membeli pena. Hal itu mereka lakukan karena pihak toko sudah tidak mau lagi memberikan peralatan tulis disebabkan utang yang telah menumpuk. “Apa!?” seru Mosye dengan suara lantang berpura-pura. “Semua ini adalah bentuk penentangan dan penghinaan terhadap tempat ibadah kita yang mulia!” “Bukan!” kata Ustaz Efraimzad dengan suara keras sembari mengusap-usap jenggot panjangnya yang sudah memutih. “Semua ini tidak lain adalah doa yang dipanjatkan Maryam semenjak kecil. Dia telah memohon kepada Tuhan agar tangannya dijaga dari barang yang haram”. 188“Karena semua pena ini belum dibayar, ia masuk dalam hukum yang haram. Karena itulah Maryam tidak bisa menggunakan satu pun dari pena-pena itu. Masih jugakah Anda sekalian tidak memahami hal ini? Yang salah adalah kita semua. Jika saja selama ini kita lebih berhati-hati dan memberikan hak setiap orang sebelum keringatnya mengering... Di antara kita, hanya Maryam yang memahami kalau pena-pena itu di dapat dari cara yang tidak halal.” Demikianlah, peristiwa ini telah menjadi saksi. Setiap usaha yang ingin menjelekkan Maryam akan balik menimpa si pembuatnya sehingga harus menanggung rasa malu yang besar. -o0o- Dengan pedang terhunus, Merzangus seakan-akan sedang memeragakan aktivitas menulis di atas udara seraya berbicara dengan kudanya, Suwat. “Suwat! Engkau tahu bahwa di al-Quds wanita hanya boleh menulis di udara hamparan pasir padang sahara,” kata Merzangus seraya menurunkan pedangnya dari udara untuk menuliskan nama Suwat di atas pasir. “Lihat! Aku menuliskan namamu di atas pasir. Jangan engkau ceritakan kepada siapa pun aku bisa membaca dan menulis. Engkau mengerti bukan!?” Suwat seolah-olah memahami kata-kata Merzangus. Kuda itu pun menggerak-gerakkan kepalanya, meringkik, dan melompat-lompat. Merzangus sangat senang. Ia lalu mengeluarkan potongan-potongan wortel dari sebuah kantong untuk diberikan kepada Suwat. 189“Karena pena terlarang bagi wanita, kita pun akan menggunakan pedang sebagai gantinya. Bukankah demikian Suwat?” tanya Merzangus seraya memasukkan kembali pedangnya yang bernama Ridwan ke dalam sarungnya yang masih tergantung di pinggangnya. Ia pun kemudian melompat ke punggung kuda itu. Suwat pun segera berlari sekencang- kencangnya. “Sungguh, aku iri kepada Merzangus,” kata al-Isya ketika melihat Merzangus memacu kudanya sambil melemparkan tombak ke arah yang jauh. “Ia telah mengabdikan diri seutuhnya kepada keluarga ini. Selama bertahun-tahun, ia melatih diri dan bekerja keras untuk keamanan Maryam. Ia juga tidak menikah. Ia tidak ingin kerja kerasnya berkurang dengan memiliki anak. Pekerjaan apa pun yang bisa dikerjakan laki-laki juga bisa dikerjakan Merzangus. Dialah anak laki-laki dan juga perempuan dari keluarga ini. Naik kuda, menyandang pedang, menjelajah gunung, menyusuri lembah dan hutan, berburu, dan memotong kayu. Iri dan terenyuh sekali hati ini melihat dirinya.” -o0o- Ketika Maryam sudah menginjak usia tujuh belas, kota al-Quds dilanda paceklik dan wabah penyakit. Terjadilah migrasi besar-besaran dan kematian massal. Bahkan, kondisi ini membuat Zakaria kesulitan mendapatkan pekerja. Padahal, ia sangat butuh karena usianya sudah lanjut. Hujan tidak pernah turun. Tumbuh-tumbuhan mengering. Daun-daun di pohon-pohon zaitun pun ikut meranggas. Tak pelak, Merzangus bersama dengan para sahabat Zahter, yaitu 190Ham, Sam, dan Yafes, bekerja keras membantu kebutuhan hidup Zakaria. Yusuf sang tukang kayu juga bekerja dari pagi sampai sore di tempat pengerjaan kayu milik Zakaria. Hanya dengan kebersamaan dan persahabatan yang tulus seperti inilah kehidupan dapat ditopang. Al-Isya dan Merzangus bagaikan jarum jam yang tidak pernah berhenti bekerja untuk mengatur serta mencukupi kebutuhan makan dan pakaian Maryam. Sementara itu, Nabi Zakaria ditemani kemenakannya, Yusuf, telah membuat jadwal untuk membawa segala kebutuhan Maryam yang telah disiapkan. Suatu hari, ketika Zakaria mengunjungi Maryam di mihrab, ia dikagetkan dengan nampan berisi buah- buahan yang masih ditutupi kain putih. Nabi Zakaria pun segera bertanya asal buah-buahan itu. Apalagi, jenisnya bukan yang bisa didapatkan atau dihadiahkan oleh orang-orang yang ada di sekitar masjid. Dalam kondisi kekeringan dan paceklik saat itu, kebanyakan orang hanya mampu makan dengan sebutir zaitun dan roti kering. “Wahai Maryam, dari manakah makanan ini?” tanya Zakaria . “Makanan ini datang dari sisi Allah. Jika menghendaki, Allah akan mampu melimpahkan rezeki yang tak terbatas,” jawab Maryam seraya membuka kain penutup buah-buahan itu dan menyuguhkannya kepada Nabi Zakaria yang telah ia anggap seperti ayah kandungnya sendiri. 191
Novel by Sibel EraslanMaryam- Bunda Suci Sang Nabi - Kaysa - Bunda Suci Sang Nabi - Penulis Sibel Eraslan Penerjemah Aminahyu Fitri Penyunting Koeh Perancang sampul Zariyal Penata letak Riswan Widiarto Penerbit Kaysa Media, Puspa Swara Group Anggota IKAPI Redaksi Kaysa Media Perumahan Jatijajar Estate Blok D12/No. 1-2 Depok, Jawa Barat, 16451 Telp. 021 87743503, 87745418 Faks. 021 87743530 E-mail [email protected], [email protected] [email protected] Web dari Siret-I Meryem Cennet Kadinlarinin Sultani karya Sibel Eraslan Copyright c TİMAŞ Basım Ticaret Sanayi AŞ, 2013, İstanbul Türkiye Pemasaran Jl. Gunung Sahari III/7 Jakarta-10610 Telp. 021 4204402, 4255354 Faks. 021 4214821 Cetakan I-Jakarta, 2014 Buku ini dilindungi Undang-Undang Hak Cipta. Segala bentuk penggandaan,penerjemahan, atau reproduksi, baik melalui media cetak maupun elektronik harus seizin penerbit, kecuali untuk kutipan ilmiah. C/47/VII/14 Perpustakaan Nasional RI Katalog Dalam Terbitan KDT Eraslan, Sibel Maryam/Sibel eraslan -Cet. 1—Jakarta Kaysa Media, 2014 viii + 464 hlm.; 20 cm ISBN 978-979-1479-76-9 Penerbt Siapa tidak mengenal Maryam? Dialah wanita yangdianugerahi berbagai kelebihan oleh Allah . Kesabaran danketeguhannya dalam melaksanakan perintah Allah sudahsangat dikenal. Tak heran jika Maryam termasuk 4 wanitapenghuni surga. Novel yang ada di hadapan pembaca ini adalah seriterakhir dari serial 4 wanita penghuni surga karya wanitanovelis terkemuka asal Turki, Sibel Eraslan. Tiga novellainnya berkisah tentang Khadijah, Fatimah, dan Asiyahistri Firaun. Tiga seri ini telah mendapatkan apresiasi positifdari pembaca di seluruh Indonesia. Untuk itu, kami denganbangga mempersembahkan seri terakhir dari serial 4 wanitapenghuni surga ini. Meski di negara asalnya, Turki, novel Maryam tidakterbit terakhir, di sini kami sengaja menerbitkan kisah inisebagai terbitan pamungkas. Hal ini didasarkan pada alasanbahwa kisah Maryam dalam novel ini begitu luar biasa jikad kecintaan kepada perintah Allah pantas menjadi teladanbagi seluruh umat manusia yang hidup setelahnya. Dalam ini, kita akan melihat bagaimana sosok Maryam SangBunda Suci ini yang begitu sabar dan kokoh menerima segalamacam ujian yang mungkin belum pernah diterima manusia,baik dulu maupun yang akan datang. Bahkan, beliau telahmendapat ujian sejak dirinya baru dilahirkan. Inilah salahsatu alasan mengapa kisah tentang Bunda Maryam begitulayak dibaca dan direnungkan sebagai bahan pelajaran untukmenapaki kehidupan. Novel Maryam ini beralur flashback. Kehidupan Maryamdan putranya dikisahkan oleh tokoh iktif bernama dibuka dengan kisah yang menggambarkan kondisidan situasi yang terjadi saat peristiwa penyaliban NabiIsa. Merzangus yang menyaksikan peristiwa itu kemudianmengisahkan kehidupan Bunda Maryam dan Nabi Isa kepadaistri Pilatus, wali Romawi yang memimpin sidang kisah ini bermula. Selanjutnya, Merzangus berkisah tentang dirinya danpertemuannya dengan keluarga Maryam. Dia menyaksikankelahiran Maryam dan peristiwa yang terjadi pada diri Maryamsejak kecil. Merzangus juga mengetahui kelahiran Nabi Isa danmenjaga ibu-anak itu dari gangguan kaum yang berniat jahatkepada mereka. Kisah terus berlanjut hingga Nabi Isa dewasadan diangkat menjadi nabi. Intinya, Merzangus menjadi saksipenting atas seluruh peristiwa yang terjadi pada diri BundaMaryam dan Nabi Isa, sejak dari mula hingga akhir. Seperti 3 kisah sebelumnya, kekuatan novel ini terletakpada kemampuan pengarang meramu berbagai sumberpengisahannya menjadi “dongeng modern” tentang wanita-wanita hebat yang pernah ada dalam sejarah. Kita akan diajakoleh pengarang untuk “berkelana” pada ruang dan waktu jauh serta merenungkan dan membandingkan kembalisemuanya dengan kehidupan masa kini. Di sinilah keempatnovel ini menjadi penting untuk dibaca. Dalam konteks kekinian, tokoh-tokoh yang luar biasa inihadir bukan hanya sebagai simbol kebaikan, keluhuran, dankeagungan yang tidak bisa ditiru. Apa yang terjadi pada mereka,pada beberapa sisi, pasti juga dialami oleh manusia membedakan adalah sikap dan respons positif merekaterhadap semua kejadian yang menghampiri. Untuk itulahkita bisa belajar mengenai pengorbanan kepada Khadijah,keteguhan memegang akidah kepada Asiyah, keikhlasan dancinta kepada Fatimah az-Zahra, dan kesabaran kepada BundaMaryam. Salawat dan salam semoga tercurah kepada mereka, parawanita ahli surga dan ibunda orang-orang hangatPenerbit Kaysa Media vDafar IsiPengnar Penerbt - iii 9. Perjalnn Terkir aer - 88Pembka - 2 10. eika Marym Baru dalm Bera- 921. Cahaya eing Marym - 6 11. Hnna Mengndng- Tngn yng Slalu Terbka - 12 12. Susna Hti Imrn- 1103. Merangs Sng Dkn Bayi- 18 13. Susna Hti Hnna- 1144. Ksah Merangs- 29 14. elairn Marym - 1185. Pengembaran Merangs - 37 15. Pengsuh Marym - 1326. Para Pejaln Tiba di al-Quds - 61 16. Ibi Sraj, Sng Penklk Snga- 1377. Hnna, Istri Imrn - 65 17. Penerman yng Bak - 1518. Pereun di al-Quds - 78 18. Ksah irab - 154 vi19. Mlht Malakt- 184 29. Suara eiga - 25220. Lngt pn Bergerk- 201 30. Para Ali stronoi pn Dim - 25621. nugerah uar Bisa - 208 31. Marym Bernaar - Malakt Trn 32. Marym embai ke al-Quds- 268kpada Marym - 21523. Nabiyulah Yahya Lair - 227 33. Ksah Tiga Bayi yng Mmpu Bicara - 27224. Sift-Sift Yahya - 229 34. Sift-Sift Isa - 27625. Btng Bereor di Btleem - 232 35. ijrah ke Msr - 28626. Marym di Btleem- 237 36. eidupn di Msr- 30427. Caan Cta Sbang 37. Ksh Sayng Marym - 317Pohon urma - 244 38. Dalm Pengsngn - 32728. ithn Marym - 249vii39. Nabi Yahya Waft - 332 48. Marym dn Buah Tn - 42340. eidupn di Nsara- 348 49. Pendkng Sejti Sng Putra- 42741. Bad-i Saba Berembs di Nsara - 350 50. Marym dn Seeor Kijng - 43442. Isa Sng Nabi - 357 51. Marym dn Kam isin- 43743. Sahabt-Sahabt Marym- 366 52. Para Hawari dn Jmun al-Maidah- Ksah Seorng Ali Bahsa 53. Berpsah Slmnya - 449dengn Seorng Tkng Kapal- 387 Peutup - 46245. Marym dn Para WnaAli Srga - 39446. Menyberngi Dnau Jailah - 41247. Di Pnggr Sbuah olm - 418 Srah “Apa jadinya seorang yang mencintaimu?” Jariyah “Katakan kepadanya, Janganlah pernah merasa takut!’” Syah Sungguh betapa sulit menguak isi hati. Seperti menimbaair di sumur yang dalam, harus penuh kesabaran dan reladengan seberapa yang didapat. Padahal, tidak ada satu sumurpun dapat ditimba air kata-katanya yang pantas untuk SangKekasih. Sumur begitu pemalu, begitu menutup diri. Ialebih suka merahasiakan dirinya daripada seperti itulah adatnya. Sementara itu, air tak mungkin sama saat beradadalam wujud awan dengan saat berada di dalam lubuk hatisumur. Setiap air akan berasa seperti tanah tempat sumurmenyimpannya. Sama persis keadaannya dengan hatimu. Tak mungkinhatimu mampu menuturkan Sang Kekasih dengan hal ini sudah sejak awal engkau ketahui. Tentu saja, engkau tidak tahu bagaimana akan bertuturkata tentang wanita cantik itu, tentang Sang Kekasih, tentangseseorang yang bernama Maryam. dia adalah Maryam milikmu. Bukan Maryam yangturun dari langit... Namun, engkau dapat menerka-nerka sosok Maryamdengan mengusapkan tanganmu pada hamparan jalan yangsepanjang abad dilewati penuh dengan linangan air mata,dengan meraba pada hamparan bebatuan besar dan kecilyang menutupinya, dengan menyapu debu-debu jalanan yangmeninggalkan jejak tentang dirinya. Kemudian, engkau melewati jalan yang penuh membawakenangan itu dengan ribuan kali pertobatan. Oh tidak, tidakmungkin engkau akan melewatinya.... Tidak mungkin engkau dapat melewatinya... Tidak mungkin kekuatanmu cukup untukmelakukannya... Cakrawala pengetahuan tentang “hakikat sang kekasih”hanyalah yang berharga bagimu, meski tidak mungkintergapai sebagaimana tingginya langit, meski begitu membuaibagaikan dimabuk cinta yang tidak diketahui. Tidak pernahpula terukur ambang batasnya. Jika semua tentang dirinya menjadikan rasa ingin tahuyang begitu mengguncang, seluruh yang bercerita tentangdirinya telah membuat jari-jemari tanganmu sebuah hakikat, cerita penuh kebohongan dangosip yang paling tidak mungkin sekali pun telah memberimukekuatan untuk selalu mengejarnya. Dan aku pun berlari. Aku kumpulkan. Aku perhatikan. Dan aku menjadi urung kemudian. Sampai aku bangkit, untuk mengumpulkan kembali. kumpulkan. Dan aku kumpulkan. Aku siapkan. Namun kemudian, terlihat bahwa setiap pigura yangmembingkai kenangan tentang dirinya terasa seperti sebuahketidakadilan, aib, dan rasa tidak tahu diri. Aku pun terdiam. Hingga aku kembali tersentak dengan perasaan tidaksabar. Tidak sabar untuk segera menggoreskan tinta tentangsesosok Wanita Cantik itu. Hingga remuk diriku; tercerai berai. Kerdil diriku. Kerdil hingga mendekati lenyap akibat luapan cinta. Inilahyang untuk sekali lagi aku ketahui. Sampai ia pun mengajarikubertatakrama seperti seorang malang yang ditempa untukpengabdian. Mereka adalah orang-orang sebelum bertanya kepada Syah, “Apa jadinya seorang yangmencintaimu?” Mereka itu para pembantu dan budak Maryamyang menuliskan namanya pada bebatuan pegunungandemi mendapati sesosok dirinya pada setiap apa saja yangdilihatnya. Sementara itu, sebagian yang lain melukiskan sosokdirinya agar tidak pernah lupa dan meninggalkannya. Yanglain lagi mencoba melupakan guncangan cintanya denganmenuliskannya ke dalam bait-bait puisi, seperti seorang yangminum sampai mabuk tanpa bisa berbuat apa-apa. Setiap disebut nama “Maryam”, semua orang yangmencintainya, kita menyebutnya para penggilanya, tetapmeniti jalan sekehendak mereka sendiri. Sementara itu, diriku adalah orang baru. Karena itu, aku lewati jalan mereka semua satu per satutanpa pernah mengenal jemu. Aku kunjungi setiap mimbar kitab-kitab lama, cerita-cerita terdahulu, kisah-kisah penuh hikmah, Perjanjian Lama dan Baru, Mazmur,Alquran al-Karim, kasidah gubahan Daud , Suhuf Idris yang hilang berserakan, kitab-kitab tabir mimpi, zodiak,peta bintang, rintihan-rintihan para unta yang dengan sabarmenarik pasungnya, kisah yang terucap dari penuturan buahzaitun tentang dirinya, cerita ikona, lukisan-lukisan, sertagoresan-goresan karya kaligrai. Aku dengarkan semuanyatanpa sedikit pun menyela untuk berbicara. Kesemuanya adalah para pengembara, ibarat dua matabuta yang jatuh ke dalam cinta buta. Sampai selang beberapa lama aku dapati diriku seolahbersimpuh di depan tungku perapian mendengarkanpenuturan cerita sepasang suami istri. Siapakah diriku selain sebagai seorang tukang gosip? Pudar wajahku dalam bayangan cermin di pasar perhiasansaat mencari seorang Maryam… Ya… cinta ini telah membuatku tidak tahu malu. Hingga selang beberapa lama kemudian, saat aku lantunkansalawat ke haribaan baginda Muhammad , kudapati dirikusadarkan diri. Sungguh, ia telah menjadi pundak dan juga kainkafan bagiku. Telah menjadi satu kesatuan dalam kelahirandan juga kematian dalam pengembaraanku. Tak lebih daripekerjaan “merangkai” mengenang nama baginda Muhammadyang mulia. Tak lagi diriku memiliki cara yang lain sehingga akubergenggam erat kepadanya Allahumma shalli ala Sayyidina Muhammad wa ala aliSayyidina Muhammad… -o0o- Cahaya eing Marym Ia adalah kening sang kekasih, tertuang dalam bait setiappuisi, dalam goresan setiap lukisan, dalam setiap relief, daningatan... Sedemikianlah ia dimuliakan. Bagi orang Timur, gambar adalah pantangan. Takut kalaumenyinggung, memenjarakan kenangan dari sang kekasih.“Mencintai tanpa menyentuh,” demikian kata orang untukdirinya. Wajahnya telah mengajari kita melukis. Gambar sangkekasih bukanlah lukisan. Ia adalah “riwayat” bagi kita, kisahmulia. Karena itulah nama kita hanya sebatas disebut sebagai“ahli riwayat” dalam pembicaraan tentang cinta. Dan menurut riwayat pula, dibaca dengan mad panjang,saat menyinggung tentang keningnya. Bacaan panjang. Demikianlah kening Maryam. Ia harus seperti jauh dan terang kilau pancaran cahayayang tak disentuh, tak pernah disentuh tangan. Ia adalah sebuah rumah yang bersih bagaikan pun tak pernah terbang dari atasnya. Sebuahrumah yang terbuka luas untuk setiap anak yatim. Sebuahtitik koordinat ukhrawi yang menjulang tinggi ke langit. Letakpersimpangan jalan samawi. Demikianlah “terang keningnya”. adalah “tempat” yang telah dipilih untuk menuangkankalimat Allah . Ia adalah peluang. Kemungkinan. Dan Maryam adalah seorang terpilih. Terbebas dirinya dari semua ikatan duniawi, bersihsuci, zakiyyah, perawan. Ia adalah sosok sempurna, sampaikehidupan pun tak pernah bisa meninggalkan bercakkepadanya. Itu karena ia adalah orang yang rasa gentar pun sama sekali tak pernah bisamenyentuh, mendekatinya. Sempurna tanpa cacat. Licin, tanpa kotoran barang sebercak. Dan Maryam adalah seorang yang telah diberi isyarat. Yang telah dilukis dengan tinta Allah . Ia adalah sebuah garis, yang mempertemukan antara bumidan angkasa. Sebuah titik, tempat pertemuan antara malaikat danmanusia. Dan Maryam menunggu dengan penuh kelembutan,selembut kain sutra. Dirinya adalah batu keseimbangan. Batu keharmonisan. Batu tirai. Sebuah tirai yang melarang dua sisi bersentuhan, bagaigaris arus yang memisahkan dua lautan. Dan ia adalah barzakh. Yang menjaga rahasia; yang tidak berbagi, tidak pulabercerita. Ia mengandung kalimat. Berpuasa untuk bicara. Terkuncimulutnya, terjaga dari membuka rahasia. Berbuka puasanyaadalah bicara sang anak. Saat putra Maryam berbicara, saatitulah seisi alam ikut berbuka puasa. Terbuka pula hati yang dari hakikat sehingga seisi alam penuh dengan kilaucahaya. Ketika putra Maryam berbicara, saat itulah Maryammenjadi penuh cahaya seperti lilin yang menyala terang dimalam-malam mulia dari atas menara masjid. Ia diam, sementara sang putra bicara. Semakin terusbicara, semakin terang lilinnya berpijar. Nyala lilin itulah yang menjadikan terang keningMaryam. Adalah nyala obor. Obor Maryam, yang memancar cahayanya dalam setiaptarikan napas Jibril. Napas yang membuat setiap benda yangdisentuhnya bernyawa; menjadi hamparan taman kembali jasad yang telah mati, sembuhkembali seorang yang sakit, terbang kembali seekor burungatas izin Allah, atas takdir yang telah digariskan-Nya. Takdirpula yang telah menjadikan kening Maryam sebagai sanalah pagi bermula. Di sana pula mentari menampakkanwajahnya dan kembali lagi menyelinap setiap datang waktumalam. Kening Maryam juga sebuah peta terang yangmengantarkan setiap pejalan ke tempat tujuan, yang memberiisyarat, tanda, lambaian tangan, melawat, mendoa. Adalah bahtera waktu yang tiada henti terus berlayar darizaman yang kekal menembus hari esok yang tidak diketahuiujungnya, menapaki jalan yang terang oleh pancaran cahayalampu lautan, yang tak lain adalah terang kening Maryam. Ya, Maryam adalah terang lampu lautan. Cahaya kening Maryam seterang sorotan lampu di ketinggian menara yang tak pernah tersentuh, tak sekalipun dipadamkan oleh tangan seorang. Sebab,pancaran cahayanya adalah inayah dari Allah . Cahaya kening Maryam yang menerangkan titah takdiryang begitu pedih bagi seorang ibu. “Yaa laytani....”, demikian jerit pedihnya. “Jika aku mati, tanpa mengalami semua kejadian yangditimpakan kepadaku ini. Jika aku mati, dilupakan, tanpaseorang pun akan tahu...” Cahaya kening Maryam. Beban terberat yang pernah ada di dunia. Dalam beratnya ujian, tinggi menjulang Gunung Araratpun hanya menempel kepadanya. Demikian pula itulah punggung Maryam merunduk. Dalam cahaya keningnya, ia diitnah dengan dakwaanyang paling memalukan. Terguncang dirinya bagaikan perahutongkang dalam lautan berbadai dakwaan, “Mungkinkahsaudara putri seorang Harun berbuat senista ini?” Sebatang jarum dalam hamparan samudra. Terhempassampai ke dasar yang paling dalam. Apalah daya ia sebatangkara. Adalah Maryam dalam tempat ketika matematika danangka keluar darinya. Setiap hitungan lebih pada Maryam. Terempas ia sebagai seorang wanita, dalam kenihilanyang tak pernah bisa terhitung oleh matematika. Diitnah. Dalam dasar sumur yang terdalam. Ia didakwa dengan tuduhan yang paling pedih bagiseorang wanita. Allah telah menuliskan surat pengampunanbaginya pada seluruh alam! Maryam adalah satu senjata. Dan memang, dirinya adalah seorang yatim, sebatangkara. Lebih dari itu... ia juga menjadi ibu dan juga ayah bagiputranya. Seorang wanita yang garis takdirnya begitu beratmelebihi berat massa besi. Seorang manusia. Seorang wanita. Tak ada seorang pun yang mengusap-usap punggungnya,tak ada seorang pun yang membelai rambutnya. Yatim dia,dan juga sebatang kara... Ah! Tapi janganlah engkau bersedih karena rezeki datangdari Allah. Termasuk rezeki seorang yatim seperti Allah ada, apalah artinya berpedih hati! Tak ada kerisauan adalah saat kita tak menghadirkan Allah .Kita sendiri dari Allah dalam keramaian keinginan, harapan,harta-benda, pangkat, dan jabatan... Dan Maryam adalah muqarrib. Hamba yang dekat denganTuhannya. Seorang yang menggenggam kalimat Allah di dalamkepalan tangannya. Yang dengan itu, tak ada satu pintu punyang tak akan terbuka. Ya, terbuka semua pintu bagi seorangsahabat akrab seperti dirinya. Dan terang kening Maryam adalah tanpa pintu. Seorang hamba! Cahaya keningnya adalah setia pada perintah “Uqnut yaMaryam!” Bersujud hormatlah setiap malaikat untuk menciumterang keningnya. Terang kening yang sama sekali tidak memberi muka selain pada keridaan Allah , cahayayang menjadi tanda nur hidayah-Nya. Maryam adalah seorang yang telah tergadai. Bagaikankening hewan kurban yang diberi isyarat warna. DemikianlahMaryam, ia telah diberi tanda. Ya, Maryam adalah seorang yang telah dirias denganriasan sujud pada keningnya dan air pada tangannya. Sebagaimana mawar juga telah merias lembut bibirnya;dengan stempel bacaan doa, dengan segel lantunan zikir. Adalah sifat pemalu dalam cahaya kening karena malu. Seorang yang malu pada dirinya. Maluuntuk menjadi dirinya. Jika saja harus meminta demi dirinya,ia pun akan lebih memilih menjadi tanah yang tak Maryam. Ia adalah seorang yang terpendam, tertutup, terlarang. Ia adalah Maryam. Seorang ahli rida. Melarang diri dariterlihat. Tertutup, terlindungi dengan selimut. Begitulah, diaadalah seorang yang maksum atau terjaga. Tak pernah seorang pun mampu memintal selimutpelindungnya karena jilbabnya adalah tangga Allah yang telah menjadikan jilbabnya sebagai tanggamihrab. Adalah putih lembut kening Maryam, seputih, sehalal airsusu ibu. Terang kening Maryam, yang mengangkat ke derajatyang tinggi, yang khusus bagi hamba yang selalu memuji... Terang kening Maryam, yang telah distempel dengankalimat tauhid. -o0o- yng Slalu Terbka Tangan Maryamlah yang menuntun, mendekap,melindungi, menopang, dan meninggikan putranya. Dalamsejarah, tak ada seorang pelukis yang menggoreskan kuasnyadan menggambarkan Maryam dengan tangan tertutup atauterkepal. Seorang Maryam selalu digambarkan dengan tanganterbuka. “Tangan terbuka” adalah perjuangannya dalam kerelaanmenerima takdir yang telah digariskan kepadanya. Tanganterbuka yang digubah dalam syair dan puisi sebagai tanganpenyabar dan penyayang. Sebagai tangan yang selalu perjuangan memikul ujian menghadapi berbagaikesulitan, memegang amanah dari Allah untuk masa depandengan kekuatan yang terhimpun dari doa. Bukanlah tangan Maryam, tangan yang berkepal,tertelungkup, dan lemah. Bukankah tangannya sebagai “perantara” yangmenggenggam “Kalam Allah”? Sebagai penggenggam yangmenggemakan Kalam Allah. Ia adalah kotak kalimat. Gelas. Lahan. Dan pembungkus kalimat... Dialah seorang ibu yang putranya adalah “kalimat” Allah. Sementara itu, putranya sendiri adalah kebaikan yangtelah dihibahkan untuk umat sekalian alam. Bukankah pada dasarnya setiap bayi yang lahir adalahkarunia dari Allah ? Sementara itu, ibundanya adalah orangyang menerangkan, menuntun ke dalam kehidupan duniaini, mendekap, serta menyelimuti untuk melindunginya darisegala marabahaya. Maryam adalah buaian bagi Isa , selimut, pakaian bagiputranya. Tegak Maryam, menuntun sang putra di atas dirinya ibarat tanah itu sendiri. Laksana seorangrendah hati yang menumbuhkan “benihnya” di dalam jiwanyasendiri. Terbuka tangan Maryam, menengadah ke langit. Tangan yang menggenggam alam langit dan bumi iniseperti kontur di antara Pencipta dengan ciptaan-Nya. Seolah-olah Rabb telah menghamparkan seisi langit dan bumi kepadaseorang ibu yang mendekap erat anaknya. Dan seorang ibu adalah faktor penting yang merekatkanmasa lalu, masa yang akan datang, dan kehidupan di masasekarang demi hormat atas terbukanya kedua tangan untukberdoa. Perekat, yang menurunkan langit mendekati bumi, yangmeninggikan bumi sejengkal dari langit. Dan Maryam adalah perantara. perantara, yang menjadi poros pusat sebagai acuandesain segala ciptaan di antara langit dan bumi. “Adalah tangan para ibu”. Tangan yang menggenggam penuh dengan tangan seorang Maryam, yang menggenggam“kalam”, yang mendekapnya, menjaga, dan menjadi tempatpertama berlindungnya. Allah telah mengamanahkan “Kalam-Nya” kepadadekapan ibu dan kepada tangan-tangan yang relaterhadapnya. Dan Maryam, seorang ibu yang tangannya tiada henti berkerja. Meski lemah secara itrah untuk selalu bekerja, bergerak,dan melakukan sesuatu, dalam kaitannya dengan tugasmelindungi, tangan Maryam ibarat tangan petani yang sabarmerawat tanamannya. Perjuangannya untuk menumbuhkanbenihnya adalah jerih payah tangannya, cucuran keringatnyasendiri. Dan Maryam memikul kedua tugasnya, sebagai tanah danjuga sebagai petanai yang merawat tanah itu. Mungkin, karena hal inilah menjadi ibu adalah mulianamun susah. Dalam waktu yang bersamaan menjadi perawat,baik tanah maupun benihnya, melekat di dalam hal yang kontradiktif dalam ruhnya. ibu yang rendah hati, serendah tanah yangmemandang ke langit, menantikan turunnya curahan airhujan, seraya membuka dirinya di bawah hamparan menjadi ibu yang begitu gigih, meradang,menerjang, berjuang demi menghadiahkan apa yangdianugerahkan kepadanya dari langit. Ibu adalah seorang yang merobek jiwanya untukmengeluarkan Kalimat yang ada di dalam lubuk hatinya. Seorang pemikul amanah. Seorang yang menerima untuk diberikan. Yang satu dari dalam jiwanya dan yang satunya lagi daridalam sikapnya. Dua tindakan yang membubung seperti madjazir dalam kehidupan seorang ibu. Ia terima dengan penuhperasaan malu dan tertunduk apa yang telah ditiupkan malaikatsebagai takdir dari Ilahi. Putranya pun akan mengeluarkan“perkataan” dari dalam lubuk jiwanya yang akan membuathamparan dunia berubah. Maryam adalah satu namun dua. Sebagaimana dua sisidalam satu neraca. Maryam begitu piawai. Kehidupan sebagai seorang ibu telah menjadikan dirinya piawai, ahli. Mampu menjadikan malaikat kehidupannya sebagai manusia. Karena itulah ibu merupakan satu kesatuan dengananaknya. Tiada arti keberadaan dunia ini seisinya tanpakeberadaan sang anak sehingga dirinya sangat “khawatir” hal ini. Gesit, dan bertangan terbuka. Menyatudengan sang anak di sepanjang waktu. Demikianlah, Maryamtak pernah berlepas tangan dari Isa, putranya. Tak mungkin ia berlepas tangan. Dan oleh karena itulah putranya juga akan selalu diingatbersama dengan ibundanya. Berkat itu pula nama kenabianIsa adalah “Isa Ibnu Maryam”. Demikianlah tangan Maryamyang selalu terbuka, selalu menopang punggung putranya.... -o0o- Sng Dkn Bayi “Nah, orang inilah!” kata Wali Pilatus dengan suara lantangsembari tertawa. Ia memandang ke bawah dari atas balkon marmeristananya. Satu tangannya menunjuk ke arah seorangpemuda terlilit rantai yang disangka Isa. Satu tangannya lagiberganti memukul ke arah udara. Tatapannya penuh dengankemarahan. Urat-urat nadi di lehernya terlihat keluar. Dalam pandangannya, patung Raja dan Tuhan Caesar disebelah selatan tempat peribadatan istana yang didatangkandari Roma dengan menghabiskan dana besar seolah-olahbangga kepadanya sebagai seorang Pontius Pilatus, banggamendengarkan seorang Wali al-Quds yang sedang bicara. Untuk sekali lagi, sang wali menatap ke arah parapenduduk al-Quds yang berduyun-duyun memadati halamanistana dengan tatapan yang begitu sinis setengah kasihan. Jubahnya yang memanjang sampai ke lantai memaksadirinya berjalan pelan dibantu beberapa orang. Ia punberhenti di tataran pertama sebuah tangga di samping semua orang tertuju kepada seorang pemuda. orang inilah!” kata Pilatus. “Inilah orang yangmengajak kalian berbuat makar dengan berpura-pura rendahhati, berpura-pura menjadi guru rohani. Inilah sosok yangmenyebarkan itnah dan kebencian. Dia ingin memecah belah,menentang Roma dan Tuhan Caesar. Inilah orangnya!!!” Napas setiap orang seolah-olah terhenti, terpaku menatapke arah balkon. Pada saat itulah anak muda yang tubuhnya dililit rantaiitu dengan penuh susah payah dibawa ke hadapannya. Padapunggung anak muda itu melekat sehelai kain penutup yangterbuat dari bulu domba yang sering dipakai para pemudayang telah menganut agama baru. Cukup tinggi tubuh anakmuda itu. Rambutnya memanjang sampai ke yang putih tertunduk, dengan kedua tangan dankakinya terlilit rantai. Saat itulah ia dipertontonkan kepadasemua penduduk. “Orang inilah,” kata Pilatus, “yang sudah gila danmenyatakan dirinya mampu menghidupkan kembali yangsudah mati. Seorang juru sihir dan juga mata-mata yangmengembuskan kebencian kepada Roma!” Pilatus kemudian bicara dengan suara lirih, berbisik, seolahmenirukan gaya bicara para pembantu penjilatnya, “Sekarangmari kita tanya kepada orang ini! Siapakah ayahmu, wahai ruhsuci? Bisakah kamu menyebutkan nama ayahmu sendiri?” Sama sekali tidak terdegar jawaban apa-apa. “Heiii! Kami tidak bisa mendengar kamu bicara. Ceritakantentang siapa ayahmu agar semua warga Yahuda tahu, haianak yatim malang! Bicaralah!” Anak muda itu hanya terdiam tanpa menjawab barangsepatah kata. Ia terus menahan rasa sakit oleh luka yang darah sampai telinganya. Ia tak mampu untukberdiri. “Inilah orang yang kalian ikuti kata-katanya untuk berbuatmakar. Ketahuilah, sesungguhnya dia tanpa ayah, wahaiwarga Yahuda! Ibunya yang bernama Maryam juga seorangwanita pendosa yang telah diusir dari tempat ibadah yang dikatakan para tetua kalian. Oh tidak, tidak....Aku bersumpah demi Caesar, aku tidak berucap demikiantentang Maryam. Semua ini adalah apa yang telah diputuskanpada Maryam dan putranya di hadapan hukum kalian wahaibangsa Yahuda!” “Inilah orangnya!” “Coba perhatikan! Orang ini pun tidak menjawab apa yangaku katakan. Jangan sampai kalian ikut tertipu olehnya. Dirinyasendiri pun tidak tahu siapa ayahnya. Dia juga tidak tahu darahketurunan siapa yang mengalir dalam urat nadinya. Karenadia hanya diam saja tidak bisa menjelaskan siapa ayahnya,kita pun akan mendapatkan jawabannya dengan bertanyakepada darah yang sebentar lagi akan mengucur dari uratnadinya!” kata Pilatus penuh kemarahan, sampai-sampai diajuga memukul keras seorang pelayan minuman yang berdiridi sampingnya saat sedang membawa nampan. Pelayan itupun tersungkur sehingga gelas-gelas dan nampan yang dibawajatuh berserakan. Minuman keras berwarna merah darahpun tumpah membasahi tangga. Pilatus menunduk sambilmenyapu minuman keras yang membasahi tangga itu dengantangannya. Jarinya yang basah dikecap seakan-akan sedangmeminum darah sosok yang disebut Isa itu dengan berlagakseperti seekor binatang buas. begitu, kita akan tanyakan siapa ayahnya kepadadarah yang akan mengalir dari urat nadinya! Wahai HakimKaldion, segera bacakan hukumannya!” Setelah dua kali berpura-pura batuk, Kaldion mulaimembaca beberapa bait surat keputusan dalam bahasa Latinyang diambil dari dalam gulungan kotak emas. Dalam suratitu, Augustus memulai tulisannya dengan sanjungan danpernyataan setia kepada Caesaria yang memiliki kekuasaanmembawahi Mesir, Antakia, al-Quds, dan seluruh wilayahSyam. Penyebutan kesetiaannya kepada Roma ini menunjukkansebuah tantangan kepada bangsa Yahuda. Setelah kekuasaan Batlamyos atau orang-orang Yunani,semua daerah tersebut digabungkan ke dalam wilayah pasti, untuk mengatur negara bagian Timur yangsangat jauh dari pemerintahan pusat, Roma akan mengangkatseorang wali yang setia atau akan menunjuk seorang dariRoma. Sudah pasti pula kalau permasalahan paling pelik didaerah kekuasaan Timur ini adalah beragam keyakinan yangtidak sejalan dengan keyakinan Roma. Meski sebenarnya Roma tidak pernah menerapkanperlawanan terhadap keyakinan lokal setiap daerah yangberhasil mereka kuasai, dengan mapannya kekuasanpolitik dan ekonomi, lambat laun keragaman keyakinanlokal tersebut dipaksa untuk tunduk. Hal ini juga terjadipada keyakinan Tauradi yang mendominasi kebanyakanrakyat Yahuda. Awalnya, pemerintah Roma tidak langsungmemeranginya, bahkan terhadap para pendeta pun pemukaagama Roma berpura-pura menjalin hubungan yang baiksampai memberikan status politik tersendiri. pendeta Baitul Maqdis juga sebisa mungkin menjalinhubungan baik dengan Wali Roma, Pilatus. Namun, padamasa-masa terakhir ini, keadaan mereka sebagai para pendetaberada dalam kondisi yang sangat susah karena wilayah al-Quds dilanda masalah kekuarangan air. Bersamaan dengandiberlakukannya pajak yang sangat berat untuk membuatsaluran air ke dalam kota, warga mulai tidak simpati kepadapara pendeta. Terlebih dengan adanya patung besar Caesardari Roma yang didirikan di Meydan yang terletak disebelah Mabed, tempat ibadah mereka, yang telah menyulutkemarahan bangsa Yahuda. Bangsa Yahuda telah siap melakukan tempur, ibaratgranat yang telah dibuka pelatuknya. Masyarakat telah ramaimenyerukan bahwa “Membayar pajak dan menjadikan kaisaryang fana sebagai Tuhan adalah hal yang tidak benar.” Sebenarnya, pembicaraan yang santer terdengar dari mulutke mulut ini sudah sangat mengganggu pejabat Roma dan jugapendeta di Baitul Maqdis. Lebih-lebih, dengan kedatanganseorang bernama Isa ibnu Maryam, hal itu semakin menyulutkeadaan yang sudah memanas. Seorang pemuda yang menamakan dirinya “mualim” atauguru ini telah menyatakan dirinya sebagai utusan Allah. “Kita semua adalah bersaudara,” katanya. Ia bercerita tentang Ibrahim, Musa. Ia mengajak semuapenduduk untuk hanya taat kepada Allah yang Esa. Karenaajakannya inilah ia dituduh telah menghasut dan membuatpropaganda kepada masyarakat untuk berbuat makar.“Sungguh, apa yang telah dilakukan pemuda ini adalah sebuahkesalahan besar di sepanjang sejarah kehidupan Roma,” katamereka. itu pun harus dihukum. Karena telah berbuat makar kepada pemerintah, dia harusdisalib. Tiga hari sudah dari persidangan yang menghasilkankeputusan bahwa pemuda itu akan dipancang di tiang salibdengan kedua tangan dan kakinya dipaku. Setelah itu, sekujurtubuhnya akan diremukkan sampai mati. Saat Hakim Kaldion mengumumkan bahwa sidangdan vonis hukuman akan dilakukan tiga hari lagi, wargayang berkumpul menjadi ribut. Sekerumunan pemudayang mengenakan baju yang sama dengan terdakwa salingberbisik. Sementara itu, seorang wanita tua bernama Merzangussaat itu sedang menunduk dan membungkukkan badannyamelihat ke bawah dari ketinggian balkon. Ia menggeleng-gelengkan kepala melihat ke arah Kaldion dan sesekali melihatke arah si pemuda seraya dengan khusyuk memanjatkan itulah Wali Pilatus memerhatikan wanita tua itu dankemudian membisikkan sesuatu kepada para lama kemudian, dua penjaga kerajaan menuruni tanggake arah balkon untuk mendatanginya. “Hai Nenek! Nyonya Prokula memanggilmu!” kata merekaseraya menggandeng kedua lengan tangannya untuk dibawamenuju pintu istana bagian barat. -o0o- Lama sudah Nyonya Prokula menunggu Merzangus dalamtangisan penuh linangan air mata sehingga kedua matanyamembengkak. Segala cara sudah dilakukan, namun tetap tidakbisa meyakinkan Wali Pilatus yang menjadi suaminya. Baru kali Nyonya Prokula pernah bertemu dengan Isa putraMaryam yang disebut-sebut masyarakat sebagai seorangpembimbing. Pertama kali ia melihatnya saat mengobatiorang buta. Yang kedua ia mendapati Isa putra Maryam saatberdakwah kepada masyarakat untuk tidak menyembah tuhanselain Tuhan Yang Maha Esa. Sebenarnya, seseorang yang telah membuat hati Prokula tersentuh hingga luluh adalah ibunda Isa, yaitu Maryam. “Bunda Maryam,” demikianlah masyarakat menyebutnya. Tepatnya, beberapa tahun lalu, setelah dengan penuhsusah payah meyakinkan suaminya, ia akhirnya dapatmengunjungi Maryam. Ia meminta doa kepada Maryamsehingga putrinya yang bernama Dafne sembuh dari sakitparah. Hanya saja, beberapa waktu lalu Dafne jatuh dari punggungnya patah dan kemudian meninggal duniapada usia yang masih sangat muda. Remuklah hati malam ia menangis dan mengurung diri di dalam kamartanpa mau keluar. Ia juga sama sekali tidak mau bertemudengan siapa pun. Sampai-sampai Pilatus berkata, “Jika terusbegini, ia akan jadi gila.” Semenjak putrinya yang bernama Dafne sembuh, hampirdelapan tahun lamanya Nyonya Prokula taat pada ajaranMaryam. Sesekali ia mengunjungi rumahnya. Merzangussendiri adalah wanita tua yang menjadi teman dekat sekaligustempat berbagi rahasia Ibunda Maryam. Maryam sama sekali tidak pernah menginjakkankakinya ke istana. Jika berkeinginan untuk menyampaikanberita, ia akan mengutus Merzangus untuk Maryam juga menganjurkan Merzangus seseringmungkin mengunjungi istana demi memberikan dukungankepada Prokula yang menjadi satu-satunya orang di dalamistana yang beriman. Pilatus, sang suami, sangat keras kepala. Segala cara akania lakukan demi mendapatkan simpati penguasa Prokula merasa sendiri dalam kemewahan parapejabat negara yang begelimangan kenikmatan menjadi dusta baginya dan kehampaanlah yang iarasakan. Sementara itu, Pilatus mendasarkan semua penderitaanyang dialami istrinya lantaran putrinya yang bernama Dafnemeninggal dengan begitu mendadak. Karena itu pula, Pilatusmembiarkan seorang dukun bayi dari al-Quds bernamaMerzangus keluar-masuk istana dengan bebas. Meski tahu Merzangus dekat dengan Maryam, Pilatustetap menahan diri karena dialah sosok satu-satunya yang bisamenjadi pelipur lara bagi istrinya. Pilatus pun membiarkandirinya bersama istrinya. Selain itu, ia sebenarnya juga telahmenyebar mata-mata di seluruh penjuru al-Quds. Karenaseorang yang menjadi pelindung bagi rakyat yang menderita,yaitu Isa, telah berhasil ditangkap olehnya, biarlah Merzangussementara menenangkan hati istrinya. Di saat Pilatus sedang memikirkan semua ini, Merzangustelah berada di dalam kamar Prokula. Meski Prokula telah berupaya menerangkan mimpi yangdialaminya kepada sang suami, dan meski telah berupaya bahwa pemuda yang ditangkapnya hanyadengan alasan yang tidak masuk akal sebenarnya adalahutusan dan kekasih Tuhan, tetap saja ia keras kepala. Bahkan,Pilatus semakin benci, marah, serta menganggap istrinya cara penyembuhan pun sudah diusahakan. Namun,para tabib yang dipanggilnya tidak kunjung menjadi perantarabagi kesembuhan istrinya. Pilatus pun semakin marah danakan memenjarakan atau mengasingkan para tabib yangtidak bisa mengobati istrinya. Hampir tidak tersisa sudah carayang ditempuhnya untuk mengobati istrinya. Segala macamobat tumbuh-tumbuhan, sihir, dan tabib tidak mampumenyembuhkan istrinya. Hampir selama dua belas bulan terakhir ini Prokula bermimpi hal yang sama ada bulan yang tiba-tibaturun dari langit ke dalam istana, menjadikan ranjangsang suami bersimbah darah dan para malaikat yang wajahnya tidak dikenal melaknat sang suami. Sejak saat itulah Prokula terus mengurung diri tanpamau makan dan minum. Tubuhnya semakin kurus dan tidakbertenaga. Ia terus menyendiri tanpa mau bertemu selaindengan Merzangus. -o0o- Dengan penuh kesombongan, Pilatus menyapu pandanganke arah kerumunan rakyatnya yang memadati alun-alun Ia merasa semakin bangga mendengar kerumunanrakyatnya yang serempak mengelu-elukan namanya. Ah,seharusnya istrinya saat itu berada di sampingnya, bersamamerasakan kebanggaan itu. Ah Prokula! Mengapa istrinyabisa menjadi sedemikian gila sampai mau meninggalkannyademi mengikuti seseorang yang ayahnya pun tidak jelas danmengaku sebagai nabi.... -o0o- “Bagaimana keadaanmu, wahai anakku?” tanya Merzangussaat memasuki pintu. Seharusnya Prokula tidak mendengarpanggilan itu karena wajahnya tertelungkup di saat itu juga ia bangkit seraya berlari menyambutkedatangan Merzangus. Ia bersimpuh di depan kakinya. “Dia akan membunuhnya, dia akan tahu, pasti dia akan membunuh Isa, nabi kita. Ah,Ibunda! Seharusnya kita melindunginya. Seharusnya kitamenyembunyikannya secepatnya,” kata Prokula sembarimenangis sejadi-jadinya. Ibunda Merzangus juga ikut menangis. “Janganlah engkaumenangis anakku. Kita tidak boleh menangis. Pasti Tuhantelah menggariskan takdirnya untuk Isa putra Maryam. “Namun, sekarang orang-orang telah mendengar pengumuman semua pembesar kerajaandipanggil untuk menyaksikan hukumannya.” “Apakah kamu benar-benar telah menyaksikan siapa yangtelah ditangkap, anakku? Apakah benar ia adalah Nabi kita?Aku mengenal baik dirinya sejak di hari kelahirannya. Akujuga mengenal dekat ibundanya sejak sang putra dilahirkan. benar, pemuda yang ditangkap itu sangat miripdengan Nabi kita. Namun, bersabarlah sampai terkuakhakikatnya. Kita bicarakan mengenai hal ini nanti. Sekarang,kita harus segera mencari cara untuk bisa keluar istana. Waktukita hanya sebentar. Ibunda Maryam telah menunggumu. Ayo,segera bersiap-siap. Kita tidak lagi dapat tinggal lebih lama disini.” “Tapi, bagaimana mungkin aku kuat berjalan. Tubuhkusangat lemah.” “Aku akan membantumu anakku. Ayo, biar segera akuambilkan pakaianmu sembari bercerita kepadamu. Pernahkahkamu mendengar cerita hidup seorang dari Gendora bernamaMerzangus? Ah... banyak sekali hal yang sudah aku lihat, yangsudah aku alami...” Merzangus terus bercerita sambil dengan cepatmempersiapkan pakaian dan barang-barang yang bercerita mengenai masa lalunya dari satu topik ke topikyang lain yang berlalu bersama masa lalu Ibunda Maryam... Seolah-olah, apa yang diceritakan Merzangus adalahsebuah catatan harian. Sebuah catatan harian yang dia tulismengenai Ibunda Maryam... -o0o- Ksah Merangs Di antara makhluk di bawah bintang-bintang di langit,siapakah yang jauh lebih dekat kepada Allah daripada seorangyatim... Merzangus hidup sebatang kara. Tidak ada yang dia milikidi dunia ini selain langit yang memayungi dan hamparan bumiyang menjadi penyangga tempat berbaringnya. Tidak ada lagi seorang yang dapat ia panggil sebagai“saudara”, tidak pula seorang yang akan membantu danmelindunginya. Padahal, usia Merzangus baru delapan tahun. Ayah, ibu,keluarga, dan sanak saudaranya tewas dibantai para penyamunyang menjarah kampung halamannya. Untunglah, saat ituterjadi, Merzangus sedang diminta menimba air di sebuahsumur di kampung sebelah bersama teman-teman enam belas anak dan mereka menjadi yatim saat kembalike kampung tempat tinggalnya. Tak beberapa lama, datanglah sekelompok penunggangkuda dari Gendora. Merekalah yang kemudian mengumpulkananak-anak yatim ini untuk dibawa menempuh perjalanan dua sampai ke pusat kota Gendora. Pembantu wali Gendoramemerintahkan agar mereka ditempatkan sementara di pantiasuhan. Tempat sementara agar dapat mandi, menyisir rambut,dan mengganti pakaian sebelum adat diberlakukan. Pegawaikerajaan akan menyebarkan berita ke seluruh pelosok untukmengumumkan nama-nama para yatim. Jika dalam waktusepuluh hari tidak ada keluarga yang mendapatkan mereka,anak-anak yatim itu akan dibawa ke pasar budak untuk dijualkepada siapa saja yang mampu memberikan uang palingbanyak. Dua kali dalam satu tahun diadakan pesta hiburanbertepatan dengan pertengahan bulan. Para pemain musik,tukang sulap, pedagang, peliput berita, pemain teater, dankelompok sirkus berdatangan dari berbagi penjuru untukikut meramaikan pesta rakyat. Pada hari akhir pesta itulahdiadakan acara “lelang yatim”. Para anak yatim akan diberipakaian baru, dirias, dan didandani untuk dipertontonkankepada para keluarga kaya atau pengusaha yang membutuhkanpembantu. Remuk hati Merzangus mendapati kejadian yangdialaminya dalam beberapa hari terakhir ini. Dalam kurunwaktu sekejap saja ia telah sebatang kara. Tidak tersisa lagiseorang pun dari keluarganya. Demikian pula kampunghalamannya. Kini, setiap orang telah menjadi kejam dan asingdalam pandanganya. Semua orang suka memaki dan berlakukasar terhadap dirinya. Bahkan, para pengurus panti asuhanjuga tega memisahkan dirinya dari teman-teman sekampunghalamannya. Mereka membenci kebersamaan di antarasesama anak yatim. Sejak saat itulah Merzangus paham bahwadirinya tidak boleh lagi mengharapkan bantuan dan belas orang lain. Ia pun mulai berpikir bahwa keberadaannyahanya untuk mengabdi, setia kepada seseorang yang akanmenjadi tuannya. Demikianlah kisah seorang Merzangus. Seorang anakyatim yang kini kenangan terakhir akan wajah teman-temandari kampung halamannya pun sirna sudah. Semua orangdi panti asuhan tidak saling bertegur sapa satu sama mereka tidak tahu akan jatuh ke tangan siapa setelahitu? Satu-satunya hal yang mereka tahu, barang siapa bersikapburuk terhadap keluarga kaya yang telah membelinya, ia akandisiksa, dicambuk, dan dipotong lidahnya. Demikianlah apayang diceritakan para pengasuh di panti asuhan. Bahkan, jikasemakin terus nakal, ia akan disuruh untuk menjadi pengemisdi pinggir jalan! Merzangus pun kerap terbangun di keheningan malamakibat mimpi buruk yang menghantuinya. Ia terbangundengan tubuh dipenuhi keringat dingin. Seakan-akan rasasakit masih terasa menyayat ujung lidahnya karena goresanpisau yang dilakukan orang-orang yang telah menebas leherkeluarganya. Remuk sudah hati Merzangus. Beban seberat meriamseolah-olah telah menindih tubuhnya yang kecil. Atau mungkin karena dirinya adalah seorang yatimsehingga beban itu terasa sedemikian berat baginya? -o0o- “Segera hentikan acara ini!” Demikian teriak seorang cendekiawan tua bernamaZahter sembari memukul-mukulkan tongkatnya, meneroboskerumunan warga. Kedatangannya langsung mendapatperhatian karena penampilannya sangat berbeda. Janggutpanjangnya hampir sampai ke perut. Warnanya putih. Dikepalanya terlilit serban putih yang sudah lusuh dan juga putih dan lusuh memanjang hingga ke orang yang melihatnya heran seraya memberi jalandengan perasaan takut. Rupanya, begitu memasuki Gendora dari pintuBesagaclar, cendekiawan yang sudah tua ini telah mendengarberita buruk. Untuk itulah ia bergegas menuju alun-aluntempat diselenggarakannya pesta rakyat. Setelah menempuhperjalanan panjang selama tiga bulan melewati padang sahara,ia akhirnya sampai, meski di penghujung acara. Begitu mendengar berita dari penjaga pintu gerbangbahwa warga telah berduyun-duyun memadati alun-alunkota untuk menyaksikan “lelang anak-anak yatim”, pedihsekali terasa hatinya. “Jangan sampai inilah yang membuatkumeninggalkan kampung nenek moyangku untuk pergi keGendora,” katanya dengan penuh amarah. Sejak enam bulan terjadi perubahan yang tidak sewajarnyadi langit. Sebuah rasi bintang bergerak tidak pada jalursemestinya. Padahal, di usianya yang hampir seratus tahun,ia belum pernah mendapati kejadian seperti itu. Sepanjangmendalami dan mengajarkan ilmu astronomi kepada parasiswanya, tak pernah ada teori yang menunjukkan perubahanarah bintang yang sedemikian tak beraturan. setiap tempat yang dikunjunginya, selalu terdengar keras pembicaraan-pembicaraan tentang berita kelahiran seorang yatim yang akan menjadi raja mereka. Setiap orang saling bertanya kepadanya apakah “Sudahtiba waktu kedatangan seorang yang akan menjadi raja bangsaYahudi yang baru?” Sepanjang sepuluh hari terakhir, Zahter mendapat mimpiyang hampir sama. Mimpi yang memaksanya menempuhperjalanan panjang melewati padang pasir yang sebenarnyabukan hal yang mungkin ia tahan di usianya yang telah hampirmencapai seratus tahun itu. Mimpi buruk yang sama selalumenjumpainya hampir setiap hari, yang selalu membawanyake negeri para leluhur, yaitu Gendora, yang telah dimakan kobaran api itulah terdengar suara seorang yang tidakjelas rupanya. Namun, jelas terdengar di telinga apa yangdiinginkanya. “Hentikan... Segera hentikan!” -o0o- Berarti, kejadian inilah yang dimaksud dalam mimpinya... Sembari memukul-mukulkan tongkatnya ke tanah, Zahterberteriak dengan sekeras-kerasnya. “Hentikan!” “Segera hentikan lelang anak yatim ini!” pedagang budak memberi salam dengan penuhrasa hormat kepada Zahter. Sebenarnya, menurut adat yangberlaku, “lelang anak yatim” adalah hal yang lumrah. Hanyaitulah cara yang mereka lakukan agar anak yatim mendapatkanpengasuh. Jadi, ia tidak mengerti mengapa Zahter tiba-tibamarah dan meminta agar acara lelang itu segera dihentikan. Zahter lalu memandangi satu per satu anak yatim yangsedang dipertontonkan. Setiap anak yatim yang ada telahmendapati kerabat dekat maupun jauh yang akan menjadipengasuhnya. Hanya tinggal satu anak yatim yang tidakmendapati kerabatnya. Tidak ada orang yang dekat dengan Merzangus. Sesuaidengan peraturan, siapa yang mampu membayar denganjumlah uang paling banyak, ia berhak Zahter datang tepat waktu. Dengan menggantisatu keping uang emas untuk setiap tahun usianya, Zahtermemberikan delapan keping emas kepada pengasuhMerzangus. Ternyata, untuk inilah Zahter harus datang ke hatinya sudah tenang. Ia dekap erat Merzangus yangmasih kecil dengan penuh kasih-sayang. “Setelah saat ini, engkau adalah siswaku yang paling kecil,”katanya. Tibalah saatnya untuk melanjutkan perjalanan. Zahtermemberikan kotak berisi buku, pakaian, dan perbekalankepada Merzangus. Mereka berdua duduk bersama di ataspunggung unta dengan pelana yang di atasnya diberi perjalanan yang hendak mereka tempuh. Sesekali merekaberhenti untuk beristirahat dan mempersiapkan makanan. -o0o- akan pergi ke mana, Kakek?” Zahter tidak mau menjawab pertanyaan itu. Iamengalihkannya dengan bercerita hal lain. Berceritabagaimana caranya seseorang membuat rumah. Bahan apasaja yang dibutuhkan agar dinding rumahnya dapat kokoh. “Mengapa langit sedemikian luas, Kakek?” Zahter langsung mengambil tongkatnya untuk membuatgambar segitiga di atas pasir. “Coba perhatikan gambar ini. Namanya adalah bangunsegitiga. Jika dibuat garis lurus, segitiga ini akan terbagimenjadi dua bagian yang sama. Kemudian....” “Kakek, mengapa malam sedemikian lama?” Jawabannya? Lagi-lagi tidak ada... Semakin Merzangus melangkahkan kakinya, ia rasakanseolah-olah dunia ini semakin licin bergulir, semakinmengguncang jiwanya. Namun, setiap kali Merzangus merasa sedih, setiap kaliitu pula Zahter mencari cara untuk mengajarinya sesuatu. Iaajari bagaimana berhitung dan membaca. Kadang, ia berikanlembaran-lembaran suhuf Nabi Idris yang ia bawa dariHabasyah. Atau, ia ajarkan nama-nama tumbuh-tumbuhandan mengenali berbagai rasi bintang di angkasa. Kembali Merzangus menangis. Zahter pun mencari caralain untuk membuatnya melupakan masa lalunya denganmengajari matematika, kimia, astronomi, huruf, puisi, danmenghafal nama-nama tumbuhan obat. Keduanya mengertikalau semua ini adalah cara aneh yang mereka temukan untuktetap bahagia di belantara padang sahara. demikian, tetap saja jiwa Merzangus yang masihberusia delapan tahun begitu sedih ketika teringat kembalidengan keluarganya yang tewas akibat dibantai parapenyamun. Setiap kali Merzangus menangis, Zahter hanyadapat berusaha membuatnya bahagia dengan mengajaknyabelajar, mengambar bangun ruang di atas hamparan tanahberpasir. Demikianlah kehidupan mereka berlalu di sepanjangperjalanan padang pasir yang siangnya panas menyala danmalamnya dingin membeku. “Perjalanan kita masih sangat jauh!” kata Zahter Berjalan dan terus berjalan. Meninggalkan kenangan dankepedihan jauh di belakang. Sampai saat usianya mencapai sembilan tahun, jadilahMerzangus seorang bocah yang pandai membaca danmenuliskan suhuf-suhuf Nabi Idris , menghafal danmelantukan doa dan puji-pujian yang terdapat dalam Taurat,mampu menggambar dan menganalisis peta angkasa, dapatmemacu kuda dengan kencang, bahkan mahir menggunakanpedang. Setiap orang pun terheran-heran saat melihatnya.... -o0o- Pengembaran Merangs Merzangus dan Zahter telah melanjutkan perjalananmenuju ke kota al-Quds. Genap satu setengah tahun keduanyahidup dalam perjalanan. Mereka menyusuri hamparanpadang pasir, mendaki bukit berbatu, serta menerobos kotadan kampung yang amat jauh dari kampung halamannya. Dalam kurun waktu itu, Merzangus pun menjadi terbiasadengan padang sahara. Bahkan, ketika berjalan meninggalkansuatu kota atau perkampungan menuju padang pasir,Merzangus mengira perjalanan itu menuju ke rumahnya. Dan al-Quds. Kota seperti apakah dia? Begitu kuat kota ini menarik Merzangus dan kakeknyabagaikan kutub magnet. Kembali perjalanan mengantarkan mereka padakehidupan di tengah-tengah padang pasir. Siang udara panasmembakar, sedangkan malam cuaca begitu dingin. Meski ditengah-tengah lautan pasir yang tak berujung itu Merzangustidak tahu cara menemukan arah perjalanan, Zahter yakindapat mengenalinya dengan melihat bintang-bintang di langit memerhatikan deretan gunung yang sesekali menghilangdari kejauhan. Kini, Merzangus sudah terbiasa untuk pindah dari satutempat ke tempat lain. Melakukan perjalanan jauh denganmendadak sehingga harus mengemasi barang-barangnyayang hanya diperlukan saja dengan cepat sudah bukan halyang membuatnya takut seperti waktu dulu. Dalam waktu singkat, kehidupan Merzangus memangtelah terguncang tidak keruan. Ia mendapati dirinya saat masihberada di kampung halamannya dan di panti asuhan yangsebatang kara, seperti segenggam rumput yang terombang-ambing di tengah-tengah lautan. Namun, setelah saat ini,Merzangus sudah tidak begitu kaget lagi dengan kehidupanyang akan dialaminya. Bahkan, desir embusan angin menyapupermukaan padang pasir terasa begitu menenangkan hatinya,laksana suara seseorang yang sedang bercerita kisah-kisahpurba kepadanya. Waktu tampak diam di padang pasir. Kemarin dan esokseolah bertemu dalam saat yang sama. Semua orang akandipaksa terbiasa hanya memikirkan sesaat yang sedangdialaminya. Sementara itu, Zahter ibarat pantai berair yang sejukpenuh dengan perhatian serta kasih sayang yang akan menjaditempat berlabuh setiap waktu. -o0o- “Setelah dari Damaskus, masih ada tiga persinggahan lagiyang harus kita lalui untuk sampai ke al-Quds,” kata Zahter. beberapa jam tidur dalam keheningan malamyang dingin, Zahter mengaduk-aduk makanan yang tersisadalam kantong perbekalannya. Hanya ada sisa-sisa roti keringdan beberapa helai daun salam. Zahter menyalakan memasukkan roti kering dan daun salam itu ke sebuahpanci berisi air. Merzangus memerhatikannya dari kejauhansaat Zahter mengaduk-aduk dengan sebuah kayu kering. Dengan kecepatan berjalan kaki, mereka baru akansampai ke Kampung Baharat esok hari setelah siang. Karenawaktu sudah begitu larut dan juga kelelahan, Merzangussudah bersiap-siap tidur di samping unta sembari memainkantelingganya. Zahter yang masih terjaga memerhatikanwajahnya dengan saksama. “Sungguh, dia seorang yang penyabar dan kuat,” kataZahter dalam hati. Sejak pagi, keduanya belum makan apa-apa. “Wahai Zahter! Usiamu kini telah begitu tua. Mungkinsudah dekat waktumu meninggalkan dunia ini,” kembaliZahter berkata-kata dalam hati. “Jika aku mati, bagaimana nasib anak ini, duhai dia masih anak-anak dan sebatang kara. MohonEngkau berkenan jangan mencabut nyawaku sebelummenyerahkan anak ini ke orang yang bisa dipercaya, jikamungkin ini adalah perjalanan terakhir bagiku.” “Engkau bicara dengan siapa, Kakek?” “Dengan siapa lagi? Kakek sedang bicara dengan parawanita kecil di langit untuk meramal besok cuaca akan sepertiapa?” “Kakek bicara dengan wanita-wanita kecil yang tinggal diDubburu Akbar-kah?” bangun dengan wajah penuh senyum. Iamenunjukkan bintang kutub dan gugusan rasi bintang disekitarnya. Gugusan bintang-bintang itu tampak seperticangkir kopi di mata Merzangus. Ia kemudian menunjukDubburu Akbar yang ada di sebelah utara. “Bintang-bintang di langit, sungai, dan gunung-gunung dibumiadalahanugerahyangtelahdilimpahkanolehAllahkepadakita, Merzangus. Dengan memerhatikan keberadaannya, kitadapat menentukan arah jalan,” kata Zahter. “Tapi, Kakek. Engkaulah bintang, sungai, dan gunung-gunung itu bagiku. Jika engkau tidak ada, mungkin padangpasir yang luas ini sudah lama menelanku.” “Ah padang pasir...,” kata Zahter sembari menghela napas. “Padang pasir ternyata lebih baik daripada kebanyakanmanusia. Sungguh, telah Kakek dapati begitu banyak kota,perkampungan, dan masyarakat. Mereka jauh lebih keringdaripada padang pasir. Jauh lebih terik panasnya. Jauhlebih sepi dan kering daripada padang pasir. Waktu telahrusak, Merzangus. Umat manusia telah rusak. Ajaran telahdianggap usang oleh mereka. Perjanjian diinjak-injak dansumpah dilanggar. Berkhianat pada amanah telah menjadikebiasaan. Pandangan kedua mata mereka hanya tertuju padaketamakan, keserakahan. Harta benda dikumpul-kumpulkanhingga menggunung, namun rasa hormat mereka kikis tersisa lagi belas kasihan kepada anak-anak yatim,tetangga yang tidak mampu, atau para musair. Mungkinkarena semua inilah kita sekarang berada di tengah-tengahpadang pasir untuk menyusuri jejak berita gembira yangakan Allah turunkan sebagai penawar kehidupan yang sudahmenjadi padang pasir, mengering bagaikan sungai yang sudah ada lagi airnya. Apakah kamu paham dengan semua ini,Merzangus?” “Apa yang Kakek maksudkan dengan berita gembira?” “Usia Kakek sudah tidak akan panjang lagi di dunia ini. Namun, Kakek baru akan merasa tenang setelah menyerahkan dirimu kepada keluarga Imran di kota al-Quds. Setelah itu, engkau akan melanjutkan wasiatku untukmengadakan perjalanan jauh yang telah kakek tempuhsepanjang kehidupan ini.” “Namun, aku tidak mau berpisah denganmu, Kakek!” kataMerzangus sambil menangis sesenggukan. Merzangus lalu bangkit untuk memeluk kakeknya.... Zahter pun mengambil selimut untuk melindungibadannya yang masih kecil dari udara dingin. Ia membelaiwajahnya dan memberikan bubur roti yang masih panaskepadanya. “Minumlah ini agar badanmu hangat. Setelah itu, kamubisa tidur dengan lelap.” Keesokan hari, sebelum matahari terbit, mereka sudahmelanjutkan perjalanan. Seberapa pun jarak yang dapatmereka tempuh sebelum terik matahari mulai menyengatadalah suatu keuntungan. Inilah siasat perjalanan mereka ditengah-tengah padang pasir. Begitulah keadaan dua satu berlangkah kecil dan satu lagi sudah terlalu tuasehingga langkahnya pelan. Namun, perjalanan yang dimulai 41
adat istiadat yang telah diajarkan para leluhur? Maukahsaya katakan sesuatu kepada Anda! Setiap kejelekan yangterjadi di dunia ini selalu saja dinisbatkan kepada para leluhuryang telah memulainya. Coba katakan siapa yang pertama kalimembuat patung? Biar saya ceritakan kepada Anda. Ada seorang raja yangsangat mencintai ayahnya yang bernama Baal. Begitu sang ayahmeninggal dunia, ia jatuh sakit karena sangat sedih. Akhirnya,dia membuat patung yang sangat mirip dengan wajahayahnya. Patung itu ia dirikan pada sebuah pasar di tengahkota. Ia juga perintahkan semua orang ikut menghormatipatung itu. Yang menghormatinya akan mendapatkankebaikan dan keselamatan. Semua orang, termasuk paraberandal, perampok, dan pembunuh ikut bersimpuh di depanpatung itu sambil menyuguhkan uang dan berbuat demikian, mereka akan dimaafkan sangraja. Akhirnya, uang dan persembahan yang diberikan untukpatung itu sangat berlimpah. Hal ini dimanfaatkan untukmendulang uang. Sang raja lalu memerintahkan mendirikanpatung Baal di seluruh penjuru. Padahal, sebagaimana ajaranyang disampaikan kepadaku, Allah sangat melaknat perbuatanseperti ini. Hamba-Ku telah melakukan sesuatu yang telah meniadakan hukum yang telah Aku sampaikanmelalui Musa dan berbalik mengikuti adat para leluhurmereka.” Raja Hagerce yang mendengarkan kisah itu menyela,“Mualim! Engkau bicara seolah Bani Israil memiliki patungdari batu dan kayu yang selalu mereka perkataanmu sangat keras!” tahu Bani Israil tidak memiliki patung dari batu dan kayu pada hari ini. Yang saya maksud adalah patung berdaging,” jawab Isa . Semua orang yang ada di situ pun mulai menangis. Maryam lalu berkata, “Ketahuilah bahwa hanya Allahyang seharusnya dicintai dan menjadi tujuan setiap orang!” Merzangus pun kembali menyuguhkan air susu dengangelas kayu kepada masing-masing tamu. -o0o- Marym dn Para Wna Ali Srga Setelah Raja Hagerce kembali ke negaranya, rombonganmelanjutkan perjalanan ke Nasara bersama para musair dariJalilah. Kebetulan, pada saat itu Merzangus mendengar berita adaseorang hamba saleh yang sedang sakit berat di sana. Maryampun mengajak rombongan mengunjunginya. “Ada baiknya kita mengunjunginya,” kata Maryam Merzangus menyetujui ajakan itu. “Pasti ada hikmah di sana. Mari kita mengunjunginya.” “Akan terbuka dua pintu bagi setiap manusia saat-saatmenjelang kematian. Yang satu menunjukkan arah dunia, kearah para kerabat yang sedang berkumpul pintu yang lainnya ke arah alam akhirat.” “Pada saat-saat itu malaikat akan memperlihatkan pintuakhirat kepadanya. Siapa tahu saat berkunjung nanti kita bisaberbicara dengan para penduduk surga.” Ternyata, berita itu benar. masih hidup, Zahter selalu menyempatkan dirimengunjunginya saat sedang singgah ke daerah tempat orangitu bermukim. Hamba saleh itu rupanya senang melakukanperjalanan di waktu malam demi mendapatkan selalu beruzlah atau mengasingkan diri, menyendiri darihiruk-pikuk dunia untuk mengosongkan diri dengan berzikirdan bertafakur. Mujur, saat sampai di Nasara, Nabi Isa dan para sahabatnyatidak sulit menemukan tempat tinggal orang saleh itu. Saat memasuki rumahnya, hamba saleh yang sedang sakitparah itu mencoba bangkit demi menyambut kedatanganpara tamu. Dari wajah para tamu yang memancarkan nuritulah ia dapat mengenali siapa yang datang berusaha bangkit dari ranjang, namun dirinya tak lagimemiliki cukup tenaga. “Anda sekalian...,” katanya, “Saya sepertinya mengenalkalian dari nur yang terpancar dari dahi bekas sujud. Selamatdatang wahai saudaraku!” “Mungkin kalian akan berkata bahwa orang tua sepertidiriku yang sedang sekarat ini sudah tidak lagi lurus berbicara,sampai-sampai mengaku mengenali kalian. Dan benar, saat inisatu pintu telah terbuka ke alam akhirat bagiku. Apa yang aku lihat saat ini, satu sisi mengarah pada alam akhirat dan satu sisi lagi mengarah pada alam dunia. Diriku pun bingung membedakannya. Meski demikian, ada satu doa yang senantiasa aku panjatkan kepada Allah. Doa itu adalah agar aku dapat berjumpa dengan nabi yang kedatangannyatelah diberitakan dalam Taurat. Berita ini sebenarnya lama dirahasiakan oleh orang-orang siapa saja yang menyinggung berita ini akan dicap sebagai orang yang terancam’.” “Janganlah Anda merasa takut,” kata Merzangus. Meskiaku seorang wanita yang sudah berusia hampir enam puluhtahun, sampai saat ini pedangku tidak pernah lepas daritanganku. Sejak Isa lahir, pedang ini belum pernah akumasukkan ke dalam kerangkanya. Sudah tiga puluh tahunlamanya ia terhunus untuk meradang dan menerjang,” kataMerzangus sembari menggantungkan pedangnya ke dindingkemudian mulai menyalakan tungku di dapur. Saat itu iaseolah-olah adalah penghuni rumah itu sejak lama. Maryam dan Isa masih tetap berdiri. Tidak adasatu kursi untuk duduk di gubuk yang hampir roboh mereka mungkin untuk yang terakhir kalisebelum nelayan saleh itu wafat. Sang nelayan pun merasamalu dengan keadaan rumahnya. Ia terus mencoba sudah berusaha sekuat tenaga, ia tetap tidak mampubangkit dari ranjang. Saat selimutnya jatuh ke tanah, terlihatjelas betapa kurus tubuh hamba saleh itu. “Tidah usah repot-repot,” kata Merzangus serayamengambilkan selimut yang terjatuh. Hamba saleh itu kemudian membungkuk dan bersucidengan ember air yang ada di dekatnya. Sungguh, apakahorang tua ini tidak memiliki seorang kerabat? Dengan gayungdi tangan, nelayan itu membersihkan diri di sekitar tempattidur. Dengan tenaga yang masih tersisa, ia melipat-lipat ikan yang hampir menutupi kamarnya. Dengan lipatanjaring itulah ia memberikan tempat duduk untuk Maryamdan putranya. “Terima kasih sekali,” kata Maryam, “Indah sekali tempatduduk ini!” Maryam dan Isa pun akhirnya dapat duduk sambiltersenyum. “Wahai anakku! Diriku tidak pernah keluar dari kamaryang kalian lihat ini. Sungguh, usiaku telah berlalu untukmendakwahkan agama yang benar kepada para nakhodakapal, nelayan, dan semua orang di sekitar sini. Aku yangmembuatkan jaring untuk mereka, sedangkan merekamembawakan ikan hasil tangkapannya. Orang-orang dahulusering bercerita bahwa nabi yang namanya disebutkan dalamTaurat kelak akan berdakwah dengan berpindah-pindah darisatu tempat ke tempat lain. Nabi itu tidak akan tinggal di satutempat dalam waktu yang lama. Sejak saat itulah aku selalumenantikan kedatangannya. Diriku hampir saja berputus asauntuk dapat berjumpa dengannya. Aku yakin kalian adalahorang-orang yang dekat dengan nabi itu. Hal ini terlihat jelasdari wajah dan sikap santun kalian. Karena itu, apakah kalianmemiliki berita tentang keberadaannya. Mohon sudilahbercerita kepadaku...!” “Wahai kakek!” kata Maryam. “Inilah Nabi yang selalu kau tunggu. Kini, Sang Nabi itubenar-benar telah berada di depanmu! Dialah Isa al-Masih,utusan yang membawa ajaran dari Allah.” Begitu mendengar penuturan Maryam ini, nelayan tua itumulai menangis sejadi-jadinya. Ia meluapkan rasa bersyukurdan gembiranya. Seketika itu pula ia menyatakan keesaan dan Isa sebagai Nabi dan Rasul-Nya. Di wajah kakek yangsaleh itu terpancar cahaya. Setelah beberapa saat tersengal-sengal dalam tangisan, nelayan saleh itu kembali sadar bahwaajalnya ternyata sudah dekat. “Ahh....!” jerit sang nelayan. “Duhai Tuan, betapa diriku terlambat bertemu saat yang lalu aku merasa sedih karena belum dapatmenemukan dirimu. Dan sekarang, kesedihan itu semakinmemuncak namun berganti menjadi pedih karena takutkehilangan dirimu. Sungguh, usiaku hanya tinggal sesaatsaja.” “Ahh...!” kata Maryam menimpali. “Duhai Allah... Apa yang akan didapatkan jika seseorang kehilangan-Mu, Dan apa yang hilang darinya jika seseorang mendapatkan diri-Mu?” Mendengar perkataan Maryam, nelayan itu tersentuhhatinya. “Betapa baik hakikat yang Anda ucapkan sehingga hatikuyang sekarat ini menjadi kuat kembali wahai wahai Ibunda al-Masih.” Setelah menghela napas panjang, nelayan saleh itu kembalibertanya, “Berkenankah Anda menerangkan surga?” “Wahai kakek yang saleh! Telah lama engkau menungguberita bahagia itu. Dan sekarang kami datang untukmenyampaikan apa yang kami ketahui,” kata Maryam. Sejak kecil, Maryam telah bermain bersama para malaikat. sangat suka bercerita tentang surga sebagaimana iamenyenangi orang yatim dan miskin. Surga berarti tempat yangdirahasiakan dari pandangan mata manusia. Seperti bunga-bungaan, kebun, dan taman yang menutupi permukaan tanahsebagaimana malam menutupi siang, dan siang menutupimalam, demikian pula alam akhirat yang menutupi surga daripandangan mata kita. Surga memiliki beberapa nama. Adn’ Firdaus’ Mawa’ Naim’ Huld’ Salam’ Illiyyun’ Kakek saleh itu ikut menyebutkan nama-nama surga satudemi satu. “Surga memiliki banyak kedudukan dan paling tinggi ibarat taman kasih sayang,” katanya. Bagi Merzangus, surga hadir saat berada di sampingMaryam. “Kini, diriku berada di pinggir taman surga,” kata nelayansaleh itu seraya memberi isyarat untuk bersalaman denganMaryam. Bagi Merzangus, surga datang saat berada di sampingMaryam dalam embusan lembut kata-katanya yang penuhhikmah. Ya, Maryam adalah bunga surga yang kehidupannyaselalu semerbak mewangi karena membawa berita darisurga. kadang tak kuasa menahan penderitaan dankesusahan yang dihadapinya. Remuk hatinya, tercerai berai,dan berlinang dalam tangisan. Pada saat itulah Maryam yangberusia lima puluhan, lebih muda muda dari usianya, datanguntuk membelai rambutnya. Dengan kata-katanya yang lembutlagi merdu, Maryam bercerita tentang surga. Kehidupanyang menjadi harapan kita. Kehidupan sebenarnya yangakan datang setelah ujian berat di alam dunia ini. Mendengarpenuturan itu, Merzangus pun kembali kuat serasa inginsegera menjemput kematian dengan penuh kegembiraan. Bagi Maryam, kematian adalah pintu terbuka bagiruh untuk mencapai alam abadi. Kematian ibarat kudatunggangan. Saat ditunggangi, ia akan mengantarkan manusiakepada tujuan akhir. Demikianlah, kematian disambut tanpaketakutan atau menakutkan. Setiap kali Maryam membahas kematian, ia selalumengakhirinya dengan menerangkan kehidupan surgasehingga orang-orang fakir dan yang sedang sakit kerasdengan penuh semangat merindukan kematian. Merekajuga kembali tabah menghadapi kesulitan hidup. Ketegarandan ketabahan Maryam dalam menghadapi segala musibahdan kesulitan adalah bersandar dengan keimanannya padakehidupan setelah kebangkitan. Kehidupan surga bukanlahharapan materi melainkan kerinduan pada perjumpaandengan Tuhannya. Inilah kedudukan tertinggi dalam surgayang selalu diharapkan. Dalam masa-masa sulit di pengasingan dan musimpaceklik, Maryam selalu menuturkan kehidupan surga bagipara hamba yang bertakwa. bawahnya mengalir sungai yang jernih danmenyegarkan. Dihidangkan pula berbagai macam buah-buahkan dalam rindang bayangan pepohonan. Inilah imbalanbagi orang-orang yang menghindarkan diri dari berbuatkejelekan.” Saat mendengarkan cerita ini, nelayan saleh itu luap dalamlinangan air mata. Ia memanjatkan puji dan syukur ke hadiratAllah. Pintu-pintu surga seolah-olah terbuka satu per satuseiring dengan penuturan Maryam. Namun, apakah Maryam tidak membenci orang-orangyang berbuat kejahatan? Saat hati Maryam sakit oleh kejahatan dan keburukanorang-orang yang memusuhinya, ia selalu mengadukannyakepada Allah. “Duhai Allah, Tuhan bagi semua orang yang baik dan jugayang jahat!” “Sungguh, tidak ada pintu keluar bagiku selain denganmembuka pintumu.” Maryam selalu menceritakan kehidupan surga kepadaorang-orang yang hatinya sakit demi memberikan dukungankepadanya. Maryam juga mengedepankan harapan, bukankeputusasaan. Ia selalu mendahulukan kasih sayang daripadamenggambarkan ketakutan. Nabi Isa juga selalu mengedepankan pembahasan tentangkehidupan di surga. “Wahai sahabatku. Takut kepada Allah dan kecintaanpada surga Firdaus akan memberikan kesabaran atas kesulitanyang diderita dan menjauhkan diri dari kilau dunia,” demikiannasihat Nabi Isa yang selalu didakwahkan kepada parasahabatnya. Maryam membahas kehidupan surga, Merzanguspernah mendengar beberapa nama. “Pernah engkau bercerita tentang taman di surga danorang-orang mulia yang menghuninya. Berkenankah engkaumenyebutkannya lagi?” harap Merzangus kepada dari harapan ini tentu saja untuk mengantarkannelayan saleh itu mengembuskan napas terakhirnya dengantenang. Maryam pun mulai menjelaskan setiap tingkatan surgadan menerangkan bahwa martabat paling tinggi bagi seoranghamba adalah rida terhadap Allah. “Allah telah menciptakan kita di alam antara, yaitukehidupan di antara alam Mulk dan Malakut. Ini dilakukanagar manusia memahami kemuliaannya. Namun, jika manusiatidak memahami bahwa kemuliaan telah dianugerahkankepadanya dan kemuliaannya di antara semua makhluk harusdiwujudkan dalam syukur kepada Sang Penciptanya, hal initidak lain adalah kejahiliahan yang nyata.” Nabi Isa lalu mengarahkan pembicaraan pada kehidupansurga, yang dipenuhi kemuliaan dalam keindahan taman-taman surga. Semua itu hanya bisa dicapai dalam kerelaan. “Seolah semua penciptaan ini telah Allah letakkan dalamgenggamanmu sehingga engkau pun mampu menerangkannyadengan sedemikian indah,” kata Merzangus. Setelah diam sejenak, Maryam menoleh ke arah Merzangusseraya melanjutkan perkataannya. “Merzangus, sebenarnya diriku sangat penasaran denganpara wanita ahli surga yang kelak akan dipertemukankepadaku,” kata Maryam. adalah para wanita ahli surga? Engkau tidakpernah menyebutkan hal ini kepadaku sebelumnya, wahaiMaryam?” “Berarti Allah telah menakdirkan untuk diterangkandi sini. Engkau tahu Merzangus. Saat aku tinggal di mihrabsampai menjelang kelahiran putraku, pada masa-masa itulahmalaikat menyampaikan wahyu kepadaku untuk bersujudbersama orang-orang yang sujud. Aku pun segera menunaikanperintah itu dengan ikut mendirikan salat berjamaah diKubah Suci, di Masjid al-Aqsa. Namun, waktu itu tidak satupun wanita diizinkan memasuki daerah Kubah Suci. Begitudiriku terlihat ikut mendirikan salat di saf paling belakang,para rahib sangat marah dan menghujaniku dengan sampai tak sadarkan diri. Sesampai di mihrab, aku masihmenangis dalam kesakitan hingga tertidur. Dalam mimpi,malaikat mempertemukanku dengan tiga wanita ahli surga.” “Ya Allah! Jadi engkau pernah dipukuli oleh para rahibitu?” “Tidak penting hujan pukulan yang menimpaku. Bahkan,sudah sejak lama aku melupakan kejadian itu. Yang palingpenting, sekarang aku ingin bercerita kepadamu sebuahkejadian suci yang aku alami di dalam mimpi. Tiga wanita surga yang disebut namanya satu per satu oleh malaikat dengan penuh ucapan sanjungan adalah Asiyah putri Muzahim yang telah membesarkan Nabi Musa di dalam istana dengan penuh kasih-sayang....” Firaun telah tega menyiksanya?” “Setelah mengetahui bahwa Asiyah memeluk agama yangdiajarkan Nabi Musa, Firaun memerintahkan kedua kakidan tangan beliau yang mulia diikat dengan seekor kuda dicambuk agar saling tarik. TubuhAsiyah juga ditindih batu besar. Saat itu, wanita saleh tersebutberdoa, Duhai Allah! Limpahkanlah sebuah rumah di surgakelak. Lindungilah diriku dari Firaun dan diriku dari orang-orang zalim ini’ sampai napasterakhir pun terembus dalam senyuman penuh kebahagiaan.” “Surga adalah pelipur dan harapan bagi setiap hamba yangmendapati kezaliman.” “Benar. Dalam mimpi aku diperlihatkan dirinyamengenakan pakaian yang begitu indah seperti seorangpengantin. Aku melihat ke dalam pandangan matanya. Iatersenyum penuh sinar bagaikan kilauan mutiara. Ia samasekali seperti tidak merasakan sakit. Para malaikat puntidak henti-hentinya membacakan takbir saat dirinya lewat.Telah lewat Asiyah, seorang wanita ahli surga’. Begitulahseruan malaikat dengan suara lantang. Kemudian, malaikatmembawaku ke dalam kedudukan kedua yang juga penuhdengan pancaran cahaya terang.” “Siapakah yang engkau jumpai di sana, wahai Maryam?”tanya Merzangus. sana aku bertemu dengan Khadijah binti Khuwaylid. Dia adalah istri baginda Nabi di akhir zaman. Ia akan datang setelah Isa . Berita kedatangannya telah diserukan dalam kitab-kitab sebelumnya. Dia adalah Muhammad . Dan Khadijah Kubra adalah istri baginda nabi yang mulia ini.” Saat Maryam menuturkan kata-kata terakhir dari kisahini, nelayan saleh itu tiba-tiba terperanjat dan bangkit daritidurnya seraya berteriak, “Apa kata Anda, wahai Maryam?Adakah nabi setelah Isa ?” Mendengar pertanyaan ini, Nabi Isa pun berkatadengan kedua mata yang berkaca-kaca. “Sungguh, semoga salam dan keselamatan tercurah bagiSang Nabi akhir zaman itu . Jika dalam doamu engkaumeminta bertemu denganku, demikian pula dalam doaku. Akumemohon agar dapat dipertemukan dengan nabi akhir zamanitu sehingga diriku dapat bersaksi mengenai kenabiannya danmengabdi pada ajaran agamanya. Dia adalah Ahmad . Dansungguh, diriku beriman dan sangat mencintainya meskibelum mengenalnya.” Maryam kembali melanjutkan kisahnya. “Dialah Khadijah Kubra, istri Nabi yang ditunjukkansebagai salah satu ratu para wanita ahli surga yangdipertemukan denganku dalam mimpi.” “Semoga salam dan keselamatan dari Allah tercurahkepada baginda Nabi akhir zaman yang belum lahir dan jugauntuk para sahabat dan ahli baitnya!” sepanjang usiaku, belum pernah diri inimelihat wanita yang lebih cantik daripada Khadijah saat dirinya lewat, para malaikat terheran-heran hingga pingsan. Saat dirinya lewat, diriku yang Allahakan limpahkan Ruhul Kuddus ke dalam kandunganku jugaberada dalam barisan yang menunggunya. Aku mencintainya,merindukannya, sehingga tercium semerbak wangi ibukuyang diriku tidak pernah mengenalnya. Tebersit dalam dirikukeinginan untuk berteriak memanggilnya ibu’....” Semua orang yang ikut mendengarkan cerita Maryammenangis seketika. Jika saat itu mereka menoleh ke arah lautanyang terdapat di bawah gubuk nelayan saleh itu, niscaya merekaakan mendapati ribuan ikan yang sedang terpaku mendengarkankisah tersebut. Bukan hanya ikan, melainkan juga kerang,cumi-cumi, dan semua jenis makhluk di lautan. Mereka ikutlarut dalam tangisan. Jerit Maryam memanggil Khadijah Kubradengan panggilan ibu’ telah menggetarkan seluruh jiwa. Jikasaja jerit dan tangisan Maryam berlanjut untuk beberapa lama,niscaya seluruh ikan di lautan akan terguncang, mabuk dalamcinta, sehingga terdampar ke pinggir lautan. Maryam masih terus melanjutkan kisahnya tentang parawanita ahli surga kepada nelayan saleh yang sedang sekarat. “Kemudian, dalam mimpi itu aku mendengar suaralantang dari ketinggian. Suara itu adalah seruan seorangmalaikat. Wahai seluruh malaikat, lindungilah penglihatankalian karena akan terpancar cahaya berkat kedatangan putriMuhammad al-Mustafa, Fatimah az-Zahra.” Mendengar kisah itu, nelayan saleh itu ikut berteriakhisteria sehingga semua orang dengan susah payah membantumenenangkan dirinya. tempat menjadi begitu terang karena pancarancahaya Fatimah az-Zahra. Semua malaikat tertundukdalam sujud, bertasbih kepada Tuhannya. Diriku juga tidaksadarkan diri bermandikan cahaya. Tiba-tiba, aku seolah-olahmenemukan diriku dalam sebuah cermin. Seketika itu pulaterlihat seorang wanita yang wajahnya persis dengan muda itu tersenyum manis seraya mengulurkantangannya ke arahku. Sungguh, antara diriku dan dirinyaibarat dua pembiasan, dua wujud simetris. Ia juga bertatap muka denganku, wajahnya memerah. Akusendiri merasa gemetar menyambut uluran tangannya. Saat iamengangguk untuk memberi salam, tiba-tiba aku perhatikanada dua anak kecil yang menyelinap di balik jubahnya. Padaleher kedua anak itu tergantung tulisan baik’ dari emas. Keduatulisan itu ibarat gantungan dua anting surga. diriku masih juga belum tahu siapa kedua anakyang sangat manis lagi menyenangkan ini. Keduanya masihbermain petak umpet di balik jubah sang ibu. Sesekali merekamenampakkan diri dan sesekali bersembunyi. Tak lamakemudian datang para malaikat menggelar permadani daribunga untuk kami. Mereka juga menyuguhkan minuman yangsejuk lagi menyegarkan dalam gelas yang terbuat dari intandengan nampan emas murni. Saat aku bertanya tentang ini,malaikat menjawab bahwa yang ada dalam gelas itu adalah airputih yang sejuk lagi menyegarkan dari danau Salsabil dalamsurga yang khusus diberikan bagi para hamba yang muda bernama Fatimah az-Zahra adalah seorangmulia. Sosok yang telah mencapai tempat kebaikan yang memberi bukan karena berlebih, melainkan kasih sayang. Mereka rela menanggung lapar demidapat memberi makan kepada fakir, yatim, dan orang-orangpapa. Dalam melakukan kebaikan ini, mereka juga sama sekalitidak mengharapkan ucapan terima kasih. Hanya Allah yangmenjadi tujuannya. Dialah Fatimah az-Zahra. Sungguh mujursekali diriku dapat bertemu dengannya. Kemudian, datang seorang malaikat memberikan kainpembersih yang terbuat dari sutra. Apa ini?’ tanyaku kepadamalaikat yang membawanya. Inilah pembersih yang khususdihadiahkan kepada para ahli surga yang telah membersihkanjiwanya. Karena dari golongan yang telah menyucikan diri,kalian layak mengenakan pakaian ini. Sementara itu, keduaputra Fatimah tampak mengenakan stelan berwarna hijau danmerah api. Saat bermain kejar-kejaran, anak yang mengenakanbaju merah terjatuh. Aku pun segera mengulurkan tanganuntuk membantunya berdiri. Saat itulah terdengar suaralantang, Semoga Allah juga berkenan mengulurkan tanganuntuk menolong putramu’. Setelah itu, aku terbangun. Inilahperjalananku bertemu dengan para wanita ahli surga di dalammimpiku.” “Semoga salam dan keselamatan dari Allah tercurah untukFatimah dan kedua putranya,” kata Merzangus. “Amin...,” ucap semua orang yang berada dalam ruangan. “Amin...,” ucap semua jenis ikan yang menghuni lautan. “Amin...,” ucap semua malaikat yang bersaf-saf mengelilingigubuk itu. Pada saat itu, nelayan saleh memohon syafaat dari parawanita ahli surga. Napas terakhir pun terembus. Saat Nabi Isa menuruni laut untuk menyucikan jasadkakek saleh itu, ia menyaksikan ikan-ikan sudah berjajar Serombongan ikan lumba-lumba telahmenanti untuk membawa jasad nelayan saleh itu ke tengahlautan. Pada saat itulah semua orang baru mengetahui kalaukakek itu adalah dari keturunan Yunus . Beberapa saat kemudian terlihat seseorang menggerakkanperahu untuk menjemput kedatangan jasad sang serombongan ikan itu menyerahkan jasad sang kakekuntuk diangkat ke atas perahu, dalam sekejap lautan berubahseperti keadaan semula, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Merzangus pun bertanya-tanya. “Siapa gerangan sosok yang menunggu kakek itu di tengah-tengah lautan? Mungkinkah ia seorang malaikat?” “Mungkin Nabi Khidir,” jawab Maryam. Maryam merasa malu dengan apa yang telah selalu merasa malu jika rahasianya terkuak. “Hari ini aku telah begitu banyak bicara. Entah apahikmahnya. Duhai Allah! Hamba mohon ampun ataskesalahan hamba yang terlalu banyak bicara,” ucap Maryamkemudian diam sampai esok hari. Untuk beberapa saat, Maryam duduk di samping laut. Iabertafakur dan berzikir kepada Allah. “Ya Kuddus, Ya Allah!” Merzangus lalu menggambar sebuah denah bujur sangkardi atas pasir dengan cangkang kerang. Pada sisi kanan atas denah berbentuk bujur sangkar itutertulis nama “Maryam” membaca tasbih Ya Rahiim, YaAllah!’ Pada sisi kiri atas denah tertulis nama “Asiyah” membacatasbih Ya Mukmin, Ya Allah’. sisi kanan bawah denah tertulis nama “Khadijah”membaca tasbih “Ya Shadik, Ya Allah’. Sementara itu, pada sisi kiri bawah tertulis nama “Fatimah”membaca tasbih Ya Nur, Ya Allah”. Demikianlah. Maryam adalah lambang kasih sayang, Asiyah lambang keyakinan-keamanan, Khadijah lambang kesetiaan, dan Fatimah lambang pancaran nur. Dalam gambar itu, nama Maryam dan Fatimah terdapatpada sisi yang sama. Seolah-olah mereka simetris, salingmelihat satu sama lain. Nama Maryam dan Fatimah jugamewujudkan dua sisi “timur-barat” sisi Kakbah. Dan tempatFatimah az-Zahra tepat di sisi Hajar Aswad. Sementara itu, Maryam dan Khadijah adalah dua ujung“utara-barat” yang menunjukkan Hijr Ismail. Saat itu Merzangus sedang membayangkan masa dirinya berada di tengah padang pasir bersama sang guru,Zahter. Ternyata, gambar denah yang baru saja dibuatnyamirip dengan gambar-gambar yang telah dibuat Zaher saatdirinya mengajak bermain melawan waktu. Merzanguskembali memandangi gambar yang baru saja dibuatnyadengan menambahkan masing-masing sisi dengan menaruhsatu cangkang kerang. Tak beberapa lama, ombak datangmenyapu semua nama wanita ahli surga itu bersama dengancangkang kerangnya. Merzangus merasakan kembali guyuran dari tengah lautan. Ternyata, air yang kembali telahmeninggalkan kerang mutiara sebagai ganti keempat namayang baru saja tersapu ombak. Merzangus heran dengan kejadian ini... Saat Merzangus ingin menunjukkan keempat kerangyang diantar ombak itu, ia melihat Maryam sedang khusyukberdoa. Merzangus pun malu. Ia kemudian melemparkankembali kerang-kerang itu ke tengah lautan. “Sungguh, engkau telah menunda-nunda waktuku denganmengajak bermain dengan batu yakut dan mutiara,” katanya. Merzangus pun menurunkan cadarnya seraya bangkitdengan bersandar pedangnya untuk kembali menuju kegubuk. -o0o- Dnau Jailah Hari berikutnya, Maryam, Isa , dan Merzangusmelanjutkan perjalanan dari Nasara menuju Jalilah. Merekajuga akan singgah ke suatu daerah bernama Gur untukberdakwah kepada para musair dan kaum Badui. Saat menuju ke sana, mereka harus menyeberangi danaumenggunakan perahu dengan tiga pasang pendayung. Begitusampai di pelabuhan, seorang tua terlihat berdesak-desakan ditengah kerumunan. “Saya mencari seorang mualim dari Nasara. Katanya, iaakan berkunjung ke daerah Gur pada hari-hari ini. Ramaidibicarakan bahwa dirinya tidak memiliki mata uang untukmembayar kendaraan yang akan ditumpanginya,” kata orangtua itu. “Saya dengar mualim itu selalu berbagi makanan denganpara fakir miskin. Ia menyalahkan para rahib di Baitul Maqdisyang meninggalkan umatnya demi memperkaya diri,” tambahorang tua itu. “Mualim tidak pernah bicara dengan nafsunya, wahaiKakek. Menurut yang saya ketahui, dia adalah utusan hanya menerangkan apa yang diperintahkan Tuhannya.” cukupkah syariat Musa bagi kita?” “Jika saja syariat Musa telah disimpangsiurkan, Allah akanmengutus seorang rasul untuk meluruskan kembali orang-orang yang tersesat dari jalan tauhid.” “Dari mana engkau tahu semua ini, wahai anak muda?” Mendapati pertanyaan itu, Nabi Isa diam sejenak serayatersenyum. Maryam yang sejak awal diam ikut memberikansalam dengan menganggukkan kepalanya seraya berkata,“Seorang mualim yang engkau maksud itu adalah Isa, saat ini berada di hadapanmu. Berita gembira akankelahirannya sebagai nabi sudah diberitahukan kepadakusejak sebelum kelahirannya. Dialah al-Masih yang mampubicara sejak dirinya lahir.” Orang tua itu langsung gemetar. “Wahai al-Masih putra Maryam. Aku memiliki saudarakembar di al-Quds bernama Ardesyur. Ia sudah tiga puluhdelapan tahun sakit kusta. Setiap Hari Raya Fisih, ia selaludatang ke kolam al-Hayat di halaman Baitul Maqdis untukmendapatkan berkah kesembuhan. Bahkan, ia rela membawaranjangnya untuk tidur di dekat kolam. Namun, sudah sekianpuluh tahun ia tidak dapat mendekati kolam tepat padawaktunya. Aku mendengar dirimu dapat menyembuhkanorang sakit. Aku mohon datanglah ke al-Quds untukmenyembuhkan saudaraku yang sudah sakit sepanjangusianya.” “Wahai sahabat tua! Pertolongan hanya datang dari sisiAllah. Isa al-Masih hanyalah seorang hamba dan penawar juga bukan datang darinya, melainkandari sisi Allah. Tolong jangan sampai tercampur aduk. Isaputra Maryam hanya dapat menunjukkan mukjizatnya dengan Allah. Dan mukjizat itu tidak lain untuk memperkuatkeimanan kita.” “Sungguh benar apa yang engkau katakan, wahai wanitamulia. Sekarang, mohon izinkan diri ini untuk ikut bersamadengan kalian ke Gur dan kemudian ke al-Quds.” “Baiklah,” kata Maryam. Orang tua itu pun akhirnya ikut ke naik ke dalam juga menempuh jarak yang jauh, tiba-tiba ombaksangat besar datang menerjang. Saat itu, Isa al-Masih sedangtertidur, dengan kepala terletak di pangkuan Maryam. Saatterbangun karena teriakan panik orang-orang yang berada diatas perahu, Isa menyaksikan gelombang yang semakinbesar dan cuaca gelap siap menerjang perahu. “Wahai mualim, tolong selamatkan kami. Akan hancurkami sebentar lagi!” teriak orang tua itu. Isa al-Masih mengangkat tangan seraya berdoa kepadaAllah “Wahai Allah! Tuhan langit dan bumi, pemilik angin danlautan, mohon rahmatilah hamba-hamba-Mu ini!” “Amin, amin, amin,” ucap Maryam berulang-ulang. Tak lama kemudian, air danau itu menjadi besar yang baru saja mengamuk kini telah hamparan danau berubah menjadi begitu tenangmenyejukkan. Semua orang pun dibuat heran. Penumpanglain yang berada di atas perahu, termasuk para pendayung,berbisik satu sama lain, “Siapa sebenarnya anak muda ini?Mengapa ombak dan angin taat kepadanya?” Begitu mendarat di kota Gur, yang diperbincangkanpara penumpang dan pendayung perahu telah tersebar kemana-mana. Bahkan, cerita tentang dirinya telah terlebih sampai ke semua telinga penduduk Badui. Lebih dariitu, masyarakat Gur telah berkumpul di alun-alun untukmenunggu kedatangan sang Mualim. Salah satu dari orang-orang yang ikut menunggu tidaklain mata-mata yang disebar para rahib Baitul Maqdis. Sesampai di tempat yang dituju, Nabi Isa akhirnya bicaradi depan umatnya. “Semoga salam tercurah untuk kalian wahai para musair!Apa yang ramai dibicarakan telah sampai juga ke ingin menyampaikan bahwa air di danau itu tidak taatkepadaku, melainkan taat kepada Zat yang kita juga taatkepada-Nya. Dialah Allah. Sepintar apa pun seorang, ia tidakakan mungkin bisa mengabdi kepada dua tuan. Jika salah satutuan berbelas kasih, yang lainnya akan membencimu. Jika satuorang memberi perintah kepadamu, sementara yang lainnyatidak menginginkannya, engkau pun tidak akan mungkinkeluar dari keruwetan yang para musair! Aku ingin menyampaikan kepadakalian bahwa tidak mungkin kalian mengabdi kepada Allah bersamaan dengan mengabdi kepada dunia. Dunia dipenuhi kebohongan, ketamakan, kepedihan,dan penderitaan. Tidak ada kenyamanan di dunia. Yang adahanya kezaliman dan kekalahan. Oleh karena itu, taatlahkepada Allah dan pandanglah dunia sebagai hal yang cara ini, engkau akan mendapatkan ketenangan kalian juga akan mendapatkan ketenteraman. Karena itu, Aku akan mengatakan hal yang benar kepadakalian. Diriku adalah seorang hamba yang setia sehingga akujuga mengajak kalian untuk berada dalam kesetiaan. Sungguh,betapa menggembirakan mereka yang menangis di duniaini karena mereka akan mencapai pada posisi betapa menggembirakan mereka para fakir miskinyang belum merasakan kesenangannya dunia. Mereka akanmerasakan kenikmatan abadi di akhirat yang telah dititahkanAllah. Mereka akan makan dan minum dari jamuan malaikat juga akan menjadi pelayan bagi mereka. Engkausekalian adalah para musair, sama halnya dengan orang-orangyang pergi menunaikan ibadah haji. Mungkinkah seorangmusair akan mengurusi hal-hal duniawi seperti sawah danladangnya, istana dan rumah megahnya serta bersenang-senang? Yakinlah, semua itu tidak! Mereka hanya akanmembawa bekal sebatas yang dibutuhkan dan ringan dibawaselama dalam perjalanan. Jadi, janganlah kalian membebanidiri dengan beban keinginan duniawi, dengan harta, pangkat,dan jabatan. Sungguh, kesadaran menghamba dan bertakwaadalah hal yang sangat berguna dan begitu berharga. Olehkarena itu, wahai para musair, beban yang hakiki untuk kitapikul selama di dunia yang fana ini tidak lain adalah berimandan beribadah kepada Allah.” Ungkapan yang disampaikan al-Masih ini berembusmenenangkan seluruh jiwa para musair serta kaum fakirmiskin. Sementara itu, para wanita berebut mendekati Maryamuntuk dapat mencium tangan dan memohon doa khotbah selesai, mereka bersimpuh di atas tanah dandengan berucap dengan seizin Allah’. Nabi Isa lalu berdoauntuk mereka. Isa lalu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kakibersama orang tua yang ditemui di pelabuhan, sementaraMaryam dan Merzangus menaiki kuda yang mereka sewa. “Kakek, maukah engkau aku ceritakan kisah tentang parapenghuni surga yang dirantai namun membuat semua orangheran kepadanya?” tanya Maryam. “Apa?” kata orang tua itu. “Adakah penghuni surga yangdiikat rantai?” Maryam mulai bercerita dengan kata-katanya yanglembut. “Tuhan kita adalah Zat Yang Mahatahu. Dia adalah juga Zat Yang Mahalembut, Mahatahu segala hal yangtersembunyi. Dengan limpahan anugerah dan karunia-Nya,Dia mewajibkan kita untuk menyembah, beribadah, kepada-Nya. Ibadah adalah panjatan rasa syukur seorang hamba. Yangterjadi, manusia sering mempermudah meninggalkan ibadah,meski diwajibkan bagi mereka. Lalu, bagaimana jika tidakdiwajibkan? Apa jadinya jika umat manusia menangguhkanibadah hingga waktu tua? Allah seolah-olah telah mengikatdiri kita dengan ibadah. Dia sangat cinta kepada para hamba-Nya yang terikat dengan rantai ibadah ini. Semoga Allahberkenan menjadikan kita sebagai hamba yang terikat denganiman dan cinta akan ibadah. Sungguh, betapa indah tali rantaiitu!” Mereka berdua tersenyum dan serempak mengucapkan,“Amin.” -o0o- Di Pnggr Sbuah olm Perjalanan Maryam bersama Isa, Merzangus, dan darwistua bernama Berdesyur telah hampir memasuki al-Qudssetelah melalui kota Gur. Kendaraan mereka hanya seekorkeledai. Mereka akan tinggal selama satu pekan sampai tibaHari Raya Fisih dan Sabat. Sambil mengucapkan salam kepada warga, merekaberjalan menuju pinggir sebuah kolam bernama Ab-i Hayatyang terletak di depan pintu Baitul Maqdis yang menghadaparah alun-alun. Benar seperti yang dikatakan Berdesyur. Saat itu, orang-orang yang menderita sakit telah berduyun-duyun memadatipinggir kolam Ab-i Hayat disertai keluarga dan kebanyakan cacat, buta, kusta, mandul, dan sebagianlagi mengalami gangguan jiwa. Sudah berhari-hari merekaberkumpul mengitari pinggiran kolam. Mereka bahkan relamembawa tempat tidur dan tikar demi dapat menunggukedatangan Hari Raya Fisih, sebuah hari untuk mengenangperistiwa pelarian Bani Israil dari perbudakan di Mesir. keyakinan pada masa itu, malaikat akan turunke kolam pada pagi Hari Raya. Siapa saja yang paling awalmencebur ke dalam kolam, ia akan mendapatkan penawardari segala macam penyakit dan segala permintaannyadikabulkan. Bahkan, ada orang yang kemudian menuturkanbahwa malaikat itu adalah putra Allah’. Padahal, Allah sendiriEsa, tak berputra dan tidak pula diputrakan. Keadaan inilahyang telah membuat Nabi Isa menangis. Keadaan ini tidak lain timbul akibat kebodohan dankemiskinan sehingga manusia kerap berputus asa. Merekapun terjerumus ke dalam kesalahan. Selain itu, sikap pararahib sebagai pembimbing umat yang memandang merekadengan jijik dan merendahkan semakin memperparahkeadaan. Para rahib itu telah teperdaya. Mereka terus-menerus mengumpulkan harta benda dan ikut terjun ke dalampolitik Romawi. Mereka meninggalkan kewajiban berdakwahkepada umat dan malah sibuk dengan urusan dunia. Keadaanseperti inilah yang membuat umat sangat butuh seorangpenyelamat. Dalam kerumunan orang-orang yang terbaring dipinggir kolam, Berdesyur memerhatikan setiap wajah untukmenemukan saudara kembarnya yang bernama dia menemukan seseorang yang sudah lanjut kurus, tinggal kulit dan tulang. Dalam keadaanseperti ini, tidak mungkin dirinya ikut berdesak-desakan kekolam. Dengan penuh kemarahan dan perasaan pedih, orangtua itu mulai berkata-kata... “Sudah 38 tahun aku di sini menantikan kedatangannyasetiap pagi pada Hari Raya Fisih. Namun, diriku hidupsebatang kara sehingga tidak ada seorang pun yang menuntun sampai ke pinggir kolam. Sudah 38tahun lebih aku menunggu. Namun, aku tidak juga bisa kesana, meski sekadar mendekat ke pinggir kolam. Ah... tidakada seorang pun yang sudi membantuku dan diriku tidak pulamemiliki tenaga. Mungkin ini adalah hari terakhir bagiku, dankemudian mengembuskan napas terakhir bersama denganpenderitaanku ini di sini. Dan mungkin, pada saat kematianku,tidak akan ada seorang pun yang peduli dengan jasadku.” Maryam sangat sedih melihat keadaan orang tua itu. Iasegera memberikan secangkir air segar. Ia ulurkan pula separuhroti kering untuk sedikit memberikan tenaga. Ardesyurmemerhatikan hal itu dengan penuh perasaan utang budi. “Wahai saudaraku, kini harapanmu untuk mendapatkankesembuhan telah berada di sampingmu. Dia adalah hambaAllah dan juga Rasul-Nya, Isa al-Masih. Insyaallah dia akanberdoa untuk kesembuhanmu sehingga engkau tidak lagi butuhuntuk masuk ke dalam kolam itu. Dengan izin Allah, engkaupasti akan mendapatkan kesembuhan,” kata Berdesyur. Nabi Isa terlihat sangat sedih menyaksikan keadaan orang-orang yang tertimpa musibah sakit itu. Sudah tiga kali ia menangis di dekat kolam. -o0o- “Wahai umat manusia!” seru Nabi Isa. “Sesungguhnya aku ini hamba Allah. Dia memberikuAlkitab Injil dan menjadikan aku seorang nabi. Dia pula yangmenjadikanku seorang yang diberkati. Dia memerintahkankusalat dan zakat selama aku hidup serta berbakti kepadaibuku. Dia tidak menjadikanku seorang yang sombong lagicelaka. Kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku pada aku dilahirkan, pada hari aku wafat, dan pada hari akudibangkitkan. Itulah Isa putra Maryam, yang mengatakan perkataanyang benar, yang mereka ragukan kebenarannya. Tidak patutbagi Allah mempunyai anak, Mahasuci Dia. Apabila Dia telahmenetapkan sesuatu maka Dia hanya berkata kepadanya,Jadilah’! Maka jadilah sesuatu itu. Sesungguhnya Allah ituTuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia. Ini adalah jalanyang lurus.” Kemudian, sambil menyebut dengan seizin Allah’ serayaberdoa, dengan izin Allah pula semua orang sembuhkan darisakitnya dalam seketika. “Sekarang, silakan Anda kembali ke rumah. Bawa ranjangdan tikarnya!” kata Nabi Isa. Itu adalah hari Sabat. Hari dilarang melakukan apa-apa. Mengumpulkan ranjang dan tikar untuk dibawa pulang kerumah melanggar adab di hari Sabat. Meski mereka merasatakut karena melanggar adat, kegembiraan telah sembuh darisakit yang selama ini mereka derita telah memberanikan dirimereka mengikuti anjuran al-Masih. Sementara itu, para rahib di Baitul Maqdis menganggapkejadian ini sebagai bentuk penentangan secara terang-terangan yang telah direncanakan sebelumnya. “Penentang ini telah sengaja melakukan semuanya demimenghina adat hari Sabat. Dia telah menghina adat kita. Secarasengaja dia menyembuhkan orang sakit dan menghidupkanorang mati di Hari Raya Sabat agar semua orang menaruhhormat kepadanya dan meninggalkan adat kita. Orang iniadalah ahli sihir, pembangkang yang akan menginjak-injak dan budaya kita. Jika dia masih melakukan hal yangseperti ini, budaya dan adat kita yang telah berlangsung selamaberabad-abad akan hilang ditelan bumi.” Sifat iri telah membuat Mosye menggigit jarinya karenatak kuasa menahan marah. Ia mengingkari hakikat yangbenar-benar telah nyata di depan mata. Sungguh, betapa menyedihkan keadaannya! -o0o- Orang-orang pun kembali ke rumah masing-masing… -o0o- Marym dn Buah Tn Merzangus baru saja kembali. Tugasnya sebagai bidantelah selesai. Tuan rumah yang dikunjunginya memberiimbalan sepiring penuh buah tin segar. Meski Merzangustelah menolak imbalan itu karena keadaan mereka yangmiskin, sang tuan rumah tetap memaksanya. “Mohon haturkan buah tin segar ini untuk Maryam. Kamiadalah keluarga yang sama sekali tidak memiliki Anda adalah orang terhormat rendah hati yang tidakakan mungkin menolak pemberian dengan setulus hati.” Dengan alasan inilah Merzangus menerima sepiringpenuh buah tin segar itu dengan senang hati. Buah tin segar itu berwarna hijau keunguan. Sebagiansudah begitu matang sampai pecah dan meleleh cairanmanisnya. Merzangus bertahmid kepada Allah yang telahmelimpahkan nikmat yang begitu segar, harum seperti misik,dan manis seperti madu. Maryam sangat menyukai buah tin, dan juga dua buah mulia yang telah dilimpahkan Allah sebagaianugerah kepada bangsa Palestina. sering berkata, “Manis madu buah tin ibaratperkataan seorang ahli hikmah. Jauh sebelum diriku menjadiseorang ibu, Allah juga telah menganugerahkan buah tinsehingga mihrab tempat diriku tumbuh besar bermandikanaroma wangi kesegaran madunya. Buah tin dan zaitunadalah kunci rahasia Palestina. Segala puji dan syukur hambapanjatkan kepada Allah, Tuhannya tin dan zaitun!” Berbinar-binar wajah Maryam saat melihat kedatanganMerzangus dengan sepiring penuh buah tin segar. Ia segerakumpulkan anak-anak yatim yang sedang menunggu di depanpintu. Gembira anak-anak yatim itu melahap buah tin Maryam semakin bahagia menyaksikan kegembiraananak-anak yatim itu. Ia belai rambut mereka. Maryam lalupergi menimba air dari sumur yang berada di dekat gubuknyaseraya mengajak anak-anak itu membasuh wajah itu, Maryam mengizinkan mereka untuk beberapalama bermain-main di sekitar sumur. Maryam sendiri duduk di bawah tenda yang tidak jauhdari tempat anak-anak yatim bermain. “Merzangus...!” panggil Maryam. “Tahukah kamu tentangkisah seorang penjual buah tin yang diceritakan Nabi Isa?” “Sebentar, biar saya panggil anak-anak kemari agar ikutmendengarkan cerita itu.” “Baiklah kalau begitu. Sekalian kita duduk-dudukmenunggu datang waktu salat.” Anak-anak yatim sudah berkumpul, duduk mengelilingiMaryam dengan suasana penuh kegembiraan. “Anak-anak!” kata Maryam mengawali cerita. “Pada suatu masa ada sebuah pasar yang teramat anehdibanding pasar-pasar pada umumnya. Ada seorang petani baik yang telah memetik buah tin yang segar darikebunnya untuk kemudian dijual di pasar itu. Namun, orang-orang yang datang untuk berbelanja di pasar itu sama sekalitidak melirik buah-buah tin yang segar dan baik itu. Merekajustru membeli buah tin mentah yang dipetik dengan melihat antusias para pembeli yang seperti itu, parapedagang jahat tidak ketinggalan untuk semakin berbuatjahat agar dapat menjadi kaya dengan cepat. Mereka memetiksemua buah tin yang masih mentah sebanyak-banyaknyauntuk segera dijual ke pasar. Dan ternyata, para pedagangitu mampu menjual buah tin dagangannya sesuai denganharapan. Para pembeli bahkan beramai-ramai memborongbuah tin itu dengan koin emas. Sementara itu, dagangan buahtin segar lagi baik milik seorang petani berhati baik samasekali tidak diminati. Sampai kemudian, semua orang ramai-ramai menderita sakit perut. Lagi, ada seorang tukang cuci yang mencuci pakaian milikpara pelanggannya dengan menggunakan air bersih dari sumurdi rumahnya. Pakaian para pelanggannya pun bersih orang ini justru tidak pernah mencuci pakaiannyasendiri. Tubuhnya bahkan dipenuhi kutu dan gatal karenapakaian yang dikenakannya begitu kotor.” Anak-anak yatim yang tadinya mendengarkan ceritadengan saksama kini tertawa sepuas-puasnya. “Sekarang wahai anak-anakku! Kalian pantas tertawamenyaksikan keadaan para orang tua yang seperti ini. Sungguhsayang, orang-orang yang sudah tua pun keadaannya dipenuhiironi. Ketahuilah, penjual buah tin itu adalah gambaranorang-orang dengan amal perbuatan mereka pedagang yang taat beribadah kepada Allah akan buah tin yang segar lagi baik, sementara para setanakan menipu manusia dengan berselimut di balik pun memilih berbuat dosa yang terasa manisterbungkus kebohongan. Padahal, dosa itu sesungguhnyaseperti buah tin yang pahit lagi menyakitkan. Sayang, manusiakebanyakan masih juga berpaling seraya memburu bujukansetan.” “Baiklah,” kata seoarang anak yatim yang pintar. “Kalauseorang yang tidak mencuci pakaiannya itu menggambarkanapa wahai Ibunda Maryam? Ataukah dia adalah gambaranseorang Mosye yang mengumpulkan dan menyiksa kamikarena telah mengemis di pasar?” Anak-anak yatim yang lain menyambut pertanyaan itudengan penuh tawa. “Ya benar. Tentu saja ia adalah seorang Mosye.” “Anak-anakku! Keadaan itu menggambarkan seorangyang berdakwah kepada orang lain namun dirinya sendirimengingkari apa yang dikatakannya. Orang-orang yangmengikuti apa yang dikatakannya benar-benar telah mendapatihakikat dan kebenaran sehingga menjadi bersih. Sayang, orangitu tidak mengikuti perkataannya sendiri, seorang munaikbermuka dua. Meski kata-katanya dapat membersihkan yanglain, ia tidak berarti sama sekali bagi dirinya sendiri.” Merzangus kemudian berseru... “Mari anak-anakku sekalian, sekarang sudah tiba waktusalat!” Hari bahkan sudah petang. Cahaya matahari telahberwarna jingga di seberang ufuk sana... -o0o- Sejti Sng Putra Allah mengutus Nabi Isa dan mendukungnya dengandalil-dalil serta mukjizat yang luar biasa. Ini terjadi karenakaumnya sangat keras kepala dan sombong. Bahkan, parapemimpin agama mereka ikut dalam barisan perusak danpembuat kejahatan. Hidayah dan nur yang telah dianugerahkanhilang lantaran kesombongan dan perbuatan zalim yangmereka lakukan. Allah juga menjadikan Maryam sebagai pendamping danpendukung putranya, yang juga sekaligus nabinya. Hidupnyayang pendek penuh dengan kesulitan-kesulitan yang wanita yang dipandang sebagai al-azizah atau wanitamulia dan terhormat yang telah menghadapi semua ujiandengan penuh kesabaran sepanjang hidupnya. Maryam adalah mukjizat agung yang telah dianugerahkanoleh Allah kepada Nabi Isa yang bersinar begitu adalah tamsil dari cahaya Ilahi. Lembut dan terang yangsenantiasa menjadi penopang, dinding tempat bersandar,serta selimut kehidupan bagi Isa dalam menunaikandakwahnya. umat Nabi Isa adalah orang-orang yang sangatsombong. Begitu banyak mukjizat yang dimiliki Nabi Isa dantidak pernah diberikan kepada nabi-nabi yang lain tak mampumeyakinkan dan meluruskan hati mereka. Pikiran dan hati para penduduk al-Quds tertutup rapatoleh dinding-dinding keingkaran yang begitu tebal sehinggamukjizat agung yang tampak di depan mata tidak diterimasebagai dalil oleh mereka, terutama soal kelahirannya yangtanpa seorang ayah. Padahal, mereka telah beriman kepadaNabi Adam dan Hawa yang tercipta tanpa seorang ayahdan ibu. Saat ini terjadi pada diri Nabi Isa, mereka justrumenyemburkan api itnah yang luar biasa. Salah satu hal yang membuat Allah murka kepada merekaadalah itnah kepada Maryam dengan tuduhan yang samasekali tidak terpuji. Kesalahan besar lainnya adalah membunuhNabi Zakaria dan Nabi Yahya. Padahal, keduanya adalahhamba dan utusan Allah yang diutus dari kalangan merekasendiri; kerabat dan keluarga mereka yang berbicara dalambahasa yang sama. Mereka dengan tega membunuhnya. Sungguh, hati mereka telah tertutup dengan tiraikeingkaran. Mukjizat Nabi Isa yang mampu mengubah burung darisegumpal tanah dan kemudian terbang tidak juga membuathati mereka luluh. Sebaliknya, mereka ingkar dan berkilahdengan berbagai sanggahan. “Aku telah datang kepada kamu dengan sebuah tandamukjizat dari Tuhanmu...” Kekuatan untuk menghidupkan dengan tiupan telahAllah turunkan kepada Nabi Isa dengan perantaraanMalaikat Jibril. Malaikat Jibril juga telah meniupkan kekuatan kepada Maryam sehingga dia menjadi seorangibu yang mengandung Kalamullah, memikul tugas menjagaKalamullah. Demikianlah takdir seorang Maryam. Ia mengandung,memikul, merawat, dan mencurahkan kasih sayangnya... Dia adalah pengemban amanah. Sungguh, apa yang diterima Maryam dan Isa dari BaniIsrail adalah hal yang sama sekali tidak bisa diterima dan putranya sangat bertakwa menunaikan syariatMusa, berbicara dengan bahasa yang sama, dan berasal daribangsa mereka sendiri. Apalagi, Bani Israil bukanlah bangsayang belum pernah mengenal Tuhan. Kitab yang menjadipanduan dan dibaca sehari-hari telah memberitakan soalkedatangannya. Sayang, semua ini mereka tolak terang-terangan. Mereka memang telah menutup rapat-rapat hatidan jiwa dari menerima hakikat kebenaran. “Aku diutus untuk membenarkan kitab Taurat yang telahditurunkan sebelumku dan untuk menghalalkan beberapa halyang sebelumnya diharamkan untuk kalian. Aku membawamukjizat. Karena itu, takutlah kepada Allah dan taatlahkepadaku,” kata Isa dalam setiap menyampaikan dakwah. Bani Israil telah diharamkan memakan beberapa makanankarena perbuatan mereka yang sudah keterlaluan. Merekadilarang memakan hewan berkuku dan juga lemak dalamhewan ternak, seperti kambing dan sapi. “Semua ini adalah hukuman bagi mereka atas kezalimanyang telah diperbuatnya.” Iri dan dengkilah yang telah melandasi keingkaranmereka... harus Zakaria dan bukan aku?” begitulahpernyataan yang diungkapkan di antara para rahib. Pertanyaan-pertanyaan bernada iri dan kesombonganselalu berembus dari mulut dan hati mereka. “Mengapa Maryam dapat melihat malaikat sementara akutidak?” “Mengapa Isa yang mampu menghidupkan orang yangsudah mati, dan bukan aku?” Berpegang teguh pada adat yang mereka jadikan sebagaiagama adalah hal yang sejalan dengan keinginan hati itu akan semakin memberi kekuatan kepada para rahibuntuk mendapatkan harta dan juga otoritas politik. Merekamenyatakan diri sebagai pembimbing umat meski sebenarnyasebagai perusak. Ketika Isa berseru, “Allah adalah sesembahanku dan jugasesembahan kalian. Oleh karena itu, menghambalah kepada-Nya karena inilah jalan yang benar bagi kalian!”, mereka punmenentang seraya melakukan penyerangan. Suatu waktu, Nabi Isa dan Maryam menyadari sebuahrencana pembunuhan atas diri mereka. “Maka ketika Isa merasakan keingkaran mereka BaniIsrail, dia berkata Siapa yang akan membantuku menegakkanagama Allah?’ Para hawariun menjawab, Kamilah penolongagama Allah. Kami beriman kepada Allah, dan saksikanlah,bahwa kami adalah orang-orang muslim.” Maryam sangat mengasihi para hawariun. Sampai-sampai,pakaian yang mereka kenakan adalah hasil pintalan Maryamatau kaum wanita yang setia jadi pembantunya. Maryam jugamemanggil mereka dengan sebutan “anakku”. hawari yang Alquran telah bersaksi untuk merekaadalah Dua nelayan bersaudara bernama Petrus dan Andreas... Seorang ahli pajak bernama Matta... Kedua putra Zebedi bernama Yuhanna dan Yakub... Taddeus... Yahuda Toma.... Bartholomeus... Philiphus.. Yakub putra Alfeus... Gayyur Simun... Yahuda Iskariot pembangkang Para hawari ini telah berkata, “Kami beriman kepada apayang telah diturunkan Tuhan, kini catatlah kami ke dalamorang-orang yang bersaksi!” Mereka selalu menyertai Nabi Isa ke mana pun setiap perkataannya yang penuh dengan ajaranhikmah. Setelah kepergian Nabi Isa, mereka menyebar keseluruh penjuru dunia untuk mendakwahkan karena kezaliman dan tekanan yang selalu dilancarkanpara penguasa zalim, sebagian dari mereka telah wafatdengan syahid, sementara sebagian lagi dimasukkan ke dalampenjara. Semoga Allah menjadi pembela perjalanan yang ditempuhmereka... -o0o- Sepanjang hidup, Nabi Isa telah menjauhkan diri daripolitik. Isa yang tidak pernah tunduk kecuali kepada Allahjuga mau tidak mau dianggap sebagai pemeran politik atausosok yang dituduh para penguasa telah menggerakkanpenentangan. Karena itu, setiap penguasa merasa ajarantauhid yang didakwahkan Nabi Isa dianggap ancaman bagikekuasaannya. Penghormatan dan kecintaan penduduk kepada ibu danputranya itu kian hari dirasa makin mengguncang posisi politikpara penguasa. Padahal, apa yang diperjuangkan keduanyabukan pangkat dan dunia sebagaimana yang diperjuangkanpara penguasa itu. Ya, saat itu tata kehidupan Bani Israil dalam kondisi kacau kemelut. Ini disebabkan agama yang telah dijadikan alat untuk mendapatkan harta dan pangkat dunia. Saat para pemuka agama membicarakan agama, yangmereka katakan sama sekali kering dari ajaran dan hakikatsuci. Yang ada, agama yang telah diperbudak untuk agama akhirnya menimbulkan berbagai kezaliman,kerusakan moral. Singkatnya, segala segi kehidupan telahhancur dibuatnya. Tak heran jika dikatakan bahwa Ruh telah meninggalkanal-Quds’ sebelum Isa lahir dari rahim Maryam. Itulah salahsatu hikmah dari sebutan Ruhullah’ kepada Nabi Isa, yaitupenawar dahaga akan ruh bagi kota al-Quds yang kehidupannyatelah begitu materialistis dan dipenuhi hasrat duniawi. demikian, para penguasa selalu berlaku zalimterhadap Maryam. Maryam tidak pernah mengunjungi raja,tidak pula mendatangi istananya. Namun, setiap raja selalumembuntutinya. Terhadap aksi seperti itu, Maryam dan Isa telah berkatakepada umatnya, “Sebagaimana hikmah telah diserahkan olehmereka kepada kalian, serahkan pula dunia kepada mereka.” Sayang, kata-kata itu telah dimaknai dengan Hak Tuhanadalah untuk Tuhan, sementara hak Kaisar untuk Kaisar’.Ini membuat politik kezaliman dilancarkan dalam masaberkepanjangan. Padahal, sebagaimana pada kisah-kisah yangtelah kita coba ceritakan sebelumnya, Sang Ibu dan Putranyatidak pernah mengajarkan kezaliman. Kesabaran, ketabahan,dan kasih sayang justru dihadiahi perlakuan keji dari parapenguasa. -o0o- Marym dn Seeor Kijng Maryam sangat cinta pada bunga-bungaan, pada buahzaitun dan tin, pada keledai tunggangan milik Yusuf sangtukang kayu, pada pohon-pohon kurma, pada kupu-kupu,pada burung-burung, pada cicak, pada ikan.... Maryam sangat cinta dengan segala ciptaan Allah. Suatu hari, saat Isa sedang tidur di rumah, tiba-tiba datangseekor kijang mendekati rumah Maryam. Maryam tidak inginmembuat putranya terbangun dan tidak ingin pula kijang itulari menghindar. Ia hanya diam berdiri memandangi kijang itudari jendela. Seketika itu pula Maryam merasa mengenal kijang yang pernah menemani hari-harinya di Betlehemyang penuh kepedihan saat sang putra dilahirkan. Saat itu,kedatangan kijang yang juga sedang menyusui bayinya telahmenjadi hiburan dan teman bagi Maryam yang sedangmengasingkan diri selama empat puluh hari setelah ibu yang juga saling menyusui dan memandangi satusama lain. Kijang itu ternyata tidak takut dengan ajak anaknya mendekati Maryam dan Isa yang masih kijang itu meminum air dari tangan Maryam. kijang yang datang ini... Atau mungkin anak kijang itu yang kini telah menjadibesar? Dengan penuh tanya, Maryam terus memandangi kijangyang datang mendekati rumahnya itu. Ternyata, kijang itu menangis dan meneteskan air mata. Penuh kedua mata kijang dengan linangan air mata. Mengapa ia menangis? “Ya, Allah!” kata Maryam. “Jangan sampai terjadi sesuatu dengan anaknya!” Kemudian Maryam memerhatikan wajah anaknya yangsedang tertidur. Lelap tidurnya karena begitu lelah berjalandan bahkan berlari ke mana-mana untuk menunaikan tugasdakwah dari Allah sebagai nabi. Seorang yang hatinya setiapkali terasa remuk akibat kebengisan sebagian besar umatmanusia. Seorang nabi yang sama sekali tidak memiliki hartadunia apa-apa selain sehelai baju yang dikenakannya. Denganpenuh perhatian, Maryam terus memandangi wajah putranya. Jika saja Allah tidak berkenan mengaruniai kesabaran untuk berdakwah di jalan-Nya, baik Maryam maupun putranya tidak akan tahan dengan berat ujian kehidupan. Maryam terus memandang wajah putranya hinggameneteskan air mata dan mulai membasahi kaki putranya. Bagaikan mutiara tetes air mata Maryam terjatuh darikedua matanya. ditimba dari kedalaman sumur tempat Nabi Yusufdilemparkan. Laksana kobaran api cinta yang berubah menjadi tetesair mata untuk menyirami unggun api tempat Nabi Ibrahimdibakar. Isa al-Masih pun terbangun akibat tetesan air mata yangmembasahi kakinya. Ia segera bangkit sambil berucap salamhormat kepada ibunya. Isa melihat seekor kijang yang berjalan mendekatirumahnya. Telah diriwayatkan bahwa Nabi Sulaiman memahamibahasa burung-burung. Demikian pula dengan Nabi yang begitu bersih telah memberikan pemahamandengan cepat bahwa kijang itu sedang menangis untukanaknya, sebagaimana ibu yang sedang menangis karenanya. Maryam bersama putranya, semoga rahmat Allah tercurahbagi keduanya, segera mengikuti sang kijang. Ternyata, anak kijang yang masih kecil itu telah matitergeletak di dalam dinding sebuah gua karena dilukai parapemburu. Bukankah seekor kijang juga yang telah memberimakan kepada Nabi Ibrahim saat ia ditinggalkan di dindingsebuah gua? Maryam kembali memandangi wajah putranya denganlinangan air mata kasih sayang seorang ibu. Dalam catatan kitab-kitab terdahulu diriwayatkan bahwaIsa al-Masih dapat menghidupkan kembali anak kijang yangtelah mati itu dengan izin Allah. Demikianlah, orang-orang yang berlari menghindar dariraja dan orang-orang kaya akan mencatat kenangan merekatentang seekor kijang yang merana... -o0o- Marym dn Kam isin “Kita adalah makhluk teramat lemah, wahai saudara-saudaraku,” kata Maryam terhadap kaum perempuan yangmendatangi rumahnya. Padahal, kebanyakan orang yangbersandar di pintu rumahnya adalah dari kalangan fakir,yatim, atau kaum papa lainnya. Oleh karena itu, kelemahankodrat manusia tidak diperlukan sebagai pengecualian. Sebab,mereka memang kaum papa dan dipandang lemah oleh orang-orang kaya dan pengusaha. “Di mana pun kalian berada, takutlah senantiasa kepadaAllah. Setiap apa yang kalian makan, meski sesuap, harus darirezeki yang halal. Jadikanlah masjid-masjid sebagai orang yang mendukung rakyat yang lemah dan bukanorang yang memiliki kekuasaan di dunia. Ajaklah nafsumuuntuk menangis, hatimu untuk berzikir, dan badanmuuntuk terbiasa bersabar. Janganlah engkau menjadi orangyang merisaukan rezekimu di hari esok,” demikian tambahMaryam. Sayang, bukan hari esok, untuk sekarang pun mereka tidakmemiliki apa-apa dalam genggamannya. Dalam pandanganorang-orang yang butuh sesuap nasi ini, “hari esok” adalah yang amat panjang. Mereka sangat berharap dapatselamat melewatkan detik-demi detik yang sedang dialami. Lalu, mengapa Maryam masih juga berpesan tentangkesabaran? Dengan penuh kasih sayang, Maryam pun menerangkankepada kaum perempuan. “Suatu hari, seorang yang teramat fakir hidup di kotaal-Quds. Saking papanya, ia bahkan tidak memiliki rumahagar dapat berbaring saat tidur. Ia pun akhirnya tidak pernahmeninggalkan masjid. Kehidupan sehari-harinya dicukupidari pemberian sedekah para jamaah. Pada suatu hari, ketikaorang ini mengambilkan tongkat Nabi Uzair yang terjatuh,ia mendapatkan doa mustajab dari sang nabi. “SemogaAllah berkenan memberi sesuai dengan apa yang ada dalamhatimu.” Orang fakir itu pun berkata, “Dalam hatiku terdapatkeinginan untuk memiliki dua ekor kambing yangmenghasilkan susu yang banyak, wahai Nabi!” Sang nabi lalu memandangi wajah orang itu seolah-olahbertanya apakah tidak ada hal lain yang engkau minta?’ Meski tidak seberapa, para malaikat berkata, “Sayangsekali. Pedih rasanya mendengar permintaan itu.” Nabi Uzair pun heran. “Apa yang membuat berat permintaan itu?” pikir NabiUzair. “Dua ekor kambing bukan kekayaan yang dilarang danjuga perlu dirisaukan, bahkan ini adalah sebuah kebutuhan?” Sementera itu, dalam waktu yang cukup singkat, keduaekor kambing itu telah beranak pinak menjadi empat, delapan,tiga puluh, empat puluh, sampai-sampai dalam beberapa lamajumlahnya telah menjadi seribu ekor. Saking sibuk mengurusiternak, tidak ada waktu lagi untuk pergi ke masjid. Bahkan, keluar dari kota al-Quds untuk menetap di dulu biasa menunaikan salat secara berjamaah, kinihanya bisa seminggu sekali. Beberapa lama kemudian, iabahkan sama sekali tidak bisa berangkat ke masjid. Pekerjaandan kekayaannya telah membuatnya terlena. Beberapa lama kemudian, Nabi Uzair bertanya tentangkeadaan orang tersebut. Setelah mendapatkan jawaban, NabiUzair baru menyadari mengapa waktu itu para malaikatmenyayangkan permintaan tersebut. “Jika saja ia tetap tinggal di masjid dengan kehidupan yangsangat sederhana dari sedekah jemaah namun imannya tetapteguh....” Maryam melanjutkan perkataannya di hadapan para ibuyang telah berkumpul di rumahnya. “Wahai saudaraku! Dari cerita ini, kita paham bahwasetiap permintaan akan materi, yang sepintas hanya sebuahpermintaan yang wajar, sejatinya adalah sebuah perangkapdunia. Jika kekayaan akan memalingkan kita dari Allah,keadaan lapar tentu lebih baik daripadanya. Namun, kita jugamemohon perlindungan Allah dari kelaparan dan kefakiranyang justru malah memalingkan kita dari Allah.” Setelah selesai cerita Merzangus pun segera membagi-bagikan kue yang ada di keranjang kepada para tamu. Setiap kali Maryam menyinggung masalah kekayaan dankefakiran, ia selalu berpesan, “Awas, hati-hati! Jangan sampaikita berdiri dengan kedatangan seseorang karena sampai berbuat demikian, iman kita bisa hilang. Jikaada orang yang berhak untuk kalian hormati dengan berdiri,mereka adalah ayah dan ibu. Dan juga terhadap haiz danpembaca Taurat yang fasih, hormatilah kedatangan merekadengan berdiri.” juga berada di depan ibu dan para haiznya. Segeraia berdiri seraya memberi tempat kepada mereka. -o0o- Maryam dan Nabi Isa terikat pada syariat Musa . Meskidemikian, mereka justru mendapatkan perlakuan jahat daribangsanya. Para alim Bani Israil tidak juga mau menerimanyasebagai utusan dari Allah. Selain itu, kedudukan para rahib sebagai pemuka agama,yang secara politik dan ekonomi merupakan kedudukanmapan dalam kasta atas, membuat mereka kebal hukumdan memiliki status ekonomi tinggi. Mereka bisa membuatperaturan yang menguntungkan sekehendak hati. Bebas daripungutan pajak. Bebas membuat kebijakan demi kepentinganpolitik mereka. Menurut Maryam, mereka “telah beraktivitas dalamkeburukan”. Mereka menjual agama demi mendapatkan duniayang fana. Isa dan Maryam, setiap kali ada kesempatan, selalumenyampaikan apa yang telah dilakukan Bani Israil. “Kata-kata Anda sekalian adalah obat yang menyembuhkanpenyakit, namun perbuatan Anda sekalian adalah derita yangtidak bisa diobati.” Dan sungguh, tidak ada hal yang jauh lebih berbahayadaripada alim agama yang tidak sama antara perkataan danamal perbuatannya. Maryam sering mengatakan demikian tentang paraalim agama yang berbeda antara ucapan dan perbuatannya. adalah orang-orang yang kata-katanya adalahmakanan, sementara amal perbuatannya racun!” Sepanjang hidup, Maryam selalu belajar dan mengajar. Dialah guru sejati, yang baik dan kuat perkataannya. Guru yang memberikan kesan tak terhapuskan. Baginda Rasulullah Muhammad sering bersabda saatputri beliau, Fatimah az-Zahra, bertutur kata baik lagi penuhhikmah. “Dalam bertutur kata penuh hikmah, engkau mirip sekalidengan wanita surga Maryam putri Imran, wahai putriku.” Suatu saat, asap dapur keluarga Rasulullah tidak mengepulselama beberapa hari. Fatimah lalu datang kepada Rasulullah dengan berlari membawa sepiring makanan yang mungkinia dapatkan dari hadiah tetangga. Senang sekali anggotakeluarga dengan kedatangan Fatimah. Saat itu Rasulullah bertanya kepadanya tentang asal makanan itu. Fatimah pundengan tersenyum manis menjawab, “Dari Allah, wahaiRasulullah. Dari Allah yang tiada terhitung limpahan rezeki-Nya.” Mendapat jawaban yang baik ini, Rasulullah menyanjungputrinya dengan bersabda bahwa dirinya mirip sekali denganMaryam. Rasulullah kemudian mencium keningnya. Fatimah dan Maryam sangat simetris, bayangan satu samalain dalam hal sikap dan sifat. 441
Maryam juga seorang guru sebagaimana Fatimah. Para wanita dari al-Quds setiap hari mendatangi rumah Maryam pada waktu tertentu untuk mendapati nasihat dan pelajaran darinya. Maryam menjelaskan kepada mereka tentang isi Taurat, kisah hikmah para nabi, dan menyampaikan ceramah tentang ahlak yang mulia. Ketika sang putra mendapatkan wahyu berupa Injil, Maryam pun melanjutkan pengajarannya dengan bersandar pada kitab yang diturunkan kepada putranya. Begitu pula dengan Fatimah. Ia adalah santri dan pemberi nasihat Alquran yang sejati. Buku catatan yang Fatimah gunakan saat memberi pelajaran disebut dengan “Mushaf Fatimah”. Di luar perkataan yang baik seperti ini, Maryam maupun Fatimah bukan orang yang banyak bicara. Keduanya senantiasa lebih memilih berdiam diri dalam keadaan tafakur daripada ikut dalam keramaian. Apalagi, keramaian yang sarat dengan ghibah dan perkataan yang tidak berguna. Semoga Allah rida terhadap kedua ibunda ini dan para ibunda kita yang lainnya.... -o0o- 44252. Para Hawari dn Jmun al-Maidah Begitu cepat waktu berlalu. Masa tiga puluh tahun serasa tiga puluh bulan. Demikianlah waktu yang dialami sepanjang kehidupan Nabi Isa. Takdir telah membawanya terus berlari dan berlari cepat dalam masa yang singkat. Setiap hari, setiap waktu, dan setiap saat Isa berlari dari ujung ke ujung kota al- Quds demi berdakwah. Dalam perjalanan dakwah ini, para hawari ikut menyertai. Mereka, para pemuda yang di kemudian hari menyebut Rasul dengan sebutan “Mualim”, suatu hari telah berkata demikian, “Seandainya Tuhanmu menurunkan makanan bagi kami dari langit sehingga hati kami pun menjadi tenang...!” Nabi Isa tersentak kaget dengan permintaan seperti itu. Apalagi, para hawari ini telah menyaksikan begitu banyak mukjizat yang jauh lebih besar daripada makanan dari langit. Lebih dari itu, mereka adalah para santri yang telah mendengarkan langsung dari utusan Allah. Bukankah seharusnya hati mereka jauh lebih tenang? Karena hal inilah Isa sedikit gemetar saat memandangi mereka. 443“Jika ada sedikit iman pada diri kalian, takutlah kepada Allah.” -o0o- “Hati seorang ibu tidak pernah tertidur,” demikian dikatakan sebagian orang. Semakin banyak mukjizat besar dan semakin tegas ajaran nabawi, Maryam kian mengkhawatirkan putranya. Meski Maryam yakin bahwa tugas kenabian yang telah dititahkan kepada putranya datang dari Allah, kini semua pandangan telah tertuju kepada Isa . Isa juga menyadari keadaan ini. Bahkan, ia meminta para hawari saling berikrar mendukungnya. Mereka pun selalu menyatakan dukungannya demi rida Allah. Mereka telah saling mengikat janji. Dalam keadaan seperti inilah keinginan mereka untuk meminta makanan dari langit terasa sangat berat bagi Isa . Namun, titah takdir telah memiliki banyak arti dan fungsi. Jamuan makanan yang akan diturunkan dari langit memang akan menambah keimanan orang-orang Mukmin. Namun, di sisi lain, hal itu juga akan membuat kekufuran orang-orang kair semakin menjadi-jadi. Dan memang, bersamaan dengan kedatangan mukjizat, diturunkan pula ujian yang sangat besar kepada kaumnya. “Al-Maidah” bisa berarti hidangan makanan, bisa pula berarti “ilmu” sebagai hidangan bagi ruh. Sebenarnya, permintaan para hawari agar hati mereka dapat menjadi tenang sangat memungkinkan jika ilmu yang diinginkan. 444Nabi Isa pun segera mengambil wudu, mendirikan salat, dan mengangkat kedua tangannya untuk berdoa. Allah pun mengabulkan doanya dan menyampaikan peringatan mengenai ujian yang mengikutinya. Setelah Nabi Isa berdoa, turunlah dua makanan dalam warna semerah api di antara dua awan di langit. Makanan berupa ikan tanpa sisik dan duri yang masih hangat terhidang. Di dekat kepala ikan terdapat garam, di sebelah ekornya tampak air lemon, dan di sekelilingnya ada sayuran segar serta lima macam roti. Semua roti itu juga dilengkapi bumbu zaitun, madu, mentega, keju, dan daging. Petrus segera bertanya, “Wahai al-Masih! Apakah ini hidangan surga atau dunia?” “Bukan keduanya. Ini adalah makanan yang telah diciptakan dengan kebesaran Allah dan tidak ada yang menyamainya. Sekarang, silakan makan dan bersyukurlah kepada Allah.” Hari makanan turun dari langit ditetapkan sebagai hari raya bagi umat Nasrani. Limpahan nikmat ini genap empat puluh hari. Setelah hari keempat puluh, meski telah diperingatkan agar orang-orang kaya dan yang tidak sakit dilarang mengambil darinya, mereka tetap melanggarnya. Allah pun mengangkat nikmat itu dan menghukum mereka. Mukjizat yang semakin banyak itu justru diingkari, meskipun pada awalnya percaya. Seolah-olah masyarakat al- Quds telah diuji dengan telah meminta mukjizat. Atas permintaan Maryam mengenai upaya pengamanan putranya, berkumpullah para sahabat terdahulu. Mereka adalah Ham, Sam, Yaves, Yusuf tukang kayu, Merzangus, dan Ibni Siraj yang baru saja kembali dari Gazza. Meski demikian, Nabi Isa tetap tidak menginginkan tugas dakwahnya menjadi 445terhalang. Ketika mereka memikirkan kemungkinan untuk berhijrah kembali ke Mesir dan atau tempat lain, Maryam yang telah mengundang mereka untuk berkumpul pun berkata, “Wahai para sahabat Allah! Kini, Isa adalah seorang rasul yang mengemban risalah-Nya. Tidak mungkin dirinya mengikuti apa yang telah kita pikirkan. Ia hanya akan mengikuti perintah Allah. Dan sebagaimana semua orang, ia juga akan mengikuti kehendak takdir yang telah ditetapkan untuknya. Untuk sekarang ini, apa yang bisa kita lakukan hanya sebatas berdoa.“ Mendengar ucapan ini, luluh sudah hati setiap orang. Mereka terhening dalam kepedihan atas ketidakberdayaan. Mereka semua kini telah menginjak usia lanjut. Ham, Sam, dan Yaves telah hampir berusia delapan puluh. Rambut mereka telah memutih dan hanya dapat berjalan dengan bersandar tongkat. Meski Ibni Siraj telah memasuki usia enam puluh lima, kesehariannya yang gesit telah membuatnya menjadi yang paling muda di antara para sahabatnya. Yusuf tukang kayu dan Merzangus sudah berusia enam puluhan. Bahkan, pedang Ridwan yang selalu Merzangus sandang kini sesekali menggores tanah. Merzangus sendiri kerap mengira ada orang yang datang dari belakang saat suara goresan ujung pedang dengan bebatuan di jalan terdengar. Yusuf sendiri selalu seperti sediakala, tetap setia dan penuh penderitaan hidupnya. Ia menempatkan diri laksana seorang ayah yang 446selalu menanggung kepedihan namun setia. Ia akan selalu mengulurkan tangannya. Namun, ia pun kini telah lelah karena faktor usia. Dan Maryam adalah ibu dari semua umat yang telah mulai memanggilnya, bahkan sejak ia berusia belasan tahun. Ibu yang senantiasa menjaga kehormatan dan keteguhan, sama seperti saat masih kecil dan muda dulu. Malam hari itu semua terlihat menatap dengan pandangan aneh. Tiba sudah waktu bagi para sahabat yang saling mencintai satu sama lain demi Allah itu saling berpisah... Bangkitlah mereka. Berucap doa.... Para sahabat laki-laki berpisah pergi ke gunung tempat untuk mendengarkan pengajian dari Isa al-Masih. Sementara itu, Merzangus bersiap-siap untuk bertakziah ke Wali Pontius Pilatus atas kematian putrinya yang jatuh dari kuda beberapa hari lalu. Saat mengenakan jubah hangat, ia bertanya kepada Maryam, “Apakah Anda tidak ikut bertakziah, Tuan?” Maryam tampak sangat pucat dan sedang berpikir keras. Ia menyampaikan bahwa dirinya tidak lagi kuat untuk mengadakan perjalanan ke istana. Ia hanya menyampaikan salam untuk Prokula, istri sang wali yang secara diam-diam telah beriman kepada Isa. “Sungguh, hatinya sedang begitu bersedih. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya. Semoga Allah melindungi kita semua dari kejahatan suaminya yang telah menyelimuti seluruh al-Quds.” Sebenarnya, tidak mungkin Pilatus mengizinkan Merzangus memasuki istana. Namun, karena takut kehilangan istrinya yang sangat berduka setelah kematian putrinya, ia 447pun memutuskan memanggil Merzangus ke istana. Hanya dengan kedatangannyalah Prokula dapat kembali merasa lebih nyaman. “Tidak tega saya meninggalkan Anda malam ini. Namun, Prokula telah begitu lemah sehingga ia hanya menerima diriku ke dalam ruangannya. Berkali-kali dirinya jatuh pingsan karena menahan kepedihan. Mohon izinkan saya menemaninya untuk beberapa saat,” kata Merzangus sambil memandangi wajah Maryam. “Dengan senang hati, pergi dan sampaikan salamku kepada Prokula. Dia saudara seagama dengan kita. Jangan kita meninggalkan dirinya dalam hari yang pedih ini. Kebetulan, malam ini Miryam dari Mecdiye juga akan bertamu. Dia bisa membantuku. Engkau jangan terlalu merasa khawatir, Merzangus.” “Oh ya... masakan untuk makan malam juga sudah saya siapkan. Masih berada di atas tungku. Jika Rasul kita datang bersama dengan para hawari, semoga Miryam dapat membantu menyajikannya. Mohon perkenankan saya pamit! Keduanya pun berpisah... Berpisah dan berpisah... Berpisah untuk tidak pernah bertemu lagi.... -o0o- 44853. Berpsah Slmnya Merzangus telah menceritakan kisah ini kepada Prokula, istri wali Pilatus, ketika mengantarnya ke tempat Maryam menghabiskan waktu untuk beribadah dan mengasingkan diri. “Aku sendiri telah menyaksikan semua mukjizat luar biasa mulai dari sejak lahir! Sebentar lagi kita akan bertemu dengan Ibunda Maryam. Engkau dapat mengetahui secara lebih dekat bagaimana putranya dilahirkan dengan penuh kesulitan. Namun, sejak saat itu pula Maryam telah membekali diri untuk membentengi putranya yang kelak akan membawa mukjizat luar biasa.” Saat bicara seperti ini, Merzangus hanya bisa tersenyum menahan pedih di dalam hatinya mengingat semua peristiwa yang telah terjadi di masa lalu. Merzangus terbatuk-batuk. “Pada masa-masa itu, orang-orang Yahudi telah menganggap bahwa perempuan adalah lebih lemah dari pada anak laki-laki. Inilah adat kehidupan dunia pada masa itu. Kaum wanita sama sekali tidak pernah dianggap sebagai bagian dalam kehidupan oleh para ahli politik, pembesar 449kerajaan, bangsawan, dan bahkan oleh pemuka agama. Maryamlah yang mengguncang kesombongan dan pangkat dunia yang selalu mereka agung-agungkan. Perempuan yang saat diasingkan dari tanah kelahirannya hanya berbekal sehelai pakaian yang melekat di badan. Namun, mereka sama sekali tidak menyadari bahwa perjalanan itulah yang akan membawanya pada pertolongan Ilahi. Sebuah perjalanan yang membawanya menyaksikan Isa al-Masih yang dengan seizin Allah mampu menghidupkan orang yang sudah mati atau menyembuhkan yang sedang sakit keras. Maryam mungkin tidak bisa menunjukkan semua mukjizat agung itu. Namun, Allah telah membuatnya mampu melakukan sesuatu yang juga sangat luar biasa. Allah telah menjadikan Maryam sebagai seorang ibu yang melindungi sang Kalamullah saat semua orang menghardiknya, menghinanya. Dengan kehangatan seorang ibu, pada masa-masa sulit itu Maryam mendekap erat sang putra. Mukjizat kesabaran dan kasih sayang yang begitu luar biasa itu akan menjadi contoh dan panduan bagi seluruh umat manusia di sepanjang masa... Seharusnya engkau menyaksikan masa-masa itu, wahai putriku, Prokula. Saat semua orang melemparinya dengan batu, menghalang-halangi jalannya dengan menebar duri, meneriakinya dengan penghinaan yang tiada tara, memukulinya tanpa kenal kasihan. Namun, dalam semua kesulitan itu, Ibunda kita, Maryam, tetap tegar dalam kecerahan wajah penuh pancaran nur, dengan hati yang teguh penuh dengan kekuatan iman. Ia berjalan dan terus berjalan tanpa sedikit pun bicara. Seolah-olah semua kejadian itu baru saja terjadi pada hari ini. Waktu itu, di tengah-tengah keramaian, aku merasakan 450diriku begitu lemah tak berdaya. Terdetak dalam hatiku untuk mendapatkan jalan keselamatan darinya saat pandanganku bertemu dengan pandangannya. Saat semua warga al-Quds yang telah terbakar hatinya dengan amarah berteriak sekeras- kerasnya, Engkau adalah saudara perempuan Harun, wahai Maryam! Lalu bagaimana engkau begitu terlaknat untuk melakukan perbuatan dosa besar itu! Dengan siapa engkau telah melahirkan anak itu!?’ Sungguh, pedih sekali hati ini aku rasakan saat itu. Aku pun tersungkur seolah-olah ribuan belati yang tajam datang menghunjam. Namun, beribu syukur semoga tercurah ke hadirat Allah. Terjadilah apa yang telah Allah titahkan untuk terjadi. Saat Maryam mengulurkan sang bayi ke hadapan para rahib Baitul Maqdis semua orang yang menentangnya atau berhati sekeras batu pun terdiam seribu bahasa dengan lidah terkunci saat dengan seizin Allah bayi yang baru saja dilahirkan itu dapat berbicara. Sebentar lagi kita akan bertemu dengan Maryam sehingga engkau akan memahami semuanya dengan lebih terperinci...” Perjalanan malam hari itu menyusuri jalan setapak nan terjal, berlika-liku, licin, menyusuri semak-semak belukar pepohonan hena. Akhirnya, Merzangus dan Prokula tiba di sebuah surau kecil di selatan al-Quds. Sepanjang jalan, Merzangus juga bercerita panjang lebar tentang tanaman hena. Ia juga menceritakan petualangannya menyusuri padang sahara yang ia alami di masa kecil bersama Zahter. Entah sudah berapa kali Merzangus menceritakan kisah ini? Seolah-olah semua kejadian yang mengisi waktu kehidupannya sampai saat ini telah begitu padat memenuhi angannya dalam bayangan seperti embusan kabut yang terbang dengan begitu lembut. 451Sungguh, semua kejadian sepanjang kehidupannya itu telah berlalu penuh kepedihan. Meski demikian, ia tetap bersabar dan berusaha tegar seraya menghunus pedang. Ia akan terus berjuang. Meradang dan menerjang menjadi sikap seorang Merzangus. “Pohon perdu ini jenis yang tidak sabar. Ia tidak ingin seorang pun mendekat, menyentuhnya. Persis sekali keadaannya dengan para pengembara yang tak sabar. Hatinya selalu dipenuhi dengan keinginan untuk dapat segera menempuh perjalanan secepat-cepatnya. Itulah kalian, wahai pepohonan hena!” kata Merzangus. Jika disentuh bunganya, bagian itu langsung pecah. Benih dari dalam kelopaknya mencuat dalam waktu dan kecepatan yang membuat semua orang kaget dengannya. Seolah-olah ada sebuah surau tempat dia menimba ilmu dan beribadah yang ingin segera dikunjungi. Seakan-akan ingin sesegera mungkin berlari, menghindarkan diri dari pesona dunia. Berlari dan terus berlari untuk meninggalkan dunia sejauh- jauhnya di belakang... “Berlari menuju ke haribaan Allah,” tambah Merzangus. “Tahukah engkau mengapa bunga hena ini berteriak pedih? Dia katakan lepaskan, biarkan aku! Jangan sentuh aku, jangan halang-halangiku karena aku harus segera pergi! Seolah-olah mereka berteriak, Noli Me Tengere’.... berlari menuju Allah.” -o0o- 452Saat sampai di surau, mereka menyaksikan Miryam sedang bersimpuh di pangkuan Maryam, menangis sejadi-jadinya. “Linangan air mata hamba yang bartobat tidak lebih rendah daripada linangan air mata para hamba zuhud yang meninggalkan keduniaan dan penyabar,” demikian kata Maryam. “Sampai saat ini belum ada seorang wanita ahli tobat yang sedemikian banyak menangis kepada nabi kita, Isa ,” kata Maryam lagi sehingga Miryam pun semakin menjadi-jadi tangisnya. Ia terus bersimpuh di atas pangkuan dalam belaian lembut tangan Maryam. Setelah beberapa saat, keempat wanita itu bersama-sama beranjak pergi ke pemakaman... Ini sungguh perjalanan yang dipenuhi kesedihan. Mereka ditemani lentera yang ikut menahan kepedihan dalam keremangan cahayanya. Semua orang saat itu masih mengkhayalkan nabi mereka yang sedang menikmati makan malam sehari sebelum sang pengkhianat memberitahu kepada wali Roma mengenai keberadaannya. Sampai saat itu pula semua orang masih belum memahami hikmah di balik contoh yang diberikan Nabi Isa untuk selalu bersedekah, baik saat makan maupun setelahnya. Bahkan, Miryam begitu senang mempersiapkan hidangan makan yang penuh dengan pengabdian dan ketulusan. Saat itu, Miryam selalu membersihkan nampan tempat makan dengan mengusapkan minyak yang menjadi kesukaan Nabi Isa. Suatu ketika, Miryam tidak kuasa menahan kepedihan hati sehingga terlintas keinginan untuk membersihkan sisa- sisa makan Nabi Isa dengan harapan agar Allah mengampuni 453dosa-dosanya. Tanpa mengganggu siapa pun, ia membersihkan nampan dan tikar yang digelar untuk acara makan. Miryam begitu malu dengan perbuatan dosa di masa lalu. Setelah bertobat ia tidak pernah melepaskan diri dari pakaian bercadar. Ia selalu merasa malu dengan sesama. Malu dan merasa tersiksa dengan kehidupan masa lalunya. Begitulah seorang Miryam setelah bertobat.... Pada suatu malam, Miryam juga melakukan hal yang sama. Ia merangkak memasuki ruangan untuk membersikan nampan dan semua perkakas tempat makan malam. Saat itu dirinya tidak tega melihat Nabi Isa yang begitu lelah dan merasakan kepedihan dari kedua kakinya yang penuh dengan tusukan duri hingga darah keluar sana. Miryam tidak kuat membayangkan perjuangan Nabi Isa. Ia tak kuasa menahan tangis seraya membersihkan tempat makan. Di tempat duduk Nabi Isa tampak noda darah. Dengan air mata bercucuran, Miryam terus membersihkan bercak-bercak darah itu dengan minyak. Sesampai di pemakaman, mereka mulai mencari-cari berharap ada tanda dari kejadian hukuman mati dilaksanakan siang hari. Meski Merzangus dan Maryam yakin bahwa yang dijatuhi hukuman mati itu bukan Nabi Isa, mereka masih belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Benarkah al-Masih masih hidup ataukah sudah meninggal? Lalu, di mana keberadaan Nabi Isa sekarang? Karena tiga hari ini tidak ada tanda dan kabar dari Isa , keempat wanita itu datang ke pemakaman untuk mendapatkan tanda keberadaanya. Selama tiga hari Maryam dengan tegar menghadapi seluruh kepedihan yang menghunjamnya. Namun, dalam tiga 454hari terakhir ini kepedihan itu menikam hatinya begitu dalam. Ia pun luluh bagaikan lilin yang terbakar. Malam itu, Maryam seakan-akan menjadi seorang ibu yang terhimpit di antara langit dan bumi. Garis takdir sepanjang masa telah mendapati diri Maryam sebagai hamba yang selalu teguh, taat, dan rajin bagaikan seorang santri. Namun, seperti apa pun itu, ia adalah seorang ibu, yang hatinya juga begitu terluka. Remuk jiwanya merasakan kepedihan perasaan yang tidak juga kunjung mengetahui keberadaan putranya. Maryam diam terpaku, seakan-akan seisi jiwanya telah membeku.. Mungkinkah jiwanya membeku? Bagaimana rasa jiwa yang membeku? Kadang air begitu keras membeku, kemudian retak dan patah hingga berkeping-keping. Begitu juga jiwa saat disentuh dingin kepedihan merindukan anak. Jika itu adalah jiwa seorang ibu, saat itulah seisi jiwanya akan membeku kemudian hancur berkeping-keping. Malam itu seakan-akan menjadi masa-masa kelahiran putranya di Betlehem. “Sungguh, kehilangan dirinya sepedih melahirkannya, duhai Tuhanku!” rintih Maryam. Terhimpit hati Maryam. Ingin sekali ruhnya terbang dari jeratan jasadnya. Bukan dengan kedua matanya, melainkan dengan dua ribu mata untuk mencari keberadaan putranya. Ingin sekali kedua tanganya segera mendekap erat-erat putra yang juga nabinya. Remuk hati Maryam.... terbakar kepedihan merindukan putranya... 455Apa yang sebernarnya telah terjadi pada putranya? Padahal, sepanjang hidup, Maryam memang telah mendekap erat-erat sang putra yang lahir tanpa ayah. Maryam ingin sekali meringankan kepedihan putranya dengan mencurahkan seluruh cintannya kepadanya. Namun, begitulah yang terjadi setiap kali menyisir rambutnya, setiap mencium keningnya, setiap mengangkatnya saat terjatuh, setiap memerhatikannya dari kejauhan saat bermain dengan teman-teman sebayanya. Hati Maryam selalu gemetar. Adakah seorang ibu yang bosan memerhatikan anaknya tumbuh? “Ah... kedua tangannya begitu lembut...” pikir Maryam dalam perasaan begitu pedih. “Sungguh, kedua tangannya selembut sutra.” Isa seakan-akan tidak tumbuh dewasa untuk ibunya. Kedua tangannya maksum dan lembut sehingga tak jemu- jemu Maryam membelai dan menciumnya Ia laksana hujan yang mengguyur pada musim semi. Ah, betapa wangi aroma putranya, laksana delima yang diturunkan dari surga, minuman segar yang diambil dari saripati telaga Salsabil di surga. Mutiara. Zamrud. Dialah Isa bagi Maryam. “Rambutnya yang terurai sampai ke keningnya...” pikir Maryam kemudian. “Ah rambut putraku.... sungguh rambutnya...” kata Maryam kemudian seraya hanyut dalam tangis. Pikiran, khayalan, dan perasaannya tumpah merindukan putranya. Baru sekali ini Maryam menyebut Isa al-Masih dengan kata “anakku” dengan suara lantang. Padahal, selama ini tidak pernah Maryam mengatakan “milikku” pada apa pun. Sungguh, ia tidak pernah 456mengatakannya. Ia merasa malu kepada Tuhannya. Baru sekali ini Maryam mengatakan kepada para sahabatnya. “Sungguh, putraku begitu indah bagiku. Tahukah engkau?” tanya Maryam sehingga semua orang pun menangis saat mendengarnya. Maryam saat itu seakan-akan telah berbuka dari puasa bicara. Berbuka dengan jerit kepedihan hati seorang ibu. “Sering aku memerhatikan wajahnya saat tidur. Pada keningnya terurai seikat rambut. Tepat di sini....” “Tepat di sini...,” kata Maryam sambil menunjukkan keningnya sendiri. “Namun, apa yang telah terjadi dengan rambutnya, Merzangus? Di manakah sekarang keindahan wajahnya? Di manakah ia tertidur sekarang? Dengan bantal batukah ia kini tidur? Aku tidak pernah tega dengannya! Tidak tega untuk melihatnya, untuk membelainya, untuk menyentuhnya.” Di pinggir pemakaman, Maryam menggenggam sambil menciumi ranting-ranting pohon cemara yang begemerisik tertiup angin. “Dedaunan ini seharum wangi rambutnya. Wahai sahabatku, pohon Palestina, mengapa selama ini engkau diam saja tanpa memberiku berita akan keberadaan putraku? Mengapa bebatuan dan angin yang bertiup juga terdiam seribu kata?” Sahabat-shabat Maryam belum pernah melihatnya seperti itu. Sungguh, jika seorang anak meninggal sekali, seorang ibu akan meninggal seribu kali. Jika seorang anak hilang sekali, bagi ibu ia berlipat menjadi seribu kali. Seribu kali mati dan menghilang. Dan Maryam telah merasakan ketidaannya. Jika 457Tuhan tidak menuntunnya, jika Ia tidak membentenginya dengan kesabaran yang luar biasa, mungkin saja di malam itu Maryam juga ikut luluh. Merzangus hanya mampu berkata, “Isa al-Masih adalah hamba dan utusan Allah.” “Namun dia juga anakku. Sungguh, dia anakku yang sangat tampan,” kata Maryam memotong kata-kata Merzangus. Jika keduanya mendapati kejadian ini saat masih berusia muda, mungkin hancur dan guncang sudah seisi jiwa. Saat itulah, dalam kondisi yang sudah mulai ringkih karena tua, Merzangus tiba-tiba mengarahkan pedangnya yang terhunus ke arah bayangan seorang musuh dalam kegelapan. Dirinya seakan-akan telah menjadi gila. “Apa yang telah Anda katakan, wahai wanita mulia? Mungkinkah Allah akan meninggalkan Kalamullah-Nya? Pasti Allah akan memberi kabar akan keberadaannya ke dalam hati Anda, ke dalam jiwa hamba yang kembali kepadanya...” Inilah kata-kata Merzangus. Namun, dalam hati, ia juga berkata, “Jika saja angin yang berembus itu adalah seekor kuda tunggangan sehingga aku akan melompat ke atas punggungnya seraya memacunya dengan sangat kencang untuk segera menemukan keberadaan al-Masih. Mereka mencari tanda keberadaan Isa di seluruh pemakaman. Merzangus sesekali menghunus pedangnya seraya menebaskan ke arah kegelapan, menyangka ada suara gemeresik kedatangan musuh yang akan menyerang Maryam. Yang lain berjalan dalam tangisan pilu mencari tanda keberadaan maupun kematian Nabi Isa. Jika Allah tidak menggenggam alam dengan menurunkan kesabaran, niscaya langit akan pecah berkeping-keping karena 458kemarahan-Nya di malam itu. Alam dan isinya tentu tidak akan tinggal diam saat menyaksikan seorang yang maksum dibunuh, bukan? Pernahkah langit terpaku dan membisu saat melihat seorang maksum dihardik tanpa kenal belas kasihan? Pernahkah bumi diam tanpa mengguncangkan dirinya saat Kekasih Allah disiksa? Jika sampai saat ini alam dan isinya masih diam, pasti itu karena kesabaran-Nya. Pada malam itu, langit dan bumi telah menghamparkan kesabarannya seluas- luasnya... Sepanjang malam Maryam membelai setiap nisan. Merebahkan rerumputan yang ada di atasnya dengan air mata kasih sayang. Tanah kuburan pun ikut merintih pedih bersama tangisan Maryam. Jika Allah tidak menurunkan kesabaran kepadanya, niscaya tanah akan terbelah, meneriakkan kemarahan dengan teriakan sejadi-jadinya. Namun, langit dan bumi telah berada dalam kesabaran seorang ibu. Sementara itu, malam masih menyelimuti wajah dalam tangisan kepedihan sehingga malam yang gelap gulita pun menjadi terang di samping Maryam yang begitu menanggung kepedihan perpisahan dengan putranya. Jika seisi alam sedemikian pedih, menjerit, meratapi kepergian Isa, lalu bagaimana dengan Maryam? Apa yang mesti dikatakan kepada seorang ibu yang jiwanya terbelah meratap pedih karena kepergian putranya? Ia mencari dan terus mencari, bertanya kepada setiap makhluk, tanah, embusan udara, runcing duri yang menghalanginya di jalanan, kalajengking yang gemetar lemah dalam sengatan kepedihan, ular yang berlidah setajam pisau, bahkan kepada bulu-bulu burung hantu yang terbang dengan malu. 459Saat dalam keadaan seperti inilah, saat Maryam tak lagi sadarkan diri, mencari dan terus mencari jejak putranya ke segala penjuru, tiba-tiba tercium wangi bunga melati... Bau ini...! Ya, bau ini adalah....! Sampai saat itu pula Miryam tiba-tiba melompat mengejar bayangan kedatangan seseorang dari kegelapan yang dia sangka seorang juru kunci. “Wahai penjaga kuburan! Wahai seorang yang bertugas menggenggam kunci-kunci kepedihan di pemakaman ini! Apakah engkau membawa berita tentang keberadaan tuanku, Isa al-Masih? Tunjukkan kepada kami tempat ia dimakamkan? Atau tunjukkan kepada kami di mana keberadaannya saat ini? Wahai seorang yang menjaga pintu perantara di antara kehidupan dunia dengan alam akhirat, berkenankah membantu kami?” Demikian tanya Miryam. Padahal, bayangan nurani itu tidak lain adalah nur Isa al- Masih yang diutus untuk menemui ibundanya sesaat sebelum kepergiannya. Ia pun mulai menuturkan apa yang sebenarnya telah terjadi kepada mereka, terlebih kepada ibunya agar tidak larut dalam kesedihan. Dirinya telah diangkat ke langit atas izin Allah. Selain itu, sosok yang telah dijatuhi hukuman mati adalah Yahuda yang telah berkhianat karena menjual berita. Itu semua bisa terjadi juga atas kehendak Allah agar orang- orang zalim tertipu dan menangkapnya. Hanya beberapa saat penuturannya... Kemudian, bayangan nur itu tersenyum seraya berbalik sebelum pergi. Terang senyuman pada wajahnya. Tampak jelas hiasan di balik jubahnya yang tak lain adalah hasil 460pintalan Maryam. Kemudian, ia mengangkat jari telunjuknya, mengucap salam dengan menganggukkan kepala, lalu menghilang ke angkasa. Dan lagi, tepat sebelum kepergiannya, ia berpesan kepada ibundanya. “Wahai Ibu, janganlah menangis. Sungguh telah datang waktu yang ditentukan bagi Kalamullah,” katanya berpesan kepada ibundanya dalam tetesan air mata. Mereka pun berpisah... Seperti biasa, Miryam ingin mendekatinya. Berharap untuk sekali lagi dapat melihat wajahnya dari dekat. Namun, Sang Ruh telah berpesan kepadanya, “Mohon relakan diriku. Jangan engkau mencegahku,” katanya sebelum hilang dalam sekejap mata. Demikianlah, Sang Kalamullah yang turun dari langit telah kembali lagi ke langit. Sementara itu, Maryam mengumpulkan para sahabatnya seraya mendekap mereka dengan erat... -o0o- 461Peutup Kasih sayang adalah kedudukan yang jauh lebih tinggi dibanding cinta. Ia bahkan telah menjadi mahkota dan dipakaikan oleh malaikat kepada Maryam… Lalu, tertutuplah Maryam oleh tirai... Hingga tak seorang pun melihat wajahnya, tak seorang pula mendengar suaranya. Tak pernah ia bertutur kata… Selalu berdiam sebagai titahnya. Rahasia kasih yang hakiki adalah bersandar pada kemampuannya untuk diam. Jiwa seorang kesatria adalah menggenggam cinta untuk tidak melepaskannya. Namun, berlepas darinya tanpa pernah merasa memiliki hak atasnya adalah perbuatan yang membutuhkan jiwa kesatrianya kesatria… Dan Maryam, bahkan sebelum kelahirannya, telah dilepas, dikurbankan kepada Allah... Maryam semakin menutup diri, terlebih setelah kelahiran putranya... Demikianlah dunia baginya. Tak lebih dari setarik napas atau sehelai bulu yang terhempas... Segala yang ia cintai telah diberikan kembali kepada Allah. 462Telah ia berikan lagi “Kalamullah” miliknya ke langit. Dan setelah itu, semua kata tidaklah lebih dari sebatas kulit, selebar bayangan, dan gunjingan cinta. Karena itulah Maryam diam… Terdiam dalam keteguhan laksana gunung… Bagaikan mata air terjun dari ketinggian… Demikian ia telah meleburkan diri… Melebur ke dalam rahasia cinta dan kasih sayang… Melebur untuk menampik segalanya, mengasingkan diri menjadi hamba ahli tobat…. Semoga salam dan rahmat Allah terlimpah untuk para hamba saleh yang senantiasa menyeru kita untuk bertobat. Semoga salam dan rahmat Allah senantiasa tercurah kepada Maryam, Asiyah, Khadijah, dan Fatimah… ratunya para wanita surga. Semoga salam dan rahmat Allah, berkah dan kemuliaan Zat yang tiada sesembahan selain Dia, untuk baginda dan rasul-Nya, panutan dan kekasih kita umat manusia, sultan para nabi, Muhammad al-Mustafa , beserta segenap sahabat dan ahli baitnya…. 2 Rajab-14 Syakban 1429 3 Juli – 16 Agustus 2008 -o0o- 463Serial 4 Wanita Penghuni Surga 464
maryam bunda suci sang nabi pdf