KOMPETISIDEBAT SASTRA TINGKAT SMA 2022. Temukan pengalaman dan gagasan baru melalui kesenian dan pemikiran di Salihara Arts Center. KOMPETISI. ACARA. SEWA. Dukung program kami. Selengkapnya. Previous. Next. Salihara Arts Center Jl. Salihara No.16, Ps. Minggu, Kec. Ps. Minggu, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12520 Memilikipohon dan tanaman hijau di halaman masjid adalah bagian dari budaya Islam REPUBLIKA.CO.ID,ALBERTA -- Sebuah komunitas peduli lingkungan di Alberta, Kanada memulai misi mereka untuk menanam seribu pohon di lingkungan masjid. Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext 308. Phone: 021 780 3747 Fax: 021 799 7903 DariWikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. Komunitas Sastra Indonesia (disingkat KSI) adalah organisasi kesenian nirlaba di Indonesia yang bergerak di bidang kesenian, utamanya sastra. Komunitas ini didirikan pada tahun 1996, dengan tujuan ikut menumbuhkembangkan gairah bersastra melalui berbagai kegiatan pendukung. Berbicarakomunitas sastra, tentu tidak bisa melupakan pada komunitas Persada Studi Klub (PSK) di Yogyakarta. Komunitas PSK yang digawangi oleh mahaguru penyair Umbu Landu Paranggi dianggap sangat berhasil dalam menanamkan semangat berkarya pada anggota dan dalam berbagai warna karya penggiatnya. Beberapa penggiatnya sekadar menyebut beberapa nama antara lain Iman Budhi Santosa, Ragil Surwarna Jakarta- Guna melengkapi dokumentasi kerja sama Progran Studi (Memorandum of Understanding—MoU, Memorandum of Agreement - MoA/Program Kerja Sama dalam meningkatkan jaringan kerja sama lembaga pemerintah, Departemen Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unhas menggelar Lokakarya yang dilaksanakan di Hotel Kehadirankomunitas sastra sebenarnya menjadi wadah bagi penulis merintis jalan kesustraan mereka. Seperti komunitas sastra Stomata di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan komunitas sastra Rusa Besi di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta yang menjadi wadah diskusi para mahasiswa sastra. ProduksiSastra Komunitas Sastra Salihara, Jakarta Di daerah Jakarta, satu komunitas sastra yang paling besar dan eksis adalah Komunitas Salihara. Komunitas Sastra Salihara, merupakan komunitas sastra yang paling produktif menjalankan program-program yang telah disusunnya. Komunitas ini, dapat dikatakan, sudah sangat profesional mengelola BUKUORI PEMETAAN KOMUNITAS SASTRA DI JAKARTA, BOGOR, TANGERANG di Tokopedia ∙ Promo Pengguna Baru ∙ Cicilan 0% ∙ Kurir Instan. Beli BUKU ORI PEMETAAN KOMUNITAS SASTRA DI JAKARTA, BOGOR, TANGERANG di BUKU SENI. Diantara para pencetus dan penandatangan Manifes Kebudayaan ini di Jakarta adalah H.B. Jassin, Wiratmo Sukito, Goenawan Mohamad, dll. Sedangkan para manifestan di Kalimantan Selatan terdapat pula para sastrawan seperti Yustan Aziddin dan Rustam Effendi Karel. Maraknya komunitas sastra di tahun 1980-an dan 1990-an di Kalbar, khususnya di Setahusaya, belum ada seorang pun di Indonesia ini yang mendefinisikan istilah "sastra komunitas". Ketika saya terlibat dalam pemetaan komunitas sastra di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Jabotabek) yang dilakukan Komunitas Sastra Indonesia (KSI), istilah tersebut pun tak didefinisikan dalam hasil pemetaan itu. ASmenyatakan virus cacar monyet sebagai keadaan darurat. Saturday, 8 Muharram 1444 / 06 August 2022 q1ZA. › Sastra berperan krusial bagi komunitas-komunitas di daerah. Tapi, setiap komponen mempunyai masalah masing-masing yang perlu dibenahi. Salah satu yang terasa adalah peran negara sebagai maesenas yang belum maksimal. Oleh BUDI SUWARNA, ELSA EMIRIA LEBA, VINA OKTAVIA 4 menit baca NINO CITRA ANUGRAHANTORendra Agusta, Ketua Komunitas Sraddha, mengecek kondisi naskah kuno pada media lontar di Museum Radyapustaka, Kota Surakarta, Jawa Tengah, Rabu 29/12/2021. Preservasi naskah lontar menjadi salah satu kegiatan dari komunitas yang bergelut di bidang sastra Jawa itu. Selain itu, komunitas tersebut juga kerap melakukan perjalanan untuk meretas jarak sejarah yang terlupakan di sejumlah desa di lereng gunung-gunung di KOMPAS — Fenomena munculnya komunitas-komunitas sastra perlu disokong agar gerakan ini bisa terus menguat di masa mendatang. Caranya, antara lain, dengan ikut memperkuat ekosistem gerakan sastra, terutama di daerah-daerah, misalnya penerbitan lokal. Meskipun ekosistem sastra di negeri ini terbilang sehat, semestinya bisa lebih sehat Hasan Aspahani berpendapat, setiap komponen mempunyai masalah masing-masing yang perlu dibenahi. Salah satu yang terasa adalah peran negara sebagai maesenas yang belum maksimal, seperti terkait sistem royalti bagi penulis dan terbatasnya penerjemahan buku luar ke bahasa Indonesia. Penghargaan terhadap penulis dan karya sastra juga belum setara dengan penghargaan dalam olahraga. ”Saya pernah usul tiap tahun ada semacam pemilihan Poet Laureate. Di Amerika Serikat, Library of Congress mengangkat satu penyair sebagai duta sastra sepanjang tahun dan mengampanyekan sastra di kampus dan komunitas. Dari situ bisa kelihatan negara hadir,” kata Hasan di Jakarta, Senin 7/3/2022.Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta ini menambahkan, terbentuknya komunitas sastra bisa terjadi karena beberapa hal. Hali itu antara lain persamaan estetika atau ideologi; kesamaan latar belakang seperti ras/etnis; kehadiran media; atau dorongan maesenas. Ketika teknologi digital hadir, kemudahan yang ditawarkan makin membantu komunitas bertumbuh dan dunia digital ini, sastrawan Warih Wisatsana menilai pandemi melahirkan kesadaran realitas spiritual bahwa manusia bisa bertemu meskipun terjadi pembatasan sosial berkat teknologi. Lahirnya berbagai komunitas susastra di pelosok terbantu karena pertemuan bisa terjadi dengan biaya murah, seketika, dan serentak. ”Ini menjaga daya kreatif tiap wilayah,” katanya sembari menegaskan bahwa pemerintah daerah harus merawat komunitas itu, sastrawan Lampung, Ari Pahala Hutabarat, mengatakan, selama pandemi Covid-19, sastrawan di Lampung lebih banyak bertemu di ruang virtual. Berbagai acara diskusi tentang literasi dan sastra daerah tetap digelar secara daring. Sejumlah sastrawan juga melahirkan karya bertema pandemi Covid-19. Ia mencontohkan, sastrawan Isbedy Stiawan ZS menerbitkan buku berjudul Buku Tipis untuk Kematian pada Oktober YUDISTIRAUbud Writers and Readers Festival UWRF ke-14 di Ubud, Gianyar, Bali, resmi dimulai Rabu 25/10. Festival sastra dan seni, yang rutin digelar di Ubud setiap tahun sejak 2004, tahun ini menghadirkan sekitar 150 pembicara dari kalangan penulis, penyair, musisi, dan seniman dari Indonesia dan mancanegara. Dalam jumpa media di Ubud, Rabu, hadir pula pendiri dan Direktur UWRF Janet DeNeefe duduk, kedua dari kiri.Pegiat literasi Pustaka Bergerak, Nirwan Arsuka, mengatakan, untuk membantu memperkuat ekosistem sastra di era digital ini, Pustaka Bergerak sedang mengembangkan sebuah situs/aplikasi sastra dengan teknologi blockchain. Dengan demikian, para penulis di mana saja berada bisa memonetisasi karya-karya mereka. Direncanakan, situs/aplikasi tersebut akan dirilis pada setuju dengan itu. Baginya, sastra berperan krusial bagi komunitas-komunitas di daerah. Sastra turut menjadi kekuatan gerakan sosial. Di Mollo, Nusa Tenggara Timur, tutur Hasan, komunitas Lakoat. Kujawas membuat perpustakaan dan mengumpulkan warga desa untuk menulis tentang Mollo dan pangan Hasan mengingatkan, ekosistem sastra melibatkan sejumlah komponen, yakni sastrawan, masyarakat, penerbit, dan maesenas. Peran maesenas bisa diambil negara atau orang yang peduli, seperti saat kelahiran Balai Pustaka. Empat komponen ini harus sehat untuk mendukung gairah gerakan komunitas sastra di sastrawan harus menjaga semangat untuk melahirkan penulis-penulis baru. Pembaca juga perlu dibina lewat gerakan literasi. Selain itu, baik itu penerbit buku, media konvensional, maupun media daring perlu terus memberi ruang bagi karya sastra untuk terbit dan diapresiasi dengan layak. Terakhir, maesenas seperti negara atau orang kaya perlu memupuk kesadaran akan pentingnya sastra, misalnya dengan pendirian yayasan terkait.”Kalau semua komponen ini sehat, ekosistem sastra akan sehat,” kata penulis kelahiran Kalimantan Timur FATHONINirwan Ahmad Arsuka, pegiat literasi Pustaka Bergerak Jejaring dan kritikusNirwan Arsuka mengatakan, selama ini sebagian jaringan komunitas sastra di daerah, terutama di Sulawesi, banyak belajar di Yogyakarta dan Bandung yang secara kultural dianggap daerah yang bisa melahirkan wacana tanding atas narasi di Jakarta. Hingga kini sejumlah komunitas sastra di dua kota itu setia mendampingi komunitas-komunitas di daerah. Mereka mengajari mengedit buku, mendorong teman-teman untuk pulang, dan mengembangkan sastra di lainnya, bagaimana gerakan ini juga bisa merangsang lahirnya kritikus sastra. Kritikus tidak hanya dibutuhkan di daerah, tetapi juga di tingkat nasional. Sampai sekarang belum ada lagi kritikus sastra semacam HB Jassin yang tekun mendokumentasikan sastra dan menelaah. Penelaah sastra dibutuhkan agar sastra bisa dieksplorasi lebih juga lahir cara pandang atau kurikulum terhadap sastra. Sastra harus diperlakukan sama seperti memperlakukan teknologi mengingat sastra membangun peradaban yang Lampung, kata Ari Pahala, sejak satu dekade terakhir, budayawan dan sastrawan di Lampung mendorong pendirian fakultas ilmu budaya untuk menambah dukungan keilmuan bagi sastra. BSW/LSA/VIO EditorMOHAMMAD HILMI FAIQ Mencari perkumpulan komunitas di Jakarta merupakan hal yang tidak sulit, ada banyak komunitas menarik yang bisa anda temukan di Ibu Kota. Mulai dari komunitas sosial, seni, keagamaan, dan berbagai komunitas hobi lainnya. Bergabung dengan sebuah komunitas mampu memperluas jaringan dan mengisi waktu luang dengan kegiatan yang menyenangkan. Bertemu dengan sekumpulan orang dengan minat yang sama pastinya akan sangat menyenangkan. Ada berbagai komunitas dengan kegiatan menyenangkan dan bermanfaat yang bisa anda temukan di Jakarta sesuai dengan minat anda. Berikut beberapa komunitas di Jakarta yang bisa Anda pilih sesuai dengan minat. 1. Helovesus Board Game Cafe & Community Board game merupakan permainan papan semacam ular tangga, ludo, monopolly, dan masih banyak lagi variasi dari board game yang mungkin belum anda ketahui. Anda tertarik dengan dunia board game? Anda bisa datang ke Helovesus Board Game Cafe & Community yang berlokasi di Apartemen Green Bay. Komunitas yang berlokasi di cafe ini memiliki misi untuk menyatukan orang dengan board game. Mereka memiliki motto “Family Plays Together”. Sambil bermain board game, anda juga bisa menikmati menu makanan dan minuman sehat. Alamat Apartemen Green Bay Pluit Unit G/GF/FF/03, Jl. Pluit Karang Ayu Blok B1 Utara, Jakarta Utara Jam Buka Senin – Selasa – Kamis – Jumat – Sabtu – 2. Parkour Jakarta Bagi anda yang suka kegiatan outdoor dengan dinamisme tinggi, anda bisa mencoba olahraga parkour. Agar bisa belajar dengan instruksi dan metode yang benar, anda bisa bergabung dengan komunitas Parkour Jakarta. Parkour Jakarta dibentuk pada tahun 2017 oleh Ahmad Yunan sebagai ketua komunitas. Jangan khawatir jika Anda sama sekali tidak memiliki dasar parkour, akan ada kelas basic bagi siapapun yang baru bergabung. Kunci dalam olahraga parkour sendiri adalah jago berlari, melompat, dan memanjat. Kedepannya, Parkour Jakarta bisa memiliki taman parkour sendiri dengan halang rintang yang lebih sesuai dengan standar parkour. Namun, untuk saat ini anda bisa menemukan komunitas ini berlatih di Taman Puring. Lokasi Latihan Taman Puring, Jl. Kyai Maja, Kramat Pela, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan Hari/Jam Latihan Minggu, Mulai jam pagi Baca juga 9 Coworking Space di Jakarta Cocok untuk Startup hingga Mahasiswa 3. Komunitas Historia Indonesia Salah satu komunitas di Jakarta yang terbesar adalah Komunitas Historia Indonesia KHI. Bagi anda yang memiliki minat dengan dunia sejarah, komunitas ini bisa menjadi forum yang menyenangkan. KHI telah berdiri semenjak tahun 2003, dengan visi membangun nasionalisme dan patriotisme Indonesia. Komunitas ini menyadari pentingnya memahami dan kesadaran akan sejarah dan budaya. Namun, materi ini biasanya dianggap membosankan dan kuno. Oleh karena itu, KHI berusaha semaksimal mungkin membuat pelajaran sejarah menarik dengan kegiatan menghibur dan rekreasi. Alamat Jl. Mohamad Kahfi II, Mahakam Residence II Ciganjur Jagakarsa, Jakarta Selatan Baca juga 8 Spot Pilihan Wisata Malam Seru di Jakarta 4. Komunitas Film Pendek Jakarta Bagi Anda yang tertarik dengan proses pembuat film, Anda bisa bergabung dengan Komunitas Film Pendek Jakarta KFPJ. KFPJ telah berdiri semenjak tahun 2015, digalangi oleh tiga member pertama; Muchamad Rizky Adam, Kemal Faudi, dan Alvarozi. Melalui komunitas ini, Anda bisa belajar berbagai teknik dalam pembuatan film. Mulai dari menjadi sutradara, penulisan naskah, sinematografi, dan unsur lain dalam sebuah film. Komunitas ini juga telah memproduksi beberapa film pendek, diantaranya; Dear Diary, 108, Imaji, dan Vlogue. Jika ingin bergabung dengan KFPJ, anda bisa bertemu dengan mereka berkumpul di Taman Menteng setiap Minggu sore. 5. Komunitas Taman Suropati Chamber Berikutnya ada Komunitas Taman Suropati Chamber yang dikhususkan untuk penggemar alat musik biola, khususnya yang ingin belajar memainkan instrumen tersebut. Komunitas ini dibentuk oleh Agustinus Esthi Sugeng Dwiharso. Pada tahun 2006, beliau membuat sebuah workshop musik keroncong di Belanda. Melalui kesempatan tersebut, ia melihat banyak taman kota di Belanda yang menjadi tempat berkumpul komunitas musik. Dari situlah ide awal Agustinus mendirikan Taman Suropati Chamber. Lokasi ini dekat dengan bagi anda yang tinggal di Menteng Regency Apartemen. Dengan uang pendaftaran Rp dan iuran Rp anda akan diajari bermain biola secara profesional di lokasi terbuka yang lebih segar dan memberikan suasana baru. Tempat Latihan Taman Suropati, Menteng, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta Hari/Jam Latihan Minggu, – 6. Komunitas Longboard Car Free Day Jakarta Longboard merupakan salah satu jenis papan seluncur beroda dengan ukuran yang lebih panjang. Panjang papan bisa mencapai 80-150 sentimeter. Anda mungkin sudah sering melihat video viral longboard dengan gaya ekstrim maupun santai yang dibawakan oleh perempuan. Jika tertarik, Anda bisa belajar longboard dengan Komunitas Longboard Car Free Day Jakarta. Komunitas ini telah aktif mulai tahun 2016 dan sesuai namanya, komunitas ini kerap berlatih di car free day Jakarta. Untuk bergabung dengan komunitas di Jakarta satu ini, pastinya anda harus memiliki longboard terlebih dahulu. Lalu Anda bisa belajar dengan instruksi para member komunitas yang sudah lebih ahli. Tempat Latihan Di berbagai kawasan CFD Jakarta berganti-ganti setiap saat Hari/Jam Latihan Sabtu dan Minggu, – Baca juga 5 Tempat Nongkrong di Jakarta Pusat yang Lagi Hits 7. Komunitas Salihara Art Centre Untuk tempat nongkrong komunitas seni all in one di Jakarta, anda bisa berkunjung ke Komunitas Salihara Art Centre. Lokasi yang telah berdiri selama 10 tahun ini seringkali menjadi lokasi pertunjukan seni teater, tari, konser musik, pemutaran film, hingga pembacaan sastra. Anda bisa bertemu secara langsung dengan komunitas tertentu dan bergabung dengan mereka. Anda juga bisa datang hanya sekedar sebagai penikmat seni di waktu luang anda. Cukup dekat bagi anda yang tinggal di Apartemen Pejaten Park Residence. Lokasi ini juga dilengkapi dengan lokasi kuliner. Anda bisa menikmati kopi hingga jamu, serta berbagai pilihan makanan jalanan seperti nasi goreng, bakso, dan lain-lain. Alamat Jl. Salihara Ps. Minggu, Jakarta Selatan Itu tadi berbagai pilihan komunitas yang bisa anda temukan di Jakarta. Bergabung dengan komunitas bisa menjadi kegiatan positif untuk mengisi waktu luang sambil memperluas pertemanan. Terdapat banyak lokasi komunitas yang berdekatan dengan apartemen di Jakarta. Untuk berbagai informasi seputar apartemen di Jakarta, anda bisa mengunjungi Tersedia berbagai informasi mulai dari harga, ketersediaan kamar, dan penawaran harga terbaik. Penulis & Editor Bernadetta Yucki & Prajodi Daris Andaru Lihat juga apartemen mewah di kota-kota besar lainnya Apartemen di Jakarta Apartemen di Jakarta Selatan Apartemen di Tangerang Apartemen di Bekasi Apartemen di Bogor Apartemen di Depok Apartemen di Surabaya Skip to content Tentang DKJPengurus HarianKomiteKontak OPEN CALL JAKARTA INTERNATIONAL LITERARY FESTIVAL 2022 JAKARTA INTERNATIONAL LITERARY FESTIVAL JILF 2022 KOMITE SASTRA – DEWAN KESENIAN JAKARTA Our City in Their World Citizenship, Urbanism, Globalism Kota Kami di Dunia Mereka Kewargaan, Urbanisme, Globalisme Pengantar Istilah kota dalam bahasa Indonesia selalu dibayang-bayangi kegandaan makna yang bisa merepotkan. Kota menjadi padanan bahasa Indonesia baik bagi kata city maupun town dalam bahasa Inggris, yang masing-masingnya memiliki cakupan makna berbeda. Kota dalam artian city adalah kota yang dengan ambisius hendak mengantar dirinya menjadi bagian dari dunia yang global, dan acapkali angan-angan ini hendak diwujudkan, bila perlu, dengan meninggalkan segala kelokalannya agar menjadi serupa dan seragam dengan kota-kota dunia lainnya. Sementara itu, kota dalam artian town adalah sebuah komunitas yang masih dipersatukan oleh kontiguitas kedekatan dan dihidupi oleh tradisi berkomunitas sehingga tidak pernah menjadi kota yang terkotak-kotak secara sosial, ekonomi, dan kultural seperti halnya city. Di dalam proses transformasi sebuah kota yang hendak mengglobal, ancaman paling serius bukanlah berasal dari ekspansi teritori kota ke kawasan-kawasan di pinggirannya, atau dari menjamurnya pembangunan infrastruktur megah dan baru, dan bukan pula dari arus mobilitas manusia dari tempat-tempat lain ke kota tersebut. Krisis terbesar yang bisa ditimbulkan oleh globalisasi kota-kota adalah hilangnya hak-hak kewargaan yang semula dimiliki secara melekat oleh mereka yang berdiam di tempat yang tengah dilanda perubahan itu. Jika hal itu dibiarkan terjadi, pergerakan kota-kota menjadi milik dunia’ dengan kultur urbanismenya yang homogen dan elitis akan menghasilkan kolonisasi kota-kota oleh segelintir orang dengan akses besar ke kekuasaan dan kapital. Kota menjadi wilayah pendudukan di mana warga kota justru menjadi kaum yang tertindas terusir, terabaikan, terlupakan. Kalaupun mereka diizinkan bertahan hidup di kota, itu karena mereka masih berfungsi sebagai komponen penunjang kehidupan kota yang bukan lagi milik mereka sebagai penjaja makanan di pinggir jalan, penyapu jalanan, pengepul sampah, penjaga parkir dan keamanan, ataupun pramusaji rumah-rumah makan. Kehadiran mereka tak dikehendaki, tetapi mereka dibutuhkan agar nadi kota tetap berdenyut, sejauh mereka tidak muncul secara mencolok dan mengganggu keindahan, kenyamanan, dan keteraturan kota. Mereka ada demi agar para urbanis dan kultur urbanismenya yang mahal tapi banal dapat terus berlangsung. Dunia baru yang asing itu kini mengeksploitasi mereka, sementara dulu tempat itu adalah sumber kehidupan mereka. Adakah sastra menangkap dan bergulat dengan krisis eksistensial kewargaan ini, di samping mencurahkan kegelisahannya atas berbagai perubahan fisik dan sosial yang terjadi pada kota ketika bertransformasi menjadi bagian dari dunia global? Bagaimana berbagai komunitas sastra dan gerakan sastra, khususnya yang secara langsung berhadapan dengan ancaman terhadap kewargaan ini, merespon proses-proses urbanisme dan globalisme yang menggerus kehidupan di kota-kota? Masihkah ada harapan, optimisme, serta gagasan-gagasan kritis dan inovatif yang tumbuh dari pergumulan nyata dengan transformasi kota dan mampu membuka jalan untuk merebut kembali kewargaan yang terampas? Adakah cara untuk mendamaikan hasrat untuk mempertahankan kota sebagai rumah kita di satu sisi dan kota sebagai milik dunia di sisi lain? Tujuan Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta menggunakan ajang Jakarta International Literary Festival JILF pada 2022 ini berkehendak untuk mencari dan mendengar suara-suara para penyintas transformasi kota di tengah belantara perubahan. Akan tetapi, tak kalah penting adalah menjadikan JILF 2022 sebagai sarana penggalangan solidaritas di antara para pegiat, pengabdi, dan pemerhati sastra di dalam latar dan konteks urban untuk bersama-sama menghadapi berbagai persoalan menyangkut krisis kewargaan kota ini melalui alternatif – alternatif yang segar sekaligus kritis agar celah-celah terobosan dapat mulai digali. Untuk itu, Panitia JILF 2022 mengundang komunitas-komunitas pegiat, pelaku, dan pemikir sastra yang memiliki perhatian serta keterlibatan khusus dengan isu-isu kewargaan dan perkotaan untuk menciptakan dan menyumbangkan pemikiran kreatif, rancangan konseptual, atau model pengembangan alternatif dalam bentuk proposal eksibisi, workshop, panel atau karya kreatif untuk mengirimkan proposal dengan cakupan area sebagai berikut Transformasi kota yang mengintegrasikan kewargaan, lingkungan, dan infrastruktur sebagai satu kesatuan pemikiran untuk pengembangan kehidupan kota ke depan; Pemeliharaan konservasi, penggalian “lumbung-lumbung budaya” yang laten atau potensial untuk membangun ketangguhan warga dalam menghadapi perubahan, sustainability kota yang ramah pada kehidupan; Isu-isu urban dan global seperti urbanisasi, gentrifikasi, neoliberalisasi kota, alih fungsi lahan, ketercerabutan warga displacement, teknologisasi kota, mobilitas lintasbatas, kemiskinan kota, ketidaksetaraan sosial dan ketimpangan ekonomi, materialisme; Imajinasi kota, warga, dan dunia dari wilayah periferi dan perspektif yang berjarak dari kawasan perkotaan sebagai sumbangan peluang dan kemungkinan baru bagi pengembangan kota-kota global yang berbasis kewargaan; Isu, pendekatan, proyek, eksplorasi, dan bentuk aktivitas lain yang berkaitan langsung dengan persoalan kewargaan, urbanisme, dan globalisme. Bentuk Kegiatan Bentuk kegiatan yang diusulkan dapat berupa penciptaan dan resitasi karya, pameran karya, workshop/bengkel kreatif, panel pemikiran kolaboratif, dan bentuk-bentuk kreatif lain yang relevan dan tepat sasaran. Penggagas diberi slot waktu khusus untuk memperkenalkan dan menyampaikan hasil karyanya sepanjang maksimum 3 tiga jam, dengan semangat partisipatoris atau interaktif. Format Usulan Proposal yang diajukan hendaknya berisi unsur-unsur sebagai berikut Isu atau problem konkrit yang melatarbelakangi dibuatnya usulan, Paparan bentuk kegiatan yang diajukan untuk menjawab isu atau problem dapat melibatkan sarana multimedia dan teknologi informasi dan digital, Personil yang terlibat nama komunitas, koordinator, jumlah personil, resume, dll., Linimasa kegiatan dari preproposal hingga pascafestival, jika ada, Anggaran yang dapat diajukan adalah maksimal – lima puluh juta rupiah, Uraian tentang cara atau pengukuran dampak dari kegiatan apabila ada tindak lanjut untuk implementasi dalam komunitas atau masyarakat, Lokasi tempat kegiatan berpusat atau dilaksanakan, dan Mengisi tautan pendaftaran Open Call JILF di dan mengunggah dokumen penunjang. Persyaratan Peserta Peserta yang dapat mengajukan proposal adalah yang memenuhi persyaratan sebagai berikut Warga Negara Indonesia yang berdomisili di dalam atau di luar wilayah negara Republik Indonesia, Menjadi bagian dari suatu komunitas sastra/seni/budaya sebagai pendiri/pengurus/anggota, Memiliki rekam jejak kepedulian dan keterlibatan dalam hal-ihwal yang bersangkutan dengan isu-isu sastra, seni, budaya dan/atau perkotaan dan/atau globalisasi, Pengusul dapat berkolaborasi baik dengan mitra domestik maupun dengan mitra asing atau internasional yang tidak berpusat di Indonesia, Ketersediaan dana pendamping dari mitra adalah sebuah nilai tambah bagi proposal, Bersedia menerima masukan untuk revisi proposal dari Panitia apabila proposal diterima, dan Bersedia tampil sebagai pengisi program dalam pelaksanaan JILF 2022 pada 22 – 26 Oktober 2022 di Jakarta. Periode Pengajuan Batas waktu pengajuan proposal lengkap adalah 15 Juli 2022 tengah malam. Proposal dikirimkan secara elektronik melalui Google Form pada tautan bersama dengan data lainnya. About the Author DKJ Dewan Kesenian Jakarta DKJ adalah lembaga otonom yang dibentuk oleh masyarakat seniman dan untuk pertama kali dikukuhkan oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, pada 7 Juni 1968. DKJ bertugas sebagai mitra kerja gubernur untuk merumuskan kebijakan serta merencanakan berbagai program guna mendukung kegiatan dan pengembangan kehidupan kesenian di wilayah Jakarta. Related Posts JAKARTA Waspada Karya sastra di tengah komunitas, ternyata mampu berkontribusi menciptakan kesejahteraan bagi komunitas sastra maupun anggota secara personal. Artinya, secara perekonomian nasional, karya sastra mampu menyumbang, paling tidak, penciptaan lapangan kerja di bidang seni dan sastra melalui industri kreatif. Hal itu menjadi salah satu bahan pengamatan menarik yang dilakukan Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, di tahun ini. Penelitian dilakukan di Kota Surakarta dan Kabupaten Semarang dengan fokus pada keberadaan komunitas sastra Indonesia dalam rangka mempertahankan kelangsungannya dengan mengarahkan perubahan ke bidang industri kreatif. Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah, Ganjar, Senin 25/10 mengatakan, penelitian ini mempunyai tujuan mengungkap keberadaan komunitas sastra di Jawa Tengah yang mengarahkan kerja sastra ke industri kreatif sebagai alternatif penciptaan nilai ekonomi karya sastra sehingga mampu menghidupi komunitas bahkan personalnya. Di samping itu, strategi apa yang digunakan komunitas sastra dalam industri kreatif dapat diketahui. “Selain mengungkap pertanyaan-pertanyaan mendasar tersebut, dapat juga terungkap persoalan-persoalan yang lainnya, seperti model pendampingan dan sebagainya,” imbuh Ganjar. Kegiatan ini berupa penelitian lapangan. Data yang diambil merupakan komunitas sastra dan industri kreatif yang terdapat dua daerah di Kabupatem Semarang dan Kota Surakarta. Tim peneliti mendatangi komunitas-komunitas sastra yang berada di Kota Surakarta yang mengarah ke industri kreatif dan berpotensi ke arah industri kreatif. Tim melakukan wawancara mendalam terhadap komunitas sastra untuk mengetahui arah industri kreatifnya. Dalam wawancara, tim dengan komunitas sastra, tim juga mengamati lingkungan sekitar komuitas sastra berada. Maksud dari mengamati lingkungan ini, tim berharap mendapat juga gambaran nyata komunitas sastra dalam mempertahankan eksistensi komunitas. Bagaimana sarana dan prasarana yang dimiliki komunitas, kekurangan sarana dan prasarana apa selama ini, strategi apa yang digunakan, industri kreatif apa yang dikembangkan, dan sebagainya dapat terekam sepenuhnya sehingga dapat membuka jalan untuk mengetahui strategi apa yang digunakan komunitas dalam menutup kekurangan tersebut. Di samping wawancara dengan komunitas sastra, ada juga opini kepada sastrawan dan instansi terkait untuk mengetahui pandangan tentang komunitas dan industri kreatif. Hasil wawancara dengan pihak lain ini kemudian dikolaborasikan dengan strategi komunitas dalam industri kreatifnya. Pandangan sastrawan dan instansi terkait umumnya, positif, dalam artian komunitas mampu mempertahankan karya mereka dengan masuk ke dalam industri kreatif tanpa kehilangan jati dirinya. “Dan juga, mereka memandang mampu memberi nilai ekonomi pada karya sastra mereka,” imbuh Ganjar. Ada beberapa komunitas di Surakarta dan Kabupaten Semarang yang melakukan terobosan dengan industri kreatif yang mereka tawarkan kepada masayarakat. Dalam penelitian ini, industri kreatif yang dikembangkan komunitas sastra, antara lain bidang penerbitan, seni pertunjukan, dan film. Bidang penerbitan melakukan pengembangan konten dengan mewujudkan dalam bentuk buku, jurnal, majalah, dan sebagainya, seperti yang dilakukan oleh komunitas Pawon di Surakarta. Bidang seni pertunjukkan dengan mengembangkan konten temabng macapat diangkat dalam dunia pertunjukkan, hal ini patut diberi apresiasi mengingat tidak mudah mengangkat nilai-nilai budaya Jawa yang terkandung dalam tembang macapat kemudian dipertunjukkan kepada masyarakat. Dari hanya tembang-tembang Jawa menjadi sebuah pertunjukan drama, dan dipanggungkan ke pelosok desa-desa dengan tata dekorasi teater walau masih tampak sederhana, seperti yang dilakukan Teater Hening Kabupaten Semarang. Bidang film melakukan pengembangan konten dengan mengangkat cerita-cerita rakyat daerah dan melakukan pemutaran film di desa-desa pelosok. Selain menghibur, konten yang diangkat juga memberi edukasi kepada masyarakat. Hal ini dilakukan oleh komunitas sastra kembanggulo. Dari beberapa bidang industri kreatif, ditemukan pola-pola strategi yang dipengaruhi oleh kemajuan kota terkait teknologi, di Surakarta menggunakan teknologi modern yang menghasilkan industri kreatif yang berciri modern penerbitan dan percetakan dan film, di Kabupaten Semarang menggunakan pola tradisional dengan kekuatan tokoh dalam pertunjukkan. Penelusuran komunitas-komunitas sastra yang tim lakukan di masa pandemi Covid-19 menjadi kendala dan tantangan tersendiri yang tim hadapi. Dengan segala keterbatasan waktu dan dana, tim menuju daerah yang notabene daerah pandemi. Tim hanya mampu mengunjungi komunitas sastra yang sudah dikenal saja untuk menjaga kesehatan covid-19 dan keefisienan waktu. Komunitas-komunitas sastra yang lain belum sempat tim kunjungi akibat covid-19. “Penelitian ini idealnya berkelanjutan, apalagi tahun ini bidang kesehatan tidak memungkinkan, tahun depan masih dibutuhkan penelitian lagi. Karena, memang sangat penting bagi pengembanagn komunitas sastra sendiri dan pemerintah dalam menentukan kebijakan terhadap ekonomi kreatif di bidang sastra,” tandas Ganjar. J02

komunitas sastra di jakarta